Presiden dan Tokoh Agama Berkomitmen Membawa Kebaikan Bangsa

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono--foto rusman--presidensby.info

Jakarta: Pertemuan antara pemerintah yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan para tokoh lintas agama penuh suasana keterbukaan. Banyak substansi disampaikan. Pertemuan ini baru tahap awal, dan semua memiliki komitmen sama untuk membawa kebaikan bangsa ke depan.

Menko Polhukam Djoko Suyanto mengatakan hal ini dalam keterangan pers, usai dialog antara Presiden SBY dan sejumlah menteri dengan tokoh lintas agama, di Istana Negara, Selasa (18/1) dini hari. Dialog berlangsung empat jam lebih.

“Baik Presiden maupun dari kalangan tokoh-tokoh lintas agama sama-sama berpandangan bahwa malam ini kita berbicara dalam suasana yang amat terbuka,” kata Djoko.

Para tokoh agama, ujar Djoko, berbicara secara terbuka tanpa dibatasi waktu. Itulah sebabnya dialog berlangsung hampir empat jam.

“Sangat terbuka, bebas dan tidak dibatasi oleh waktu maupun substansi. Jadi substansi apapun mengalir begitu saja, tergantung dari apa yang ingin disampaikan para tokoh yang hadir pada malam hari ini” Djoko menjelaskan suasana dialog. Tidak semua tokoh agama menyampaikan pendapatnya karena beberapa substansi sudah disampaikan oleh tokoh sebelumnya.

Menurut Menko Polhukam, semua sepakat bahwa pertemuan ini baru tahap awal, pertemuan pembuka.

“Namun kita semua sepakat bahwa pertemuan awal ini adalah suatu komitmen bersama untuk membawa kebaikan bangsa ke depan, membawa bangsa ini menjadi ketingkat yang lebih baik,” Djoko Suyanto menambahkan.

Pemerintah, lanjut Djoko, merespon dengan baik pandangan-pandangan kritis para tokoh lintas agama. Sebagian besar yang mereka sampaikan juga menjadi menjadi perhatian pemerintah.

“Pemerintah juga memberikan penjelasan-penjelasan atas apa-apa yang telah disampaikan oleh tokoh-tokoh masyarakat tersebut,” kata Djoko.

Memang ada hal-hal yang memerlukan pendalaman pemahaman lebih lanjut pada pertemuan-pertemuan berikutnya. Terdapat persamaan dan perbedaan dalam melihat suatu isu. Perbedaan ini terjadi karena ukuran yang berbeda.

“Hal itu bagus dalam suasana yang demokratis,” ujar Djoko.

Mengingat pentingnya komunikasi antara pemerintah dan elemen masyarakat seperti ini, disepakati untuk mengadakan pertemuan lebih lanjut dengan pembahasan yang lebih substansial. Mungkin tidak dalam skala yang besar, dengan Presiden dan Wakil Presiden. Tapi dengan substansi-substansi khusus.

“Pemerintah membuka dengan lebar untuk dialog tersebut,” Menko Polhukam menegaskan.

Ketika memberi keterangan pers ini, Djoko Suyanto didampingi Menko Perekonomian Hatta Rajasa. Sedangkan tokoh lintas agama diwakili oleh Pendeta Situmorang dan Irwan Syam, Sekjen Majelis Ulama Indonesia.

Dialog dari Hati ke Hati

Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Wakil Presiden Boediono dan sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu II mengatakan, dialog dengan para tokoh lintas agama merupakan dialog dari hati ke hati antara pemerintah dan para tokoh agama.

“Prakarsa pertemuan malam hari ini dimulai dari sms yang saya terima dari Pak Din Syamsuddin (Ketua Umum PP Muhammadiyah). Beliau menginginkan suatu dialog dan pertemuan dari hati kehati, saya terima pada tanggal 14 Januari ketika saya berada di Surabaya. Sms beliau saya terima dengan positif,” Presiden SBY menjelaskan.

Presiden dan jajaran pemerintah sesungguhnya ingin dapat berkomunikasi secara langsung dengan para tokoh agama. Kebetulan Din dalam sms-nya menyarankan pertemuan tersebut.

“Apa yang disarankan Pak Din Syamsuddin tepat. Salah satu manfaat dari dialog dan komunikasi adalah untuk mengurangi mispersepsi. Oleh karena itu saya bersyukur dan berterima kasih atas kehadiran para tokoh lintas agama pada malam hari ini, dan semoga budaya saling mendengar di antara kita makin tumbuh dengan baik,” Presiden SBY menambahkan.

Intensitas komunikasi dan dialog antara pemuka agama dan pemerintah, lanjut Kepala Negara, memang perlu ditingkatkan.

Presiden berharap pertemuan malam ini membawa berkah dan manfaat bagi kemajuan kehidupan bangsa.

“Marilah pertemuan malam hari ini kita jadikan pertemuan sesama anak bangsa yang sama-sama bertanggung jawab terhadap masa depan negeri ini, dan mari kita laksanakan silaturahim ini dalam suasana yang konstruktif. Saya ulangi lagi, saling menerima dan saling memberi,” SBY menyampaikan harapannya.

“Komitmen kita sama, kita ingin bangsa kita makin maju dan makin sejahtera, dan itulah sebabnya kita semua terus membangun diri,” ujar SBY.

Presiden memahami bahwa para tokoh agama mengemban misi untuk membimbing umat masing-masing seraya terus memberi dan menjadi contoh untuk memberikan yang terbaik kepada bangsa dan negara.

“Saya memahami peran itu telah bapak ibu laksanakan,” kata SBY.

Sedangkan Presiden beserta Wapres Boediono dan pemerintah yang dipimpinnya, sesuai mandat yang diberikan rakyat bekerja sekuat tenaga untuk menjalankan tugas-tugas pemerintahan umum, maupun tugas-tugas pembangunan.

“Dalam konteks itu semua kita mengetahui bahwa tidak pernah ada jalan yang mudah untuk mencapai tujuan yang besar dan mulia, tetapi kita tetap gigih berikhtiar untuk memajukan bangsa dan negara kita,” Presiden SBY menuturkan.

Presiden mengakhiri sambutannya dengan mempersilakan para tokoh lintas agama untuk menyampaikan pandangannya, yang dimulai dari Din Syamsuddin.

Dalam pertemuan ini, Presiden didampingi Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menko Kesra Agung Laksono, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Agama Suryadharma Ali, dan Mendiknas M. Nuh. Sedangkan tokoh lintas agama yang juga hadir, antara lain, Sekjen PBNU Marsudi, Ketua Konfensi Wali Gereja Indonesia D. Situmorang, Ketua PGI Andreas Yewangoe, dan Ketua Perwalian Budha Indonesia Siti Hartati Murdaya. (presidensby.info/dik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*