Jadikan Situs Sangiran Sebagai Tempat Kajian dan Wisata Sejarah Dunia

Fosil gajah purba di Museum Sangiran (iftfishingcom)

Sragen, Jateng: Situs manusia purba Sangiran menunjukkan peradaban bangsa Indonesia sudah berumur jutaan tahun. Situs ini perlu dikembangkan lagi untuk mencari korelasi dengan sejarah peradaban dunia lainnya, dan menjadikannya tempat wisata sejarah yang mendunia.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan hal ini ketika mengunjungi Museum Manusia Purba Sangiran, di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Kamis (16/2) pukul 14.00 WIB. “Pasti ada korelasi apa yang ada di Indonesia dan situs negara lain,” kata Presiden di depan museum.

Jika ada korelasi antara manusia purba dan sejarahnya yang ada di Sangiran dengan situs serupa di negara lain, lanjut Presiden, tempat ini akan banyak di kunjungi wisatawan asing dan mereka akan suka. “Siapapun yang berkunjung nanti akan merasa bangga dan ada yang bisa diceritakan kepada dunia bahwa negeri kita juga mempunyai peradaban beberapa juta tahun yang lalu,” SBY menambahkan.

Sangiran telah ditetapkan sebagai Warisan Dunia Nomor 593 oleh Komite World Heritage pada Desember 1996. Situs ini berada di dalam kawasan Kubah Sangiran. Kubah tersebut terletak di Depresi Solo, di kaki Gunung Lawu, sekitar 17 km dari Kota Solo. Luasnya 56 km2, yang meliputi tiga kecamatan di Kabupaten Sragen, yaitu Kecamatan Gemolong, Kalijambe, dan Plupuh, serta satu kecamatan di Kabupaten Karanganyar, yaitu Kecamatan Gondangrejo. Sangiran dilewati oleh sungai yang sangat indah, yaitu Kali Cemoro yang bermuara di Bengawan Solo.

Mengingat pentingnya situs ini, Presiden meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tidak tanggung-tanggung membangun situs ini karena anggaran kementerian cukup besar. “Tata kembali. Kalau ingin diabadikan sebagai pusat kajian sejarah, membangunnya jangan tanggung-tanggung supaya banyak wisatawan yang datang ke Sangiran ini,” SBY mengingatkan.

Sebelumnya, Mendikbud Muhammad Nuh menjelaskan, ada lima hal menarik dari situs manusia purba Sangiran ini. Pertama, situs ini merupakan salah satu situs manusia purba yang berusia dua juta tahun lalu. Kedua, memiliki koleksi lebih dari 80 individu manusia purba Takson Homo Erectus antara 1,5-0,4 juta tahun lalu yang menggambarkan sejarah evolusi manusia selama lebih dari satu juta tahun.

Ketiga, sebagai pusat evaluasi fauna lebih dari dua juta tahun. Keempat, sebagai pusat evaluasi budaya yang ditandai dengan alat-alat batu Sangiran flake industry selama 1,2 juta tahun. Kelima, dalam endapan-endapan purba Sangiran saat ini, masih banyak terpendam fosil manusia, binatang, dan juga alat-alat batu sebagai sumber informasi kehidupan masa lalu.

Di situs Sangiran ini terdapat tiga 3 jenis koleksi. Pertama, koleksi manusia purba yang terdiri dari homo sapiens (150 ribu tahun lalu-sekarang) dan homo erectus (1,5 juta tahun lalu). Kedua, koleksi binatang purba (Gajah Sangiran), dan ketiga yaitu koleksi budaya berupa batu-batuan.

Situs Manusi Purba Sangiran nantinya diharapkan memiliki tiga peran di dunia. Pertama, sebagai salah satu pusat evolusi manusia dan peradaban terpenting di dunia. Kedua, sebagai pusat kajian evolusi manusia purba Sangiran dan sekaligus sebagai rujukan situs terbesar di Asia. Dan ketiga, sebagai tujuan wisata edukasi berkaitan dengan evaluasi manusia, budaya, dan lingkungan.

Di dalam situs ini, juga terdapat ancient river yang mengandung banyak fosil berharga dengan ukuran 3x3x1,5 meter kubik. Situs ini juga akan dikembangkan menjadi empat klaster. Pertama, klaster Krikilan sebagai apresiasi sejarah peradaban manusia (2002-2012). Kedua, klaster Ngebung sebagai apresiasi sejarah penemuan fosil situs Sangiran (2013). Ketiga, klaster Bukuran (2013), sebagai apresiasi akumulasi informasi temuan fosil situs Sangiran (History of Java Men), dan keempat klaster Dayu sebagai apresiasi ekskavasi fosil situs Sangiran dan penelitian mutakhir (2012)

Menurut M. Nuh, pada awalnya pengembangan situs yang baru selesai tahun 2002 ini direncanakan akan selesai pada 2015. Namun, diusahakan secara keseluruhan dapat selesai pada 2013. “Semua klaster ini tadinya akan selesai pada 2015, namun setelah dikaji ulang empat fase ini diharapkan sudah selesai tahun 2013,” kata M. Nuh.

Usai mendengarkan paparan SBY meninjau secara berturut-turut objek evaluasi Gajah Sangiran, manusia purba, dan budaya.

Mendampingi Presiden dalam peninjauan ini, antara lain, Menko Polhukam Djoko Suyanto, Mensesneg Sudi Silalahi, Menpar dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu, Mentan Suswono, Menpora Andi Alifian Malarangeng, dan Seskab Dipo Alam. (presideninfo/dik)

 

Tinggalkan Pesan

Alamat Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kotak yang wajib diisi *

*
*