Ukuran Partai Menang Pemilu: Kursi dan Suara Terbanyak

Ketua Umum DPP-PD Anas Urbaningrum ketika menjadi pembicara dalam Pelatihan Komunikasi Publik yang diselenggarakan DPP Partai Demokrat, hari kedua, di Palace Hotel, Cipanas, Senin , 16 April 2012. (foto: Iwan K)

Cipanas: Tolak ukur apakah sebuah partaI  memenangkan Pemilu atau tidak sangatlah sederhana. Partai yang menang  Pemilu adalah  partai yang jumlah kursi dan suaranya terbanyak.

Kalimat sederhana tetapi menuntut perjuangan luar biasa itulah yang dinyatakan Ketua Umum DPP-PD Anas Urbaningrum ketika menjadi pembicara dalam Demokrat Party Course of Public Relation atau Pelatihan Komunikasi Publik yang diselenggarakan DPP Partai Demokrat, hari kedua, di  Palace Hotel, Cipanas, Senin , 16 April 2012. Pelatihan Komunikasi Publik tersebut dihadiri seratusan kader dari FPD-DPR, DPP-PD, dan pimpinan DPD-PD.

Anas mengingatkan,  pada tahun 2009, PD berhasil menjadi juara pertama dengan 20,08 persen suara yang kemudian dikonversi jadi 26,7 persen kursi di DPR-RI.  Prestasi lainnya, ada 12 caleg PD yang meraih suara di atas 100 ribu pada Pileg 2009.

Anas juga menyampaikan, saat ini masyarakat terlihat sangat antusias  memilih orang. Total suara sah yang memilih nama calon adalah 28 juta suara. Artinya, sistem proporsional terbuka murni yang masih ditetapkan pada Pemilu 2014 harus disikapi baik-baik.  Apalagi PD mendukung aturan itu pada UU Pemilu yang baru ditetapkan.

Sisi lain yang disoroti Anas terkait  sistem proporsional terbuka, faktor  calon legislatif sangat penting. Apalagi terungkap perolehan suara calon terpilih mencapai rata-rata 50 ribuan. Sebuah angka  yang sangat besar.

Anas pun meminta   kader PD memperhatikan para pemilih muda dan pemula. Berdasarkan piramida penduduk di Indonesia  (2010), struktur pemilih kita makin muda. Remaja yang sekarang berusia 15 tahun akan jadi pemilih pemula. Berdasar psikoanalisis, para remaja adalah masa mengambang yang mudah terpengaruh. Apalagi angkatan atau kohor atau generasi  kelahiran 1993-1997 ini tidak sepenuhnya memahami  sejarah perpolitikan di tanah air. Generasi ini gampang sekali dibentuk opini dikembangkan (yang menjurus pada oligarki opini).

Segmen lain yang harus diseriusi adalah kelas menengah. Anas tidak  ingin membahas, apakah kelas menengah ada  di perpolitikan bukan hanya di perekonomian?  Yang pasti munculnya kelas menengah (di perekonomian) pasti mempengaruhi pemilih.

Terkait survei, Anas minta kader PD tetap optimis. Meskipun jumlah suara PD susut karena gelombang badai opini, tetapi ternyata mayoritas partai lain juga susut suaranya. Padahal partai-partai itu tidak diserang “badai opini”.  Apalagi waktu masih cukup bagi kader PD menyusun kekuatan memenangkan Pemilu 2014.

Saat ini PD sebagai partai utama pendukung Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tentulah  identik dengan Pemerintah. Jika Pemerintahan SBY berhasil itu juga merupakan keberhasilan PD.  Karenanya seluruh kader PD harus memaksimalkan keberhasilan Pemerintah. (didik)

Tinggalkan Pesan

Alamat Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kotak yang wajib diisi *

*
*