Pemerintah AS Apresiasi Peran Indonesia pada Konflik Laut Cina Selatan

Presiden SBY menyambut Menlu AS Hillary Clinton di halaman depan Kantor Presiden, Selasa (4/9) pagi. (foto: rusman/presidensby.info)

Jakarta: Selain membahas beberapa masalah yang menjadi kepentingan bersama kedua negara, pada pertemuan antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Menlu Amerika Serikat Hillary Clinton di Kantor Presiden, Selasa (3/9) pagi, juga membahas perkembangan isu-isu global.

“Dalam pertemuan dibicarakan tentang kondisi terakhir di Laut Cina Selatan, khususnya apresiasi dari pemerintah Amerika Serikat atas peranan Indonesia dalam mengelola masalah ini. Apresiasi untuk mempertahankan keutuhan ASEAN, mendorong adanya pencapaian code-of-conduct dan penekanan agar masalah ini dapat dikelola dengan baik, terutama menjelang penyelenggaraan KTT Asia Timur di Pnom Phen pada bulan November mendatang,” ujar Menlu Marty Natalegawa pada keterangan persnya.

Menlu Clinton juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden SBY terhadap peranannya dalam memastikan kemajuan proses demokrasi dan reformasi di Myanmar. “Keduanya membahas kondisi terakhir di Myanmar, termasuk misalnya penanganan masalah Rohingya, dan di sini kembali sekali lagi Amerika Serikat menyampaikan apresiasi atas posisi Indonesia yang sangat terukur dan betul-betul menampilkan kepedulian berdasarkan fakta yang berkembang di lapangan,” terangnya.

Disamping itu dibahas perkembangan di Suriah. “Menlu Clinton mengetahui dan mengikuti sikap Indonesia yang konsisten, yang menekankan perlu segera diakhirinya konflik di Suriah, yang telah mengambil korban yang besar di kalangan masyarakat sipil yang tidak berdosa. Dan tentu dalam kaitan ini, Bapak Presiden kembali menekankan antara lain, betapa pentingnya kesatuan pandangan dari Dewan Keamanan PBB untuk bisa memastikan dicapainya perdamaian atau diakhirinya konflik di Suriah,” kata Marty.

“Menlu Clinton menyampaikan keprihatinan bahwa situasi di Suriah bisa terus berkembang sedemikian rupa sehingga menciptakan ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah pada umumnya,” lanjut Marty.

Presiden SBY dan Menlu Clinton juga membahas mengenai Iran. “Di sini tentu yang dimaksud adalah penegasan bahwa penggunaan energi nuklir untuk maksud-maksud damai, termasuk oleh Iran, adalah sesuatu yang perlu dihargai dan dihormati. Namun di lain pihak, Iran seperti halnya negara-negara lain, perlu mematuhi segala kewajibannya yang menyangkut non-proliferasi senjata nuklir,” tegasnya.

“Kemudian dibahas perkembangan di Semenanjung Korea. Menlu Clinton menanyakan pandangan Presiden SBY tentang perkembangan di Korea Utara, dan kemungkinan perubahan di negara tersebut. Kedua pihak kemudian bertukar pandangan mengenai perkembangan di Korea Utara tersebut,” terang Marty. (presidenri/dik)

Tinggalkan Pesan

Alamat Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kotak yang wajib diisi *

*
*