Membaca Peluang Kemenangan Partai Demokrat di Pemilu 2014

MUHAMMAD RIFAI DARUS, SH

Sekretaris DPD-PD Papua/Caleg DPR-RI Dapil Papua Muhammad Rifai Darus SH (websitekpu)

Oleh: Muhammad Rifai Darus, SH*) 

Di pentas kompetisi apa pun, tidak mudah mempertahankan gelar juara lebih dari dua kali. Begitupun bagi Partai Demokrat yang menjadi pemenang Pemilu pada 2004 (memenangkan pilpres dan masuk lima besar pileg) serta 2009 (memenangkan pilpres dan peringkat pertama pileg).

Sedikitnya ada dua faktor yang mempengaruhi predikat juara tak tergantikan. Yaitu faktor internal dan eksternal. Konstelasi keduanya semakin bergerak dinamis jelang pertandingan laga dimulai. Seperti ajang perebutan trophy Champion atau Champion Cup (piala bergengsi klub sepakbola di Eropa), kesiapan stamina, kekompakan, soliditas, mental, psikis dan pembacaan terhadap tim lawan turut mempengaruhi pola bermain dalam bertahan, atau meraih kemenangan.

Pasca-Pemilu 2009, perjalanan Partai Demokrat sebagai ‘the ruling party’ (partai yang berkuasa) tidak begitu mulus. Dua tahun kemudian, prahara di internal partai bermuara pada turbulensi (gerakan ketidakteraturan) politik. Sejumlah elit partai terlibat dalam kasus korupsi. Bermula dari kasus dugaan korupsi Wisma Atlit Hambalang, tertangkapnya mantan Bendahara Umum M Nazaruddin, hingga bermuara mundurnya Anas Urbaningrum dari kursi Ketua Umum Partai Demokrat.

Di luar itu, konstruksi media membentuk persepsi Partai Demokrat sebagai partai korup tampaknya semakin menjadi-jadi. Meski banyak elit partai politik lain yang tersangkut kasus korupsi, namun porsi pemberitaan terhadap keterlibatan sejumlah fungsionaris Demokrat dalam tindak pidana korupsi selalu menjadi topik utama media massa. Di titik ini agak sukar memilah, misi media sebagai‘watch dog’ kekuasaan dengan motif politik di balik isi pemberitaan. Mengingat, pemilik perusahaan saat ini mempunyai hasrat politik cukup kuat menjadi pemenang di Pemilu 2014.

Empat Misi Penyelamatan Demokrat

Melihat situasi kritis/genting itu, Ketua Dewan Pembina (kini Ketua Umum) Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) segera melakukan konsolidasi politik. Langkah awal yang dilakukan adalah melakukan gerakan konfrontatif dengan membersihkan praktik korupsi di internal partai. Seluruh fungsionaris Partai Demokrat diwajibkan menandatangani nota kesepahaman sebagai bentuk komitmen politik untuk tidak melakukan korupsi.

Kedua, mereorganisir dan merestrukturisasi partai guna menyusun kekuatan di tengah ancaman (potensi) kerusakan akibat praktik korupsi berikut dampaknya. SBY juga segera merombak struktur partai pasca-mundurnya Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Demokrat.

Ketiga, menegaskan orientasi partai sekaligus memimpin misi penyelamatan Demokrat. Kongres Luar Biasa (KLB) menjadi forum penyesuaian (justified) bagi kader partai guna mempersiapkan diri menghadapi perubahan politik.

Keempat, melakukan transformasi, menjadi partai yang lebih modern melalui perhelatan Konvensi Capres Demokrat. Salah satu ciri partai modern bisa dilihat dari model penjaringan capres, apakah berlangsung tertutup atau terbuka. Meski hasil akhir Konvensi, yang merujuk hasil survei pada  masyarakat, (tetap) diputuskan melalui musyawarah di lingkungan Majelis Tinggi Partai Demokrat, namun Partai Demokrat sudah belajar sekaligus menyiapkan diri menuju partai modern. Baik SBY maupun Tim Komite Konvensi memberi kesempatan kepada siapa pun, baik kader maupun non-kader partai untuk berkompetisi mendulang simpati rakyat. Sisi lain, SBY ingin menunjukkan kepada khalayak, di masa yang akan datang, partai ini bisa berjalan tanpa harus tergantung kepada dirinya lagi. Kendati demikian, SBY ingin memastikan Partai Demokrat akan siap menghadapi masa transisi politik di Pemilu 2014.

 Perbedaan Pemilu 2014 dan 2009

Secara kuantitas, peserta Pemilu 2014 lebih sedikit dibanding Pemilu 2009. Pada Pemilu 2009 silam, kontestan pemilu terdiri dari 38 partai politik nasional dan 6 partai politik lokal (di Aceh). Sedangkan pada Pemilu 2014 peserta pemilu sebanyak 12 partai politik dengan 3 partai politik lokal (di Aceh).

Sedikitnya ada tiga perbedaan mendasar model Pemilu 2014 dengan Pemilu 2009, yakni:

Pertama, ambang batas parlemen. Sesuai dengan ketentuan UU Pemilu No 10 tahun 2008, ambang batas parlemen untuk kursi (parliamentary trashold/PT) DPR pada pemilu 2009 sebesar 2,5 persen. Sementara acuan PT di Pemilu 2014 sebesar 3,5 persen;

Kedua, alokasi kursi di setiap daerah pemilihan (dapil), terutama untuk memilih legislator di tingkat DPRD Kota/Kabupaten maupun Provinsi. Model perhitungan kursi DPR dan DPRD menggunakan kuota murni yang habis dibagi di dapil.

Ketiga, metode penghitungan suara. Pada Pemilu 2014, surat suara dinyatakan sah bila ditandatangani KPPS. Pembeda lainnya, pada Pemilu 2014 menggunakan cara mencoblos bukan mencentang sebagaimana Pemilu 2009.

Menakar Kekuatan Demokrat 2014

Berkaca pada model pemilu 2009 dan 2014, pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Ari Dwipayana, memprediksi dari 12 partai politik hanya tujuh sampai delapan partai yang lolos PT pada Pemilu 2014 dan Partai Demokrat satu diantaranya.

Jajak pendapat Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada 11 Maret 2012 menyebutkan, hanya ada delapan parpol yang berhasil menembus 3,5 persen, yaitu: Partai Demokrat, Golkar, PDI Perjuangan, Partai Nasional Demokrat (NasDem), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), serta Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Dari survei tersebut, partai seperti Partai Amanat Nasional, Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) tidak mencapai 3,5 persen.

Berikutnya, survei Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) yang melakukan kajian terhadap tren survei politik selama tahun 2013. SSS memprediksi 6 parpol tak lolos ke Senayan di Pemilu 2014 karena prasyarat PT. Keenam parpol itu antara lain, NasDem, PKS, PAN, Hanura, PBB, dan PKPI.

Melihat proyeksi umum itu, peluang Partai Demokrat menjadi pemenang pemilu kali ketiga sangat mungkin terulang. Setidaknya ada lima faktor yang mempengaruhi Demokrat bisa merajai perolehan suara pada Pemilu 2014.

Faktor pertama, daya jelajah dan daya dukung caleg. Sebab, motor kemenangan partai pada Pemilu 2014 bertumpu pada kekuatan caleg di setiap dapil. Bila caleg tak punya motivasi cukup kuat untuk menjadi pemenang, jangan harap perolehan kursi Demokrat di Senayan bisa mengulang Pemilu 2004 dan 2009.

Kedua, soliditas mesin partai di lingkup terkecil. Suka atau tidak, infrastruktur partai di tingkat ranting menjadi garda depan mengenali, menghimpun dan meyakinkan pemilih untuk memilih Partai Demokrat.

Ketiga, moto (semboyan) dan program perjuangan partai yang jelas. Ketua Umum Partai Demokrat SBY telah menegaskan bahwa moto perjuangan Partai Demokrat adalah “Mengutamakan Kepentingan Rakyat, Terus Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat”. Kader, fungsionaris dan caleg harus menggemakan moto dan program partai kepada pemilih.

Keempat, strategi contrasting atau pembeda antara Partai Demokrat dengan parpol lain. Baik caleg maupun kader partai harus bisa menjelaskan sekaligus meyakinkan pemilih bahwa ada pembeda utama antara Partai Demokrat dengan peserta pemilu lainnya. Entah itu dalam rekam jejak maupun program perjuangan partai.

Kelima, sinergi caleg DPR dan DPRD Kota/Kabupaten maupun provinsi. Tak satu pun caleg yang tak ingin di(ter)pilih rakyat, namun perjuangan dan peluang kemenangan akan mudah digapai bila ada sinergi antar-caleg DPR dan DPRD. Caleg DPRD mempunyai daya jelajah yang bisa diandalkan untuk menggapai masyarakat akar rumput, sementara perolehan suara untuk caleg DPR bertujuan guna pemenuhan ambang batas PT.

Lebih jauh lagi, bila Partai Demokrat dapat menjadi pemenang untuk kali ketiga, posisi tawar (bargaining position) partai dalam pentas Pilpres 2014 semakin tinggi.

*) Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrat Papua/Caleg DPR-RI Dapil Papua No Urut: 6

 

Mendaftarkan Komentar RSS Feed dalam pos ini

Ada 5 Tanggapan

  1. Proyeksi umum yg dikemukakan oleh Survei SSS merupakan obat untuk para Caleg Partai Demokrat untuk maju dlm Pemilu 2014 , harus di jalan- kan mungkin juga itu langkah2 untuk menjadi pemenang di Thn 2014 , karena kami kader2 mesin partai sesuai poin ke 2 . kita kerahkan untuk mengembalikan Partai Demokrat yg sempat turun Elektobilitas nya , kiranya jika Allah SWT memberikan Taufik dan Hidayahnya , Kami sebagai Kader akan maju di Tahun 2019.

    trims.

  2. Secara umum, konsep yang anda tawarkan sangat menarik, bila perwujudan sinergitas antar caleg, diyakini PD akan memperoleh kemenangan…. hal yang paling urgent, adalah sekaitan dengan program Pro Rakyat yang telah dinikmati oleh seluruh jajaran masayarakat Indonesia, terus diperdengarkan di tengah-tengah masyarakat.
    Dan yang terpenting tetaplah Semangat, tak kenal lelah dan perkuat data dan kualitas diri untuk meraih kemenangan.
    Jayalah Demokrat.

  3. Semoga Partai Demokrat diberi kemenangan di th 2014. Maju terus Demokrat…… Partai Demokrat berjuang untuk rakyat….

  4. Luar Biasa tulisan Pak Sekretaris Muhammad Rifai Darus (MRD). Pemimpin seperti MRD inilah yang dibutuhkan oleh PD. di tengah lesunya elektabilitas PD karena banyaknya isu negatif dan beberapa kader PD yang harus berurusan dengan KPK . MRD dengan keyakinan bisa melihat peluang kemenangan PD di 2014. Ini adalah obat untuk menaikkan Adrenalin bagi Kader untuk berjuang di tengah rakyat

    Menanggapi program Pro Rakyat yang di jalankan selama Pemerintahan Pak SBY saya sangat salut dengan program ini karena Pak SBY telah mempersiapkan senjata peluru untuk para kader PD untuk kampanye seperti saat ini. Tapi perlu kita sadari ada juga program Pro Rakyat ini yang telah “di aku” oleh partai lain. Hal Ini bisa terjadi karena masih ada anggota DPR dan DPRD yang tidak maksimal melaksanakan tugasnya pada saat Reses.

    Saat ini dengan telah di sahkannya UU Desa maka ini akan jadi salah satu pintu untuk kemenangan Partai Demokrat kembali. Karena di dalam UU ini jelas sekali Pembangunan itu akan tumbuh dari Desa bukan dari Jakarta atau Provinsi saja. Saya mengusulkan kepada Pengurus PD baik di Jakarta dan Pengurus DPD dan DPC untuk mengedukasi masyarakat bahwa selain Program Pro Rakyat yang telah di Jalankan, Saat ini pak SBY juga telah merubah paradigma pembangunan atas desa atau dengan kata lain mengubah cara pandang baru dengan menjadikan desa sebagai subjek pembangunan.dengan adanya pengesahan RUU Desa tersebut, masyarakat desa harus bangkit dan berbenah diri dari ketertinggalannya selama ini, karena Desa akan mendapatkan dana pembangunan sebesar 1,4 M tiap desa. Inilah saatnya bagi Kader PD untuk bisa berbagi dengan masyarakat desa untuk melakukan pemberdayaan masyarakat serta mengedukasi masyarakat membuat laporan keuangan pengelolaan keuangan Desa, Bisa Membuat Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) dengan mencari atau menciptakan Produk unggulan desa tsb, Program pendampingan untuk Koperasi atau membuat Road Map Desa agar bisa mandiri. Inilah saatnya Membangun Bangsa Indonesia Dari Desa.

  5. Terima kasih pak Muhammad Rifa’i Darus.
    Sesungguhnya apa yang telah dicanangkan oleh Bapak SBY, sejak awal periode kedua itu sangat tepat dan sudah cukup untuk mempertahankan kejayaan PD, mulai dari motto juang “Mengutamakan Kepentingan Rakyat” maupun “Program Pro Rakyat”. Namun harus kita akui, meskipun apa yang telah dicanangkan oleh Bapak SBY sedemikian hebat dan dilapangan benar-benar dirasakan oleh rakyat, namun kebanyakan dari kita sebagai kader PD tidak mampu mensosialisasikan program tsb di tengah masyarakat, sehingga Program Pro Rakyat milik Ketua Umum itu banyak diaku oleh partai lain, terutama di daerah-daerah yang Kepala Daerahnya dari lawan politik PD, sementara publikasi di media massa cetak maupun elektronik (TV) mengenai Program Pro Rakyat itu (Raskin, PNPM, PPIP, Jamkesmas, Jampersal, dll) sangat minim bahkan nyaris tidak ada.

    Dalam kondisi seperti sekarang ini, maka solusi untuk mempertahankan kembali kejayaan PD dalam Pemilu Legislatif 2014 ini tiada lain adalah dengan melakukan langkah-langkah konkret sbb :

    1. Memperkuat mesin politik sampai grassroot, yakni membentuk Tim Pemenangan Pemilu PD atau Korlap di tiap TPS. Semakin kuat (semakin besar) Jumlah Tim (korlap) PD di setiap TPS maka prediksi kemenangan PD semakin kuat, karena sesungguhnya kekuatan Parpol berada di tingkat TPS. Dengan gerakan pembentukan Tim Pemenangan Pemilu PD di tiap TPS ini (meski dengan biaya yg cukup besar) maka kemajuan PD setiap hari dapat terukur dan target PD dapat tercapai.

    2. Untuk melaksanakan poin 1 tersebut diatas, maka soliditas dan sinergitas antar caleg PD harus diperkuat, dan Para Caleg DPR dan DPRD Provinsi, harus diwajibkan kerjasama dengan para caleg DPRD Kabupaten/Kota (para Caleg DPR dan DPRD Provinsi tidak berjalan sendiri-sendiri), karena yang lebih tau situasi dan peta kekuatan politik di tingkat desa adalah para caleg DPRD Kab/kota.

    3. Mempublikasikan bentuk-bentuk Program Pro Rakyat (yang telah dilaksanakan oleh Pemerintahan SBY, dan hasil-hasilnya yang telah dicapai serta Prestasi-prestasi SBY di dunia internasional), dipublikasikan di media elektronik maupun media cetak yang beredar di daerah-daerah. Publikasi ini harus dikaitkan dengan Partai Demokrat.

    4. Membuat kontra kampanye hitam, misal : PD disebut sebagai “sarang koruptor” perlu dikontra dengan data Tabel Indeks koruptor dan Daftar Jumlah koruptor berbanding dengan jumlah perolehan suara parpol pada pemilu 2009. Data itu perlu dipublikasikan di seluruh media cetak maupun media elektronik, minimal tanyang seminggu sekali atas nama lembaga independen.

    Jika semua itu dilakukan, maka saya yakin “seyakin-yakinnya” PD akan kembali meraih kejayaan pada Pemilu 9 April 2014. Karena Rakyat Indonesia sudah semakin cerdas dan rasional.

Tinggalkan Pesan

Alamat Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kotak yang wajib diisi *

*
*