Ibas Gagas Perpustakaan sebagai Bagian Wisata Ilmu Nusantara

20150226_100203_up_zpsslqrzxln

Anggota Komisi X DPR-RI Edhie Baskoro Yudhoyono saat meninjau beberapa institusi pendidikan di Nusa Tenggara Barat (NTB), Kamis (26/2/2015). Dalam kesempatan itu, Edhie Baskoro, menyatakan perpustakaan seharusnya menjadi tiang utama peningkatan kualitas pembangunan manusia dan menggagas agar perpustakaan menjadi bagian wisata ilmu di Indonesia. (foto: ebyteam)

Mataram, NTB: Anggota Komisi X DPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono menyatakan bahwa perpustakaan seharusnya dapat menjadi tiang utama dalam meningkatkan kualitas pembangunan manusia.

“Hubungan antara perpustakaan, arsip dan museum, kerap kali dipisahkan, padahal ketiganya memungkinkan untuk bekerja sama dan berkolaborasi,” Ibas,  sapaan akrab Edhie Baskoro Yudhoyono, menjelaskan saat meninjau beberapa institusi pendidikan di Nusa Tenggara Barat (NTB), Kamis (26/2/2015).

Menurut Sekjen Partai Demokrat tersebut,  perpustakaan juga dapat menjadi cara utama untuk mengurangi buta aksara.

“Selain dapat menjadi fondasi untuk mengurangi buta huruf, perpustakaan juga bisa sekaligus mencerdaskan bangsa serta generasi muda menuju ‘Indonesia Unggul’,” ujar Ibas yang juga Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR-RI.

Pemisahan cara pandang biasanya diawali dengan kacamata bahwa kegiatan di museum hanya mengelola artefak, sedangkan kegiatan perpustakaan erat dengan tata kelola buku (kini dalam arti luas), lalu arsip lekat dengan pengelolaan terhadap rekaman grafis.

Selain itu, Ibas menilai bahwa perpustakaan dapat menjadi bagian wisata di Indonesia.

“Perpustakaan buku dan arsip sebagai gudang sejuta ilmu perlu ditingkatkan fasilitasnya sebagai bagian wisata ilmu di Indonesia,” Ibas mengungkapkan gagasannya.

Sesungguhnya bila ditinjau dari ilmu dokumentasi, hubungan antara museum, arsip dan perpustakaan bisa dikatakan masih “bersaudara”. Disebut bersaudara karena ketiganya erat dengan kegiatan dokumentasi dalam arti luas, yakni mengumpulkan, mengadakan, mencatat, menyimpan, merawat, mengolah koleksi, dan menyajikan atau mengomunikasikannya untuk publik.

Sesungguhnya perpustakaan, arsip dan museum mampu bekerja sama dan berkolaborasi setidaknya dalam enam aspek, sebagaimana hasil penelitian berjudul “From coexistence to covergence: studying partnerships and collaboration among libraries, archives and museums”. Penelitian yang dilakukan di Kanada dan New Zealand (Selandia Baru) itu menunjukkan enam aspek yang mempertautkan perpustakaan, arsip dan museum, yakni: 1) untuk melayani pengguna secara lebih baik; 2) untuk mendukung kegiatan ilmiah; 3) mengambil manfaat dari perkembangan teknologi; 4) efisiensi anggaran dan administrasi; 5) adaptasi terhadap objek digital; 6) pandangan secara komprehensif terhadap koleksi.

Ibas juga mengungkapkan bahwa sesungguhnya perpustakaan, arsip, museum, monumen dan situs adalah sarana pengabadian memori kolektif bangsa.

“Setidaknya memori kolektif berguna untuk untuk mewariskan kehidupan, berguna untuk menemukan dan menentukan identitas masyarakat, etnik dan bangsa. Memori kolektif sangat berguna untuk mempertahankan keutuhan masyarakat dan acuan bersama seluruh warga serta sebagai simbol suatu peradaban,” ia menguraikan.

Memori kolektif tersebut dalam kancah global dikenal dengan istilah “Memory of the World” (MOW) yang dibentuk oleh UNESCO pada tahu 1992. Tujuan dibentuknya MOW adalah untuk melestarikan dan menyediakan akses ke warisan dokumenter bangsa yang dianggap signifikan sebagai perwujudan dari ingatan nilai peradaban manusia.  Dokumen tersebut berada di perpustakaan, arsip, galeri maupun museum sebuah negara, baik yang berada di pusat maupun daerah, milik pemerintah maupun perseorangan.

Indonesia juga mendukung MOW yang digagas UNESCO tersebut. Melalui SK Ketua LIPI No: 1422/A/2006, tanggal 2 November 2006 dibentuklah MOW Indonesia yang bertugas untuk memayungi berbagai instansi yang terkait dengan pelaksanaan program MOW serta mengoordinasi dan mengajukan nominasi dari tingkat nasional ke unit register MOW di tingkat internasional.

Anggota Komite Nasional MOW Indonesia adalah Kementerian Komunikasi dan Informasi, Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Kementerian Negara Riset dan Teknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Perpustakaan Nasional RI, Arsip Nasional RI, Yayasan Manuskrip Nusantara, Asosiasi Tradisi Lisan dan para pakar. (ebyteam/dik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*