HADIRNYA KETUA UMUM PARTAI DEMOKRAT YANG KUAT, TANGGUH, PEREKAT, DAN TERUJI KEPEMIMPINANNYA

>

Didik Mukrianto, SH (ist)

Oleh : Didik Mukrianto, SH*)

  1. Dinamika Partai Demokrat

Pada usianya yang terbilang muda, Partai Demokrat (PD) telah banyak mewarnai dan memberikan kontribusi terhadap berjalannya demokrasi dan pembangunan Indonesia. Sebagai partai yang pernah memimpin Indonesia periode 2004-2009 dan 2009-2014, Partai Demokrat tentunya semakin matang dalam setiap dinamika internal yang terjadi. Terlebih PD telah mampu keluar dari persoalan yang luar biasa menguras tenaga dan energi yang menyebabkan turun dratisnya elektabilitas Partai dan kepercayaan masyarakat terhadap Partai Demokrat.

Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat yang diadakan pada tahun 2013 diharapkan mampu mengembalikan optimisme PD menghadapi pemilu tahun 2014, sekaligus mengembalikan elektabilitas PD di mata masyarakat. Di bawah pimpinan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang terpilih sebagai Ketua Umum PD di Kongres Luar Biasa tersebut, akhirnya menyelamatkan Partai Demokrat dari keterpurukan dalam Pemilu Legislatif 2014. Data survei dan analisisis pengamat politik yang memprediksi Partai Demokrat berada dalam kisaran 6% dalam perolehan suara pada Pemilu Legislatif 2014, dengan kepemimpinan Pak SBY dan kerja keras seluruh kader menjawab tantangan survei dan prediksi pengamat tersebut, dengan hasil 10,19% yang menempatkan Partai Demokrat sebagai partai menengah dalam sisi perolehan suara.

Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Demokrat pada tanggal 18 Mei Tahun 2014 mengamanatkan kepada para kader untuk melaksanakan 9 Butir kesimpulan Rapimnas. Salah satunya Partai Demokrat bertekad untuk melakukan pembenahan dan pembangunan partai lima tahun mendatang secara serius menuju partai yang makin moderen, profesional dan dedikatif. Rapimnas juga mengamanatkan PD untuk memberikan kesempatan kepada partai politik lain untuk menjalankan pemerintahan sesuai kehendak rakyat. Kemudian Rapimnas mengamanatkan PD untuk menjadi kekuatan penyeimbang dan kontrol yang baik terhadap kebijakan pemerintahan.

Partai Demokrat pada pemerintahan periode 2014-2019 memilih jalan sebagai “partai penyeimbang” sebagaimana amanat Rapimnas. Seraya bersyukur sekaligus evaluasi atas hasil yang dicapai pada pemilu 2014, PD memposisikan diri sebagai partai menengah. Meski PD berada di luar pemerintahan, Ketua Umum PD (SBY) meminta kadernya yang duduk sebagai kepala daerah untuk tegak lurus mendukung pemerintah pusat. Namun PD harus tetap kritis dan objektif dalam menilai kinerja pemerintah Jokowi-JK. Kepada kader Demokrat di DPR, SBY meminta Fraksi Partai Demokrat untuk memastikan dan mendorong agar program dan kinerja pemerintahan Jokowi-JK tetap dalam track untuk kebaikan rakyat. Sebaliknya, Partai Demokrat akan menjadi garda terdepan dalam melakukan kritik konstruktif terhadap kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada kepentingan rakyat.

Sikap Partai Demokrat sebagai partai menengah dan partai penyeimbang, memastikan positioning PD sebagai partai yang menjalankan fungsi checks and balances terhadap setiap kebijakan pemerintah dan keputusan-keputusan yang diambil di parlemen. Terlebih pasca-Pemilu 2014, kondisi politik memaksakan adanya faksionalisasi politik di DPR yakni Koalisi Indonesia Hebat (KIH) dan Koalisi Merah Putih (KMP) dengan titik klimaksnya partai-partai di KIH sebagai pengusung pemerintah sempat membentuk DPR tandingan. Diakui atau tidak, faksionalisasi KIH dan KMP di parlemen hingga saat ini masih belum sepenuhnya reda. Namun baik pemerintah maupun DPR telah siap untuk bekerja sama demi berjalannya roda pemerintahan dengan baik. Dan Partai Demokrat sebagai partai tengah dan penyeimbang menjadi “bandul” yang sangat diperhitungkan untuk memastikan setiap perumusan kebijakan dan pengawasan kinerja pemerintah dapat dilaksanakan sebaik-baiknya.

  1. Rumusan Perjuangan dalam Kongres IV Partai Demokrat

Tahun 2015 ini menjadi tahun yang cukup penting bagi Partai demokrat, pasalnya partai demokrat akan melaksanakan kongres keempat sebagai titik balik perjuangan partai Demokrat berada di luar pemerintahan setelah 10 tahun memimpin Indonesia. Selain agenda pembenahan diri yang menjadi fokus dalam kongres, PD juga tetap fokus pada agenda kerakyatan dengan mengusung tema “Untuk Rakyat, Demokrat Peduli dan Beri Solusi”. Fokus untuk rakyat dalam Kongres Keempat Partai Demokrat menunjukkan upaya Demokrat menjalankan fungsi partai politik sebagai sarana komunikasi politik (Miriam Budiarjo, 2000) yakni mengartikulasikan kepentingan “political interests” rakyat dan menjadikannya sebagai dasar/rumusan perjuangan partai.

Rumusan perjuangan Partai Demokrat dalam kongres keempat Partai Demokrat terangkum dalam 9 sasaran perjuangan Partai Demokrat: (1) Politik Stabil dan Demokrasi Hidup, (2) Penegakan Hukum dan Pemberantasan Korupsi Serius dan Adil, (3) Ekonomi terus tumbuh berkelanjutan, (4) Investasi dan dunia usaha bangkit kembali, (5) Harga-harga bahan pokok tetap terjangkau, (6) Program-program pro-Rakyat dilanjutkan dan ditingkatkan (KUR, PNM, BOS, BEASISWA, PKH, BLSM, BPJS, dll), (7) Infrastruktur terus ditingkatkan di seluruh tanah air (MP3EI), (8) TNI dan POLRI makin kuat dan handal, tetapi tetap netral dalam politik, (9) NKRI tegak dan berdaulat, tanpa masalah hubungan antar bangsa.

Rumusan perjuangan ini tentunya tidak keluar begitu saja, namun berdasarkan evaluasi dan pertimbangan yang matang untuk mampu mengartikulasikan kepentingan rakyat.

Rumusan perjuangan Partai Demokrat juga merupakan kelanjutan dari kebijakan politik pemerintahan Bapak SBY yang selalu mengedepankan politik bersih, cerdas, santun, dan berjuang untuk kepentingan rakyat. Evaluasi terhadap pemerintahan Jokowi-JK juga menjadi pertimbangan bagaimana rumusan tersebut menjadi dasar perjuangan dalam kongres. Kegaduhan politik mulai dari faksionalisasi koalisi parlemen hingga dualisme pimpinan partai politik PPP dan Golkar yang masih berlanjut hingga saat ini. Kegaduhan penegak hukum antara KPK dan Polri yang sulit diterima oleh masyarakat dan meruntuhkan kepercayaan masyarakat tentang penegakan hukum di Indonesia yang adil dan bermartabat. Fluktuasi harga bahan bakar minyak (BBM) dan terus menurunnya nilai tukar rupiah terhadap dollar tidak dibarengi dengan kebijakan pemerintah menekan harga bahan pokok di tengah masyarakat yang semakin “jengah” dengan semua kegaduhan politik dan kesengsaraan yang dirasakan.

Rumusan perjuangan Partai Demokrat merupakan pekerjaan rumah Partai Demokrat yang harus dilaksanakan dalam agenda perjuangan rakyat periode pemerintahan Jokowi-JK. Sebagai partai menengah dan “partai penyeimbang”, serta sebagai partai yang pernah memimpin Indonesia sejak 2004-2009 dan 2009-2014, Partai Demokrat tentunya sangat matang dalam hal polarisasi kepentingan politik yang ada, sehingga masukan kepada pemerintah Jokowi-JK dalam kongres Partai Demokrat saat ini menjadi penting untuk mengurai kegaduhan politik dan hukum yang sangat menguras energi baik di pemerintahan maupun di parlemen saat ini. Terlebih program-program rakyat yang telah dilaksanakan pada periode SBY menjadi kewajiban Partai Demokrat untuk mengawalnya kembali pada pemerintahan Jokowi-JK selama semangatnya adalah untuk kepentingan rakyat.

Rumusan perjuangan Partai Demokrat merupakan rumusan tentang bagaimana partai Demokrat mampu memperjuangkan kepentingan rakyat melalui fungsi partai politik yang diembannya. Untuk itu, diperlukan figur pemimpin yang kuat, tangguh, perekat dan teruji kepemimpinannya untuk mampu memimpin Partai Demokrat sekaligus mewujudkan 9 rumusan perjuangan Partai Demokrat menjadi kenyataan. Kepemimpinan yang matang dan penuh dengan kebijaksanaan, sebagaimana Thomas Aquino menjelaskan kebijakasanaan dengan sifat berhati-hati yakni kebersatuan pengetahuan dan keinginan (Hoogerwerf, 1979).[1] Kebijaksanaan seorang pemimpin dibutuhkan Partai Demokrat untuk membawa kembali kejayaan Partai Demokrat secara pasti dengan keyakinan, pengetahuan dan keinginan yang pasti pula.

  1. Kebutuhan Kepemimpinan yang Kuat

Kongres Partai Demokrat merupakan arena evaluasi dan pembenahan Partai Demokrat secara internal. Kesolidan kader dan pengurus Partai Demokrat menjadi harga mahal di tahun-tahun perjuangan saat ini. Kesadaran anggota untuk meletakkan kepentingan rakyat di atas segala-galanya dan kepentingan partai di atas kepentingan golongan atau individu menjadi penting guna menjaga kesolidan dan kejayaan Partai Demokrat. Konflik internal, semangat konservatisme, kekecewaan terhadap pemimpin, dan garis kebijakan partai, terhambatnya proses regenerasi kader, dan tertutupnya aspirasi politik merupakan faktor-faktor penyebab keluarnya sejumlah politisi dari suatu partai.[2] Faktor-faktor tersebut seringkali terjadi di hampir semua partai politik di Indonesia dengan skalanya masing-masing. Dibutuhkan kemampuan elit partai dapat menyikapi dan mengurai faktor-faktor tersebut serta menyelesaikannya tanpa menimbulkan efek yang besar dan berkepanjangan.

Dari banyaknya konflik partai politik yang secara gamblang kita lihat tahun ini, maka sesungguhnya partai politik membutuhkan pemimpin yang mampu merekatkan semua yang terserak dan menyatukan semua yang terpecah. Pemimpin yang kuat dan tangguh untuk menghadapi gangguan-gangguan partai baik secara internal maupun eksternal. Tentunya pemimpin tersebut sarat pengalaman, matang dan teruji di setiap medan kepemimpinan. Terkhusus Partai Demokrat, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) merupakan kader terbaik partai Demokrat yang telah teruji memimpin dan mengawal demokrasi Indonesia selama 10 tahun menjadi Presiden RI. Terlebih Kongres Partai Demokrat saat ini mempunyai semangat pembenahan diri total dan semangat kemenangan partai pada tahun pemilu 2019. Partai Demokrat bertekad melanjutkan kebijakan-kebijakan dan program-program pro-rakyat yang telah dibawa dan diperjuangkan oleh SBY selama menjadi Presiden RI.

Dengan usia partai yang masih tergolong baru dan muda namun telah banyak prestasi yang dicapai, tentunya banyak tantangan dan ancaman yang menghampiri partai Demokrat. Layaknya sebuah layang-layang, semakin tinggi melayang maka akan semakin besar angin yang meniupnya. Karena itu dibutuhkan pemimpin yang kuat, tangguh, perekat dan teruji kepemimpinannya guna mengembalikan citra Demokrat di mata masyarakat dan mengembalikan Partai Demokrat di hati masyarakat.

Saat ini Partai Demokrat membutuhkan kepemimpinan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk memimpin Demokrat kembali periode 2015-2020. Keyakinan semua kader tersebut berangkat dari kenyataan bahwa Bapak SBY adalah satu-satunya kader Demokrat yang mampu memersatukan elemen di partai Demokrat. Setelah banyak cobaan internal yang tengah dihadapi Partai Demokrat, figur SBY mampu mengangkat perolehan suara Partai Demokrat menjadi 10,19% pada Pemilu 2014 dari asumsi dan pendapat elit politik bahkan lembaga survei yang waktu itu hanya memperkirakan suara PD dibawah 6 % di Pemilu 2014.

Terlebih lagi kebutuhan dan keharusan hadirnya sosok SBY sebagai Ketua Umum PD, factum-realitasnya adalah sosok pemimpin yang kuat, tangguh, perekat, pemersatu dan teruji kepemimpinannya yang menjadi syarat mutlak kembalinya kejayaan PD pada Pemilu 2019.

Bahwa berdasarkan kepada realita trend suara antara Partai Demokrat dan Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono selama mulai tahun 2001 hingga tahun 2015 yang menunjukkan dinamika yang tidak seiring sejalan bahkan terjadi anomali, dimana SBY yang cenderung meningkat, Dan sebaliknya pada waktu atau tahun tertentu terjadi penurunan pada Partai Demokrat.

Pergerakan dukungan terhadap SBY dan Partai Demokrat sejak 2001-2015 dan harapan terhadap SBY dan Partai Demokrat ke depan adalah terefleksikan dalam survei sebagai berikut :

file DM

 

Anomali politik tersebut haruslah menjadi perhatian dan momentum kita bersama untuk segera mengevaluasi pengelolaan Partai Demokrat ke depan dan segera mengambil langkah-langkah strategis dan konkret agar Partai Demokrat tetap dalam track pertumbuhan yang meningkat dengan terus mendengar aspirasi rakyat.

Melihat kondisi tersebut maka kunci utama kembalinya kejayaan Partai Demokrat adalah jika seluruh kader bersatu padu, bekerja keras dan dipimpin oleh SBY sebagai sosok ketua umum yang tangguh, kuat, mampu menjadi perekat dan pemersatu, serta sudah teruji kepemimpinannya.***

[1] A. Hoogerwerf, Politikologi, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1979, hal. 100

[2] Firmanzah, Mengelola Partai Politik, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2008, hal. 63

*)Ketua DPP Partai Demokrat/Ketua Umum LDP Kumham/Sekretaris Fraksi Demokrat DPR RI/Anggota komisi III DPR RI

(dlp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*