Transkrip Pidato SBY dalam Rapat Pleno Pengurus Pusat Partai Demokrat

11894564_1007444829321458_985497194139619624_o

Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (foto: facebook/SBYudhoyono)

Pidato SBY dalam  Rapat Pleno Pengurus Pusat Partai Demokrat, 28 Agustus 2015

“Untuk Rakyat, Partai Demokrat Peduli dan Beri Solusi”.

Bismillahirrahmannirrahim
Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Salam sejahtera untuk kita semua Om swastiastu

Yang saya cintai pimpinan dewan pembina, pimpinan dewan kehormatan, pimpinan komisi pengawas,
Yang saya cintai para anggota Fraksi Partai Demokat DPR-RI,

Yang saya cintai Sekretaris Jenderal dan para Pengurus Harian Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat,
Para kader partai yang saya cintai dan saya banggakan.

Alhamdulillah, hari ini, insya Allah akan berlangsung selama tiga hari, partai kita kembali bertekad, bersatu, dan melangkah bersama untuk mengemban tugas-tugas di masa mendatang dengan keyakinan bahwa semua tugas itu akan dapat kita laksanakan dengan baik.

Termasuk keyakinan kita untuk memenangkan semua perjuangan politik dan kompetisi dalam rangka pemilihan umum, dan pada saatnya nanti pemilihan umum 2019. Saudara sekretaris jenderal tadi telah menyampaikan tujuan serta agenda utama pertemuan Cipanas ini, yang akan berlangsung mulai malam hari ini, besok, dan lusa. Dan oleh karena itu, sambutan serta arahan yang ingin saya sampaikan kepada jajaran pengurus pusat Partai Demokrat saya bagi dua.

Yang pertama, adalah ajakan, harapan dan instruksi saya kepada saudara semua, termasuk saya di dalamnya untuk mengemban tugas ke depan sesuai dengan tema besar. Ingat tema besar kita, tema besar perjuangan kita adalah “Untuk Rakyat Partai Demokrat Peduli dan Beri Solusi”.

Kemudian nanti bagian kedua dari sambutan dan pembekalan saya berkenaan dengan internal partai kita agar mesin organisasi, sebagaimana yang disampaikan oleh Sekjen tadi, ke depan ini bisa berjalan makin efektif sehingga tugas-tugas dapat kita laksanakan dengan baik.

Para kader yang sangat saya cintai, topik utama sambutan saya malam ini adalah menyikapi situsi perekonomian nasional dan apa yang jadi jalan Partai Demokrat mesti lakukan. Yang kita lakukan berkaitan dengan mengatasi permasalahan ekonomi kita saat ini tetap segaris dengan tema besar yang disampaikan tadi, “Untuk Rakyat Partai Demokrat Peduli dan Beri Solusi”.

Para kader, ada tiga hal penting yang ingin saya sampaikan. Pertama, perkembangan situasi dan permasalahan atas perekonomian nasional dewasa ini. Kita harus memahami apa inti masalahnya. Kita harap negara dan pemerintah juga bisa memahami hakekat beragam dan jenis masalah agar solusinya juga tepat. Yang kedua, melalui mimbar yang mulia ini saya akan sampaikan pandangan dan rekomendasi Partai Demokrat kepada negara dan pemerintah. Ini niat baik dan keinginan tulus partai kita untuk membantu negara dan pemerintah mengatasi masalah ekonomi yang dampaknya telah dirasakan oleh rakyat kita. Yang ketiga, berkaitan dengan apa yang mungkin dilakukan oleh jajaran Partai Demokrat.

Saya ingin mulai dari yang pertama, yaitu perkembangan situasi dan permasalahan yang ada menyangkut ekonomi nasional dewasa ini.

Saudara-saudara, dengan jujur dan objektif kita harus mengakui bahwa ekonomi kita telah mengalami persoalan. Ekonomi kita, baik makro maupun mikro, baik sektor keuangan maupun sektor riil, menghadapi tegangan yang cukup berat. Lebih khusus permasalahan yang dihadapi oleh bangsa ini adalah, satu, pertumbuhan ekonomi kita melambat atau menurun.

Mengapa pertumbuhan ekonomi kita melambat atau menurun? Ada sejumlah faktor yang menyebabkannya. Pertama, konsumsi rumah tangga house goal consumption. Pembelian masyarakat atas barang dan jasa itu dulu, karena daya beli masyarakat juga menurun. Kedua, mengapa pertumbuhan kita menurun, investasi menurun, di banyak sektor bahkan terhenti. Ketiga, ekspor kita nilainya juga menurun, mungkin sejumlah komoditas volumenya tetap, ada yang naik, tetapi nilainya menurun. Mengapa? Sejumlah komoditas harganya jatuh. Misalnya minyak bumi, batu bara, kelapa sawit dan karet. Karena kita produsen utang atas komoditas-komoditas itu maka perolehan negara dari ekspor kita menurun. Yang keempat, pembelanjaan pemerintah, government spending, karena satu dan lain hal termasuk permasalahan yang menyangkut realisasi APBN kita itu juga tidak optimal. Itulah paling tidak empat faktor yang menyebabkan pertumbuhan kita terus menurun dan sekarang angkanya dibawah 5%, baik di kuartal pertama maupun kuartal kedua per tahun 2015 ini.

Satu, pertumbuhan. Yang kedua, harga barang dan jasa membumbung, termasuk harga bahan pokok yang diperlukan rakyat dalam kehidupan sehari-harinya juga mengalami peningkatan. Sebagian peningkatannya tajam. Tentu hal ini menimbulkan kesulitan bagi kehidupan sebagian besar saudara-saudar kita, rakyat indonesia. Yang ketiga, mulai terjadi gelombang PHK, lay off. Sebagian mengatakan kepada saya sudah lebih sudah dari satu juta, sebagian mengatakan lebih dari satu setengah juta. Berapapun angka yang disebutkan tadi fakta menunjukkan bahwa gelombang PHK telah terjadi di berbagai sektor riil di berbagai daerah. Tentu ini menambah angka pengangguran baru, ini meningkatkan kemiskinan baru.

Yang keempat, sektor riil terpuruk, baik itu usaha besar, menengah, maupun kecil hampir semuanya terpukul. Mengapa terpukul? Karena pembelian atas barang dan jasa yang diproduksi oleh usaha besar, menengah, maupun kecil itu juga terpuruk. Akibatnya, maka pajak yang dibayarkan pada negara juga menurun, akibatnya penerimaan negara dari sektor pajak juga menurun.

Yang kelima, nilai tukar rupiah tergerus cukup tajam sehingga memukul pemerintah karena pemerintah ada kewajiban yang berkaitan dengan transaksi keuangan, komitmennya dalam dollar. Begitu dollarnya tinggi sekali, rupiah anjlok, bebannya meningkat, cukup tajam, pelaku dunia usaha tentu terpukul. Mereka melakukan pinjaman dalam bentuk dollar. Menjual barang dan jasanya dalam rupiah. Gap ini besar dan tentu merepotkan mereka. Sebagian masyarakat juga, yang telah mengkonsumsi dollar untuk kebutuhan satu dan lain hal, bagaimanapun juga berdampak.

Itu yang kelima, yang keenam, situasi fiskal dan APBN kita. Para wakil anggota dewan perwakilan dan kehormatan, tentu mengetahui bahwa fiskal dan APBN kita juga mengalami tekanan. Mengapa ada tekanan dalam APBN kita? Karena penerimaan juga menurun drastis. Karena sasaran pembelanjaan yang ada dalam APBNP 2015, katakanlah itu cukup ekspansif, sementara penerimaannya menurun. Ditambah perhitungan atas penerimaan pajak yang tidak tepat. Saudara tahu, saya selama 10 tahun memimpin negara dan pemerintahan, mengambil keputusan, menetapkan kebijakan berkaitan dengan APBN, saya mengetahui bahwa dari sisi penerimaan negara lebih dari 75% itu dari pajak. Kalau perhitungannya tidak tetap dan penerimaan riilnya jauh dibawah, tentu menjadikan persoalan yang serius terhadap APBN kita. Ibaratnya kita mau belanja banyak, uangnya tidak ada. Itulah enam inti permasalahan berkaitan dengan ekonomi kita. Kita harus jujur, terbuka, secara logis mengidentifikasi apa saja persoalan itu.

Permasalahan ekonomi domestik itu memang merupakan tantangan yang tidak ringan, dan harus ditambah lagi oleh faktor eksternal yang ternyata meningkatkan derajat kerawanan dalam permasalahan.

Baik saya lanjutkan saudara-saudara. Perhatikan, karena saya ingin kader Demokrat sangat menguasai permasalahan ini, sehingga kalau saudara menjelaskan kepada rakyat, kepada pers, diminta pandangannya di DPR RI, tepat apa yang disampaikan.

Tadi yang saya sampaikan ada 6 masalah dalam perekonomian kita. Ditambah lagi ada faktor eksternal, paling tidak ada satu plus tiga faktor eksternal ini. Ada 3 sebetulnya tapi yang terakhir 1 plus 3. Pertumbuhan ekonomi di Asia juga menurun. Tiongkok, ekonomi nomor dua terbesar dunia pertumbuhannya menurun, padahal Tiongkok dengan Indonesia ada hubungan perdagangan dan investasi yang tinggi, tentu kita kena dampaknya. Juga pertumbuhan di Malaysia bahkan Malaysia ditambah dengan jatuhnya Ringgit dan sejumlah fundamental ekonomi mereka. Singapura juga kena. Pendek kata ketika Indonesia kena, tetangga-tetangga kita, sahabat-sahabat kita juga mendapatkan tekanan, ada yang sama, ada yang kelebihan sedikit, ada yang lebih berat sedikit, itu faktor penting.

Yang kedua, Rupiah kita yang terus tergerus akan menghadapi tantangan baru ketika federal reserve, itu sama dengan BI-nya Amerika Serikat, nanti menaikkan suku bunganya. Diduga antara bulan September sampai Desember. Begitu suku bunga Amerika dinaikkan, dollar banyak yang kembali ke Amerika Serikat, sekarang sudah banyak kembali, akan lebih banyak yang kembali, akibatnya Asia termasuk Indonesia akan kekurangan dollar, dan itu lebih menekan rupiah kita.

Nah yang ketiga yang saya katakan 1 plus 3 tadi, adalah komoditas yang sering menjadi andalan perekonomian kita juga jatuh, minyak, 1 plus 3 tadi, kelapa sawit, batu bara dan gas. Itulah faktor eksternal, kita punya masalah internal, kita tekan oleh faktor yang sifatnya eksternal.

Akibatnya apa saudara-saudara? 6 permasalahan domestik tadi ditambah dengan situasi kawasan yang juga tidak kondusif bagi pemulihan ekonomi kita, maka saat ini kalau kita dengarkan apa yang ada di daerah-daerah, yang disampaikan oleh rakyat kita saat saya berpergian ke Jawa Tengah, ke DIY, Jawa Timur. Saya bercakap-cakap dengan mereka, sudah terasa secara psikologis rakyat kita itu mulai cemas, mulai takut kalau negara kita menghadapi krisis lagi. Sebagian bahkan kurang percaya apakah bisa kita atasi ekonomi ini dan kalau psikologis sosial seperti itu maka situasi sosial juga akan terbentuk.

Dari ekonomi menuju ke sosial, maksud saya apa? Kalau masyarakat sudah merasa terhimpit kehidupan, mudah-mudahan bisa kita cegah untuk tidak sampai ke situ, maka rakyat akan merasa ditinggalkan, jadi korban, rakyat akan marah dan bisa melakukan tindakan-tindakan yang tidak baik. Itulah yang harus dicegah oleh negara dan kita semua. Partai Demokrat sangat siap bersama-sama dengan negara dan pemerintah mencegah hal-hal buruk itu terjadi. Saudara-saudara, nah setelah kita memahami what’s going on with our economy, ada apa dengan ekonomi nasional kita? Jujur, terbuka, logis mengidentifikasi, maka melalui haul ini pula, pada malam hari ini, ingin menyampaikan pandangan dan rekomendasi.

Pandangan dan rekomendasi baik-baik pada negara dan pemerintah. Pandangan ideologinya, bagaimana cara yang tepat untuk mengatasi masalah ekonomi ini?

Berangkat dari falsafah kalau tadi ada enam persoalan berkaitan dengan ekonomi kita, maka sebaiknya yang paling tepat, solusinya juga mengarah kepada enam hal tadi, perbaikannya juga mengarah, relevan, dan langsung kepada enam hal yang saya sebutkan tadi. Oleh karena itu kita ingin menyampaikan melalui forum ini. Satu, kita berharap pemerintah sebagai penjuru dengan bersamaan dengan yang lain, bisa menjaga pertumbuhan agar tidak terus meluncur ke bawah. Jaga agar tidak terus meluncur, ditahan. Pada saatnya nanti pada saat badai ini lewat, dinaikkan kembali. Ini yang saya sebut dengan komponen pertumbuhan atau growth.

Caranya apa? Caranya, galakkan dan tingkatkan permintaan, demand dalam ekonomi, dalam ilmu ekonomi. Dalam keadaan krisis, teori ini perlu dipraktekkan, simulasi permintaan. Demand dinaikkan, lakukan stimulus atau peningkatan pembelanjaan pemerintahan. Jangan malah dikurangi, jangan digunakan untuk yang tidak tepat, yang tidak ada kaitannya dengan pemulihan ekonomi. Lakukan stimulus secara tepat, keluarkan kebijakan khusus agar investasi kembali hidup, sekarang di mana-mana terhenti. Agar ekspor kembali meningkat. Ringankan beban para eksportir, buka jalan kepada para investor, kasih kabar gembira, ibaratnya supaya mereka mau berinvestasi, kemudian sektor riil hidup kembali. Dan jangan lupa bantu rakyat yang paling menderita akibat kesulitan ekonomi ini. Untuk apa? Agar mereka punya uang, agar mereka bisa membeli kebutuhan sehari-harinya. Semua itu sesuai dengan sumber-sumber pertumbuhan, yang satu plus telah sebutkan. Kalau pertumbuhan lembur, bikin empat-empatnya naik, meningkat. Begitu lho pak rekomendasi kita.

Yang kedua, lakukan stabilisasi harga, dan bagi harga-harga pokok yang diperlukan rakyat, yang harganya kelewat tinggi, harus bisa diturunkan, dengan catatan stop kebijakan-kebijakan apa pun, kebijakan kementerian mana pun yang justru makin mendorong inflasi. Pastikan supply kita, supply itu ketersediaan barang dengan distribusinya. Apakah daging, apakah daging sapi, apakah beras, apakah daging ayam, apakah garam, apapun, itu cukup, kalau cukup, harga tidak akan terus naik. Dan tidak kalah pentingnya, tolong berhenti beretorika, retorika ideologis. Rakyat dalam keadaan seperti ini tidak memerlukan retorika ideologi. Mereka ini butuh barang ada, bisa membeli dengan harga yang terjangakau, betul? Kalau kenyataannya supply-nya kurang, bergejolak, bukan diatasi tapi malah main retorika dari hari ke hari, tidak akan selesai itu masalah.

Yang ketiga, cegah bertambahnya gelombang PHK. Gelombang PHK, lay off dengan cara bantu perusahaan agar tidak mudah PHK. Dulu 2008-2009 ketika saya juga mengatasi krisis, situasi juga tidak mudah, siapa bilang mudah? Bermalam-malam kami kurang tidur mencari solusi, sampai saya berkomunikasi langsung, termasuk hari libur, di kantor, di Wisma Negara, di Cikeas ketemu dengan perusahaan-perusahaan yang kira-kira akan mem-PHK-kan. Saya bilang, “Tolong, tolong, jangan PHK-kan. Apa yang bisa pemerintah bantu?”. “Baik Pak, kami akan sejauh mungkin tidak PHK. Tapi bisa nggak kami dikasih insentif sedikit dengan kami?”. Oh kita bisa, begitu cara kita supaya perusahaan tidak berlomba-lomba mem-PHK-kan buruhnya atau pekerjanya. Masih dalam rangka mencegah gelombang PHK, penarikan pajak harus tepat. Sehingga perusahaan dalam keadaan ekonomi sulit ini tidak merasa sangat dibebani. Sebab kalau merasakan dibebani sudah susah, mungkin dia ambil jalan pintas juga. PHK-kan saja begitu. Jadi, inipun bisa kita kurangi dengan langkah dan kebijakan yang tepat. Itu yang ketiga.

Yang keempat, gerakkan dan cegah terus merosotnya sektor riil dengan cara, di berbagai kesempatan saya sering mengatakan jurus kita waktu kita praktikkan tahun 2008-2009 adalah yang saya sebut dengan “keep buying strategy”. Artinya apa? Meskipun ekonomi sulit tapi kalau rakyat dan pemerintah masih membeli barang dan jasa dalam teori ekonomi namanya government spending, house of consumption, masih beli dia barang dan jasa dijamin perusahaan tidak akan mudah bangkrut. Nah bagaimana pemerintah bisa membeli? Tingkatkan pembelanjaannya. Namanya stimulus, namanya ekspansi. Rakyat bagaimana yang sangat menderita? Bantu dengan berbagai macam program pro-rakyat. Ekstrimnya kalau sangat diperlukan itu bantuan langsung tunai. Tidak diharamkan. Membantu rakyat kita yang sedang susah, namanya bantuan langsung sementara masyarakat atau cash transfer itu tidak haram. Di negara lain juga sering terjadi, dalam keadaan emergency, dalam keadaan sulit, kalau memang diperlukan. Pendek kata, keep buying strategy. Kalau bisa dijaga dijamin sektor riil itu –pasti menurun, tidak akan jatuh semuanya.

Semua kebijakan dan regulasi harus diarahkan agar sektor riil tetap bergerak, jangan sebaliknya. Bikin peraturan, bikin program, bikin kebijakan yang bikin mereka langgeng tanpa disadari. Para Menteri, siapa pun, harus bersama-sama dengan Presiden dan Wakil Presiden memastikan kebijakannya itu sinkron satu sama lain, dan outputnya mendorong bergerak dan kembali sektor riil, meskipun ini juga bukan sesuatu yang mudah. Karena saya pernah mengalami.

Yang kelima, cegah dan lakukan sesuatu agar rupiah kita tidak makin jatuh lagi. 13.000 sudah dilewati, 14.000 sudah dilewati, segeralah kita melakukan langkah-langkah yang tepat, jangan nanti jatuh bebas, freefall, tembus 15,16 dan sebagainya. Mari kita cegah bersama-sama, dengan catatan kebijakan moneter BI harus tepat dan efektif. Meskipun BI tidak di bawah Presiden, tapi dengan komunikasi yang baik, konsultasi yang baik, antara BI dengan Kementerian Keuangan, Kementerian Koordinator Perekonomian, dan teman-teman itu bisa akhirnya ditetapkan kebijakan yang tepat dan efektif. Siapkan segmen yang lain kalau sampai something happens di Indonesia, menyangkut keuangan kita, kita punya bantalan dengan kerja sama dengan negara-negara lain. meskipun dulu tidak pernah saya kerjakan, amit-amit tidak terjadi. Tapi kita sudah siap. Akibat pasar tahu pemerintahnya siap if something happens dengan bantalan cadangan penutup krisis keuangan dulu, pasar tenang. Krisis tidak terjadi. Antisipasi perbaikan suku bunga FED. Jangan mengatakan “Ah tidak ada pengaruhnya, tenang saja” don’t say that. Tidak perlu panik tapi jangan menganggap remeh sesuatu – sedia payung sebelum hujan, bahwa nanti hasilnya bagus, alhamdulillah. Cegah terjadinya panic buying dan rush atas tingginya dolar. Bukan begini, “Hai saudara-saudara para pelaku bisnis janganlah membeli dolar demi bangsa dan negara tercinta”. Mereka tidak akan panik dan memborong dolar, manakala mereka tahu pemerintah punya kebijakan bersama BI dan action, action itu dijalankan dan akhirnya pasar percaya, bisnis percaya, pasti mereka bisa menahan diri. Dan itu bisa. Oleh karena itulah tadi malam saya bertemu dengan para pemimpin redaksi, para wartawan senior saya mendengar pemerintah akan segera mengeluarkan jurus-jurus saktinya, paket-paket kebijakan saya senang, welcome. Karena kalau itu tepat dan dijalankan betul pasar akan lebih tenang, dan orang yang diduga akan panik akan bisa menahan diri. Jadi bisa sekali lagi bukan hanya dengan kata-kata, tapi bikin mereka trust kepada langkah-langkah BI dan pemerintah begitu. Dan masih berkaitan dengan nilai tukar rupiah, terdapat pernyataan pejabat publik yang kontra produktif, “itu nggak apa-apa. Dulu tahun 1998 kan 18.000, sekarang kan belom.” Loh memangnya perlu sampai 18.000? Jangan. Jangan, nggak perlu itu, sudah kita beresi bareng-bareng. Demokrat itu supaya tidak menonjol ke tingkat itu. Begitu cara berpikir kita.

Yang keenam, yang terakhir. Ini teman-teman DPR tolong perhatikan, kelola dan kendalikan APBN dan fiskal kita dengan tepat dan jangan ceroboh. Kalau nilai tukar rupiah itu pemerintah tidak bisa, misalkan dengan Keppres dikeluarkan perintah “Mulai hari ini nilai tukar Rupiah harus kembali ke 10.000. Dilarang meningkat dari 10.000”. Nggak mungkin. Tetapi kalau APBN, fiskal, pemerintah punya fleksibilitas, punya peluang, inilah yang disebut dengan political economy. Presiden bersama-sama DPR-RI bisa. “Eh baiknya bagaimana APBN kita, baiknya bagaimana fiskal kita?” Sepenuhnya at out hands. Tidak sangat dipengaruhi gejolak pasar. Itu menyangkut APBN yang ditingkat kita, asumsinya seperti apa, perkiraan penerimaan berapa, pajak berapa, pembelanjaan berapa, defisitnya berapa, darimana defisit itu, kredibel atau tidak kredibel, kita yang bikin. Dibahas bersama, ditetapkan,dijalankan, ada dukungan bikin perubahan, namanya APBN-P. Begitu caranya memahami APBN dan fiskal, sepenuhnya dalam kekuasaan kita.

Nah, teman-teman di DPR, antara fraksi Partai Demokrat DPR, partai kita, partai yang kita cintai menyampaikan agar dalam APBN-P 2015 lihat ruangnya, memang sempit ya saya mengintip, tapi 2016 sejak awal kita bisa mendesain. Kita ini bisa desain. Ada Presiden kita dengan jajaran pemerintahan, ada dewan termasuk fraksi Demokrat itu kita, saya di luar sih tapi saya memberikan doa dan bantuan-bantuan yang konstruktif. Pastikan ada ekspansi pembelanjaan. Peningkatan government spending, government expenditure. Boleh dikatakan stimulus, defisitnya naik sedikit. Ada aturannya, ada batas Undang Undang berapa, bisa. Kemudian lakukan penetapan prioritas yang tepat. Dalam keadaan ekonomi seperti ini, mestinya pembelanjaan pemerintah itu diarahkan untuk menjaga pertumbuhan, stabilisasi harga dan pencegahan pengangguran baru. Mesti kesitu. Itu utamanya, tentu masih ada yang lain, pendidikan, kesehatan, pengurangan kemiskinan dan sebagainya.

Tolong pemerintah dan DPR menunda pembelanjaan yang masih bisa ditunda. Utamakan dulu, pulihkan ekonomi kita. Yang masih bisa ditunda tahun depan kan masih banyak, tahun depannya lagi juga masih bisa, begitu. Infrastruktur yang sangat tidak diperlukan kehadirannya tahun ini, yang menggunakan peluang triliun rupiah, jangan sampai dipaksakan. Kalau uangnya ada boleh. Tapi kalau tidak ada, utamakan untuk jaga pertumbuhan, stabilisasi harga dan pencegahan PHK. Memang infrastruktur sebagian bisa menciptakan lapangan kerja, dihitung saja. Jangan pokoknya harga mati, infrastruktur yang lain nomor dua. Loh, ini sedang tidak normal perekonomian kita. Pastikan jangan ada janji-janji baru. APBN ini sudah pas-pasan jangan tambah 2 triliun, 3 triliun, 4 triliun. Disamping tidak tepat, nggak ada uangnya. Dewan tolong ditanyakan pemerintah, cashflownya seperti apa sih? Posisi sekarang ini berapa banyak yang masuk? Penerimaannya bagaimana? Pembelanjaan kita berapa? Cocokkan, klop tidak? Nah kalau tidak klop, defisitnya dalam, mbok jangan ada janji-janji baru, nanti saja.

Kemudian ini berkaitan dengan itu, penegakan hukum itu penting, pencegahan korupsi penting, 10 tahun saya berdiri mendorong, menyemangati para penegak hukum, apakah KPK, Polri atau Kejaksaan, siapa pun. Dalam keadaan seperti ini, ketika ada kepanikan di sana sini, cegah penegakan hukum yang tidak tepat, yang membikin takut, bikin menghambat, terkunci semua langkah-langkah untuk pemulihan ekonomi. Bukan kita tidak mendukung penegakan hukum, 100% Demokrat dukung. Tetapi kalo masih dalam tahap awal kemudian luar biasa, apa namanya, proses, ditambah dengan pemberitaan yang bertubi-tubi, itu terkunci semua, itu takut semua nanti. Kecuali yang nyata-nyata crimes-nya berat, kejahatannya nyata, negara dirugikan, rakyat disengsarakan, ya sudah, go. Tetapi kalau masih belum terus tiba-tiba semuanya dibikin takut, macet pemulihan ekonomi kita. Enam masalah, ini enam solusi yang diusulkan Partai Demokrat.

Dengarkan saja, yang mendengarkan dapat pahala. Apalagi sebagian diterima, menambah. Dan pasti negara sebagian sudah punya, pemerintah sudah punya dan banyak orang hebat di pemerintahan sekarang, di kabinet sekarang, sebagian besar teman-teman saya, mereka paham. Tapi saya tahu ini sulit. Demokrat memberikan tambahan pandangan, diterima pahalanya tinggi, dijalankan jadi lebih tinggi. Tidak diterima, pahalanya jatuh ke Partai Demokrat.

Yang terakhir, kita mengidentifikasi permasalahannya apa, Demokrat dengan niat baik, mengajukan pandangan dan rekomendasi, tetapi Demokrat ingin, apa hanya begitu pak? Tidak. Kita ingin langsung membantu, ingin langsung berkontribusi, langsung berbuat, untuk rakyat, untuk negara dan untuk pemerintahan kita. Pemerintahan itu pemerintahan kita. Bukan hanya pemerintahan yang mengusung Pak Jokowi kemarin jadi Presiden, tidak, tidak. Bagian dari negara dan itu juga pemerintahan kita, begitu. Partai Demokrat menetapkan 3 cara, dalam rangka membantu negara dan pemerintah. Dan sejak malam hari ini, semoga yang sudah mulai kita laksanakan, saya minta dijalankan oleh semua. Sekjen dengan timnya bisa memantau di seluruh tanah air, implementasi dari instruksi saya pada malam hari ini. Judul besarnya kita membantu negara dan pemerintah.

Yang pertama melalui jalur jajaran Partai Demokrat, tingkat pusat, termasuk saya, termasuk semua pengurus harian. Kita akan terus berkontribusi, ke depan. Yang kedua melalui fraksi Partai Demokrat DPR RI secara khusus. Dan ketiga melalui pejabat eksekutif di daerah, apakah Gubernur, Wakil Gubernur, Bupati, atau Wakil Bupati, Walikota atau wakilnya yang mereka itu kader partai, berlaku instruksi saya ini. Termasuk anggota fraksi Demokrat yang di DPRD seluruh Indonesia. Jadi jalur pertama pusat, jalur kedua fraksi DPR RI dan jalur ketiga adalah mereka yang mengemban tugas di daerah. Dengarkan tugasnya apa, tugas kita.

Jajaran Partai Demokrat Pusat, kita akan terus memantau, memberikan saran, melakukan kritik konstruktif apabila diperlukan, Kalau kita mengkritik konstruktif, jangan dipidanakan. Dan membantu negara dan pemerintah dalam pemulihan ekonomi nasional. Saya ulangi, kita yang di pusat, akan terus memantau, memberikan saran, melakukan kritik konstruktif, dan membantu negara dan pemerintah dalam langkah-langkah pemulihan ekonomi nasional.

Bagi fraksi Partai Demokrat di DPR RI, tugas saudara adalah pastikan APBN P 2015 dan APBN 2016 kelak tepat, realistik dan berorientasi kepada pemulihan ekonomi nasional. Kalau ternyata tidak tepat, tidak realistik, tidak berorientasi, harus berani mengatakan, fraksi Partai Demokrat tidak setuju. Lakukan itu. Lakukan, rakyat akan senang, lihat Partai Demokat, kalau tidak tepat, APBN nya berani mengatakan tidak setuju. Tetapi sebaliknya kalo sudah ok, kebijakan A, program kementerian B, ya dukung. Pastikan dalam APBN itu perlindungan rakyat tetap menjadi prioritas. Dalam keadaan seperti ini, empati harus diberikan kepada rakyat kita terutama mereka yang menderita. Maka perlindungan rakyat jangan ditinggalkan dalam desain APBN, dan jadikan prioritas, termasuk kebijakan dan program pemerintah. Waktu rapat bersama dengan menteri terkait, pastikan beliau-beliau itu kebijakan dan programnya, dalam keadaan seperti ini jangan menomorsekiankan perlindungan rakyat. Ini bukan lip service, ini bukan pencitraan, ini bukan populis, real. Turunlah ke daerah, ada yang memang sudah terpukul. Pastikan mereka tidak merasa ditinggalkan oleh negara yang dicintai ini.

Kemudian ini perjuangan kita bukan hanya sekarang, sampai tahun 2019. Dan ke depan, teriakkan di seluruh tanah air, Partai Demokrat akan terus berjuang, menyarankan kepada pemerintah, pemerintah daerah, tetapi, tetap dengan cara-cara yang tepat, agar program-program pro rakyat yang dulu kita jalankan, yang sebagian telah ditinggalkan, padahal rakyat suka, itu dihidupkan kembali. Apalagi ekonomi kita sedang seperti ini, Sarankan baik-baik, Pak, ini penting, BOS, beasiswa miskin, beasiswa prestasi, buku, vcd buku, jamkesmas sekarang BPJS, kemudian pelayanan publik, dan program-program seperti itu, lantas kredit usaha rakyat, PNPM, apapun namanya, diganti tidak apa-apa, yang penting programnya tetap ada, karena rakyat suka dengan program-program itu. Program keluarga harapan, kemudian lanjut usia yang terkena bencana, banyak sekali program-programnya. Dan itu tidak saya langgar. Jangan terpengaruh dengan ekonomi yang sangat kapitalis, Kita itu tidak boleh ini saja, infrastruktur semuanya. Infrastruktur maha penting. Tapi jangan swadaya APBN. Ajak swasta. Ajak BUMN. Dan tentu ada porsi dari APBN. Karena kalau semua dibawa ke situ, bantuan untuk hidup rakyat jadi kecil sekali. Berjuanglah kita, agar program-program pro-rakyat itu dihidupkan kembali. Ini perjuangan kita nanti. Saya akan ikuti, insya Allah tanggal 9 September bersama-sama dengan fraksi kita syukuran, potong tumpeng. Untuk memulai bahwa kita akan berperan secara cerdas, tapi tidak kasar di DPR RI.

Kemudian ketiga, yang terakhir, bagi para pejabat eksekutif di daerah termasuk fraksi Demokrat di daerah-daerah. Tugasnya sama sebetulnya. Tapi mereka langsung berhadapan dengan masyarakat, langsung action. Berupaya sekuat tenaga untuk memulihkan ekonomi di daerahnya masing-masing, yang berbeda-beda antar daerah, tapi pastinya ada persoalan di daerah. Prioritasnya adalah gubernur, bupati, walikota dan DPRD itu, tetap pertumbuhan, stabilitas harga, pencegahan PHK, pencegahan kenaikan kemiskinan, dan bantuan kepada rakyat miskin. Itu harus dijalankan secara pararel. Pusat kita bekerja, fraksi Demokrat DPR RI bekerja, kader-kader kita yang mengemban amanah sebagai pejabat eksekutif dan DPR, bekerja. Maka inilah bukti nyata Demokrat peduli dan beri solusi.

Dalam keadaan seperti ini, ada tendensi, menghantam pemerintah, menghantam negara, mengkritik sana kritik sini, kita tidak perlu ikut-ikutan. Tapi sampaikan pandangannya, rekomendasinya. Dan siap, dan ikut meringankan beban, termasuk yang di daerah-daerah tadi.

Sebagai penutup, para kader yang sangat saya cintai, Partai Demokrat sungguh peduli, dan akan terus beri solusi. Kami berharap, pemerintah mengerti niat baik Partai Demokrat, kami tidak menggurui, tapi ingin membantu, dan ikut mencari solusi, Karena kami tahu, ketika demokrat berada di pemerintahan, 10 tahun dulu kami memimpin Indonesia, juga pernah mengalami keadaan seperti ini. Tidak ada yang serba mudah, sulit, sama. Tetapi kami dulu menghadapi situasi seperti itu pertama-tama, kami tidak suka menyalahkan yang lain. Stop blaming others. Bismillah ini tugas kita. Kemudian tentukan kebijakan dan lakukan tindakan. Ajak semua bersatu. Ajak semua, kabinet, gubernur, BUMN, swasta, ekonom, media massa, semua bersama-sama. Karena kalau itu dilaksanakan, hasilnya bagaimanapun akan ada. Hasilnya akan real. Dan sejarah membuktikan bahwa menghadapi krisis 2008-2009, Indonesia dicatat oleh dunia, bukan oleh Partai Demokrat yang mencatat, kita bisa meminimalkan dampak, dan ekonomi kita selamat. Kami berdoa, kami berharap, kali ini pun pemerintah juga berhasil mengatasi apa yang menjadi tantangannya. Saya optimis masih punya waktu, pemerintah masih punya sumber daya atau resources, pemerintah masih punya opsi, untuk mencegah terus memburuknya ekonomi ini dan bahkan menjadikan normal kembali, serta suatu saat bangkit kembali.

Dan kepada seluruh kader Partai Demokrat, saya instruksikan, agar upaya membantu pemerintah dan meringankan beban rakyat ini, menjadi tugas dan sekaligus prioritas. Laksanakan, mari kita laksanakan, Lets do it. Tuhan beserta kita. Selamat berjuang. Terima kasih.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

(dik)