Membasmi Korupsi Butuh Konsistensi Generasi ke Generasi

i7UqRZ6X

Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Dr Hinca IP Pandjaitan XIII (foto: twitter/@hincapndjaitan)

Catatan: Dr Hinca IP Pandjaitan XIII*)

Perjalanan panjang pemberantasan korupsi di Republik ini tak pernah surut, dilahirkan oleh Megawati dan dibangun serta dibesarkan di zaman Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Megawati sebagai seorang Ibu dengan berbagai pengorbanan yang sungguh luar biasa sudah dapat melahirkan institusi pemberantas korupsi di negeri ini.

SBY dengan keteladanan seorang ayah bertanggung jawab membesarkan institusi ini dengan ujian yang sangat berat. Niat dan komitmen untuk menghapuskan korupsi di republik ini tak surut oleh apa pun.

Dia tetap tegar melangkah, menginjak siapa pun yang ada di depan menghadang langkahnya untuk mebesarkan KPK, sekalipun keluarga atau kerabat satu partainya tak digubrisnya. Dilibas semuanya demi tegaknya KPK memberantas korupsi di Indonesia kita ini.

Hambalang adalah kasus korupsi sangat fenomenal, kebetulan terjadi saat menpora dijabat Andi Malarangeng, sejawatnya di Partai Demokrat. Ini ujian terbesarnya, musibah ini juga menimpa partainya. Tapi tekadnya sudah bulat pada penyerahan kedaulatan KPK untuk menyelesaikan kasus ini secara profesional.

Saat KRMT Roy Suryo menjabat Menpora menggantikan Andi Mallarangeng, pada 15 Januari 2013, salah satu yang sebenarnya ingin dilanjutkan saat itu adalah Proyek P3SON Hambalang. Namun, saat itu, baik DPR (Komisi X) maupun KPK, memerintahkan agar Pemerintah, dalam hal ini Kemenpora, sama sekali tidak “menyentuh” Hambalang karena statusnya selaku barang bukti (barbuk) korupsi. Hal ini dikuatkan dengan Keputusan Komisi X DPR-RI yang menyatakan proyek tersebut harus dihentikan. SBY terus memberikan ruang pada KPK untuk bekerja professional.

Kemudian, ketika awal 2014, Menpora sempat prihatin dan care akan “menyelamatkan” aset-aset yang terbengkalai, berkonsultasi ke KPK, masih dijawab “Sebaiknya jangan menyentuh Hambalang dulu”.

Jadi, kalau sekarang Menpora Imam Nahrawi dan Presiden Joko Widodo (Jokowi) “mendadak” ke Hambalang, apakah memang benar-benar KPK sudah me-release barbuk Hambalang tersebut untuk diteruskan kembali? Mengapa zaman dahulu tidak? Ada apa dengan KPK sekarang?

Membasmi korupsi adalah komitmen yang panjang. Dibutuhkan konsistensi dari generasi ke generasi. Kita tahu bahwa Megawati sebagai generasi awal pemberantasan korupsi telah melahirkan KPK, SBY dengan semua konsistensi dan kesungguhannya telah membesarkan KPK dengan berbagai cobaan.

Kini Jokowi sebagai generasi ke-3 haruslah membuat KPK semakin jaya. Jangan sampai terjerumus dalam mitos generasi pertama melahirkan, generasi kedua membesarkan, dan generasi ketiga menghancurkan…

Tentu kita jangan tinggalkan Jokowi berjuang sendiri untuk tegaknya KPK. Mari kita kawal bersama. Salam

*)Sekretaris Jenderal Partai Demokrat

(dik)