Brexit, Referendum, dan Catatan SBY

0746176Uni-eropa780x390

Menteri Luar Negeri dari enam negara pendiri Uni Eropa, Jean Asselborn (Luxemburg), Paolo Gentiloni (Italia), Frank-Walter Steinmeier (Jerman), Jean-Marc Ayrault (Perancis), Didier Reynders (Belgia), dan Bert Koenders (Belanda) memberikan keterangan kepada media pasca keluarnya Inggris dari blok tersebut di Berlin, Jerman (25/6/2016). (Associated Press)

Oleh: Dr Hinca IP Pandjaitan XIII*)

“Bangjen, pukul 19.00 malam ini, Ketum akan wawancara (via) Youtube tentang Brexit di London. Bangjen bisa merapat ke Cikeas? Trims”. Aku menerima pesan singkat dari Ibu Ani SBY persis pukul 04.28 WIB.

Beliau selalu memanggilku dengan sebutan sederhana: Bangjen. “Biar keren ada Medan-nya lagi,” katanya menjelaskan sambil bergurau.

“Siap meluncur, Bu,” balasku singkat lewat WA. “Ini pasti seru,” gumamku dalam hati sambil terus ikuti perkembangan dari London selama perjalanan menuju Cileas.

Jumat, 24/6/2016, ketika bertemu elite sebuah grup media, SBY sudah bicara dan mengingatkan akan pentingnya perhatian kita tujukan ke London dan hasilnya akan berdampak ke kawasan dan global.

Pelajaran Berharga

Begitulah cara Inggris mengambil keputusan. Apakah akan tetap di dalam EU atau keluar? Referendum adalah sarananya.

Referendum menjadi cara yang paling terhormat dan berdaulat. Setelah 43 tahun gabung EU, sejak 24 juni 2016, Rakyat Inggris memilih  keluar. Kita hormati sistem di Inggris ini. Pertanyaannya adalah, pelajaran apa yang kita peroleh dari pengalaman Inggris ini?

Dari pidato PM David Cameron kita petik banyak sekali pelajaran hebat mendewasakan kita bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Suara Rakyat Berdaulat

“The British people have voted to leave the EU and their will must be respected,” begitu dia mengumumkan sekaligus mengajak semua orang menghormati hasilnya. Tidak hanya menghormati tetapi juga harus dijalankan.

Mengapa begitu? Karena hasil referendum itu adalah perintah, perintah rakyat. Semua dunia menyaksikan dan tak mungkin mengkhianati hasilnya.

“… This is an instruction that must be delivered. There can be no doubt about the result. Across the world people have been watching the choice that Britain has made,” kata Cameron.

Lalu Cameron bilang lagi, “This will require strong, determined and committed leadership”. Dan dengan tenang serta meyakinkan karena dia tak bisa memastikan Inggris tetap bertahan di EU, ia pun bersikap; mundur.

Paling lambat Oktober 2016 sudah akan ada pemimpin baru Inggris. Guncangkah dunia?

“I am very proud to have been Prime Minister of this country for six years. I have held nothing back. The British people have made a very clear decision. I think the country requires fresh leadership. I do not think I can be the captain to take the country to its next destination. In my view I think we should have a new prime minister in place by the start of the Conservative conference in October.”

Apa Reaksi SBY?

Tanggal 26/6/2016, hanya dua hari setelah peristiwa politik sangat bersejarah terjadi di Inggris Raya, SBY langsung meresponsnya lewat program khusus Ketua Umum Partai Demokrat di Youtube, dengan tajuk “Isu-Isu Terkini Bersama SBY”.

Ada sembilan isu terkini yang diangkatnya, tak hanya peristiwa di Inggris tapi juga soal ultranasionalistik di kampanye capres Amerika Serikat dan soal nasionalisme di Natuna.

Bagaimana SBY merespons pascareferendum “Brexit” dan dampaknya di dalam negeri Inggris, regional EU dan dunia secara global ?

Ternyata SBY tidak terlalu terkejut dengan kejadian ini karena sudah mendiskusikan dan mengikuti rencana ini sejak tahun lalu dan sudah menanyakannya ke Angela Merkel, Kanselir Jerman, saat bertemu pada acara G20 di Cannes Perancis.

Sejak tahun lalu sudah ada suara Inggris keluar dari EU. Tetapi SBY menyatakan bahwa Ini adalah peristiwa besar dan menjadi  game changer bagi Inggris di Eropa dan di dunia global.

Pertanyaannya mengapa rakyat Inggris ingin keluar dari EU? Tentu yang lebih tahu rakyat Inggris sendiri, tapi bagi SBY pilihan ini pilihan yang sangat berani dan pilihan dramatis.

Salah satu sebab meninggalkan EU adalah karena rakyat Inggris tak mendapat keuntungan menjadi anggota EU. Alasan kedua adalah munculnya semangat berdaulat sebagai negara besar dan spirit nasionalisme. Masuknya Inggris di EU membuat negara itu merasa tak berdaulat dan kehilangan nasionalismenya.

Bagaimana tantangan yang akan dihadapi Inggris ke depan? SBY menjelaskan bahwa tak dapat dielakkan lagi, di internal negeri itu akan lahir krisis, pasar akan bergejolak, bisnis akan terguncang dan lain-lain.

Secara perspektif politik, bangsa Inggris terpecah khususnya Skotlandia dan Irlandia yang selama ini terus menunjukkan dinamika perjuangannya, bahkan juga London.

Ini semua harus dikelola dengan baik. Rekonsiliasi jadi penting. Proses keluar dari EU butuh waktu lama yang bisa memakan waktu sampai 2 tahun. Semuanya tergantung pada proses administratifnya. Bahkan efeknya ke EU secara keseluruhan akan sangat terasa.

Bagaimana dengan sikap super cepat pernyataan mundur dari jabatan Perdana Menteri Inggris?  SBY menegaskan tahu sikap David Cameron karena sudah bersahabat lama dan sering bertukar pikiran.

Itu adalah bentuk tanggung jawab yang mendalam beliau karena tak mampu mempertahankan Inggris tetap di EU. Tapi masih ada waktu sedikit sekitar 3 bukan untuk mengonsolidasikan Inggris pascareferendum itu. Mudah-mudahan berhasil.

Model kerjasama regional yang dipertontonkan EU selama ini dipuji karena berhasil. Apakah ASEAN perlu meniru EU? SBY berpandangan bahwa Model EU sebagai arsitektur model ada plus minusnya.

SBY mengutip Angela Merkel, sahabatnya dari Jerman, dan menyatakan adanya kesulitan besar dalam proses mengambil putusan bersama di EU.

Menurut SBY, tidak tepat jika ASEAN harus seperti EU. Sebab ASEAN lebih heterogen, sebaliknya EU lebih homogen.

Ideologi dan sistem politiknya juga berbeda-beda. Biarkan ASEAN tetap jadi asosiasi apalagi sekarang ASEAN sudah menjadi Masyarakat Ekonomi ASEAN

ASEAN itu adalah asosiasi dengan  tujuan utama perdamaian dalam konteks politik dan keamanan. Belakangan kesuksesan ini bisa merambah sampai ke soal ekonomi dan budaya, yang disebut ASEAN Values.

Tetapi, kata SBY, ASEAN harus belajar dari Inggris kenapa keluar dari EU. ASEAN jangan terlalu kaku, rigid, dan memaksakan diri seperti di  EU. ASEAN harus bisa mengelola kemajemukannya.

Tanpa Timor Leste, ASEAN tidak lengkap. Indonesia mendukung tetapi ada negara lain yang menolaknya karena dilihat dari sisi ekonomi semata yang tidak berdampak. Sesungguhnya ASEAN harus berpijak pada tiga pilar ASEAN: ekonomi, politik dan budaya secara utuh.

Referendum, Pilihan Demokratis atau Konyol?

Dalam perspektif tools demokrasi, referendum sudah dikenal sangat lama. Ia sebuah keniscayaan. Ia terasa adil bagi yang menang dan sebaliknya kejam bagi yang kalah.

Ia menjadi sarana yang diagungkan dan hebat bagi yang menang tapi dianggap paling konyol bagi yang kalah.

Indonesia punya pengalaman pahit ketika kedaulatannya dipertaruhkan di “meja raksasa” bernama referendum untuk menentukan apakah Timor Timur tetap berada di dalam kedaulatan Indonesia atau merdeka sendiri.

Banyak yang menyalahkan pilihan itu, meski tak sedikit yang memujinya. Padahal, referendum tak pernah salah, ia hanya sebuah tools. Yang menang dan yang kalah punya perasaan, sayang sekali referendum tak punya perasaan.

Keputusan sudah diambil. Referendum sudah melahirkan sejarah baru di Inggris. Sekarang tinggal bagaimana mengelola dampak referendum itu sendiri. Soal benar atau salah pilihan masyarakat Inggris itu, sejarahlah yang akan menjadi pengadil yang terbijak.

“Itu risiko yang harus dihadapi oleh pemimpin Inggris dan pemimpin dunia secara bersama-sama, termasuk kita di Indonesia”, kata SBY sambil mengajak saya diskusi di ruang kecil di Cikeas, menanti datangnya tiga elite PKS berdiskusi dengan Partai Demokrat.

*)Sekretaris Jenderal Partai Demokrat. Menulis untuk menyebarkan kebaikan, menabur optimisme sebagai bagian dari pendidikan politik bagi anak bangsa dalam kolom yang diberi judul: NONANGNONANG. Dalam budaya Batak berarti cerita ringan dan bersahaja tetapi penting bercirikan kearifan lokal. Horas Indonesia.

(disalin dari website kompas.com/dik)