Di Depan Sidang Umum PBB, Dino Bacakan Statement SBY soal Timor Leste

Mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, Dino Patti Jalal mewakili Presiden RI ke-6 (yang juga Ketua Umum Partai Demokrat) Susilo Bambang Yudhoyono di acara Sidang Umum PBB ke-72 di New York. (Foto: JawaPos)

New York: Pengalaman Indonesia berdamai dengan Timor Leste dijadikan contoh bagi dunia Internasional untuk mewujudkan rekonsiliasi pascakonflik.

Hal itu dikatakan Mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, Dino Patti Jalal saat hadir di acara Sidang Umum PBB ke-72 di New York, Rabu (20/9).

Dino mewakili Presiden RI ke-6 (yang juga Ketua Umum Partai Demokrat) Susilo Bambang Yudhoyono yang berhalangan hadir.

Dino menuturkan, acara tersebut terselenggara atas inisiasi dari Timor Leste. SBY secara khusus, kata dia, diundang untuk memberikan pengalamannya dalam merealisasikan rekonsiliasi Indonesia-Timor Leste.

Hadir dalam pertemuan itu Xanana Gusmao dan Ramos Horta juga hadir.

”Bagaimana konflik antara Indonesia dan Timor Leste yang parah sekali waktu itu. Sekarang bisa sembuh. Nah jadi saya diminta bacakan statement Pak SBY,” ujar dia saat ditemui di Markas Besar PBB di New York, Rabu (20/9) siang waktu setempat.

Dino mengungkapkan bahwa ada beberapa langkah yang perlu dilakukan untuk rekonsiliasi.

Yakni, kemampuan leadership dari pemimpin untuk mengawal rekonsiliasi. Kemauan untuk berdamai itu diterjemahkan dalam

kebijakan. Sehingga keinginan untuk berdamai dengan mantan bagian dari negara itu tidak terganggu sakit hati.

”Kemudian harus melihat kedepan. Kan banyak negara yang terlibat konflik, berseteru, tapi melihat ke belakang melulu. Kalau kita lihat di Asia Timur begitu. Makanya susah sembuhnya,” kata Dino.

Dino menuturkan negara yang mengalami konflik saat ini begitu banyak. Tapi yang bisa sembuh, dan rekonsiliasi dan rujuk sedikit sekali. Karena itu mereka ingin melihat negara-negara yang sukses.

”Itulah peran yang ingin disampaikan bahwa Indonesia-Timor Leste bisa dipelajari oleh Israel Palestina. Bisa dipelajari oleh Rusia Ukraina. Bisa dipelajari Syiria Irak,” pungkasnya.

(jawapos/dik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*