AHY, Kejutan Apa Lagi Setelah Hasil Survei?

Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY (antara/politiktoday)

Oleh: Fitria Gita Hapsari*) 

Di tiap pojok-pojok kampung Jakarta massa menyambut hangat sosok pemuda ini. Semua mata mampu menjangkaunya. Tubuh yang tinggi tegap itu mudah dikenali siapa pun ketika masuk-keluar kampung menyapa warga.

Gerilya lapangan menjadi cirinya. Sesekali orasi panggungnya diselingi sebuah aksi terjun bebas dari panggung sebagai ungkapan saling percaya, saling menjaga (Trust fall). Itulah ingatan sebagian kecil dari masa-masa kampanye Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY dalam pertarunganya di Pilkada DKI 2017.

Namun hasil Pilkada DKI menentukan lain. AHY kalah di putaran pertama. Akan tetapi, diluar dugaan banyak pihak, putra pertama Presiden RI ke-6, yag juga Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono itu justru mengeluarkan pernyataan mengejutkan. Ia menerima kekalahan itu dengan tenang dan penuh ketegasan.

“Secara ksatria dan lapang dada, saya menerima kekalahan saya dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta,” ucap AHY malam itu di Wisma Proklamasi, Jakarta Pusat.

Ia konon sempat berdiam diri. Menenangkan hati dan juga menyabarkannya. Tapi tak lama, ia bangkit dan move on. Semua orang menaruh hormat atas pidato kekalahan itu. Jelang usianya ke-39 tahun, ia mendirikan The Yudhoyono Institute (TYI) sebuah lembaga think tank yang menyiapakan generasi muda pemimpin bangsa yang unggul.

Sebagai Direktur Eksekutif TYI AHY melancarkan gerilya gagasan ke berbagai daerah. Kalangan muda menyambut antusias.

Kiprahnya terus menyedot perhatian. Tak aneh jika ia masuk dalam radar politik 2019.

Beberapa lembaga survei menyematkan nama AHY dalam jajak pendapat. Publik masih menaruh harapan pada AHY, meski eletabilitasnya masih jauh dari Jokowi dan Prabowo.

Di sisi lain, sosok Jokowi diberbagai survei elektabilitasnya belum mampu melampaui 50%. Tentu ini lampu kuning mengingat posisi Jokowi sebagai petahana. Sementara pesaing terdekat Jokowi, Prabowo dalam beberapa survei elektabilitasnya pun tak sanggup melampaui Jokowi.

Semua tentu sedang mengukur diri. Jika elektabilitas tidak melampau 50% jangan gegabah untuk mengatakan bahwa berpasangan dengan sandal jepit pasti akan menang.

Karena itu sosok orang nomor dua menjadi penting dipertimbangkan agar bisa mendongkrak perolehan suara.

Orang banyak sering mengatakan politik adalah seni segala kemungkinan. Itu artinya akan banyak kejutan. Pilpres 2019 diramalkan akan banyak kejutan.

Kejutan itu bukan datang dari siapa calon presiden tapi siapa orang yang akan mendampinginya. Meski belum memastikan diri, AHY memang sedang dilirik dan digadang-gadangkan akan maju dalam pusaran politik 2019.

Hitung-hitungan di atas kertas sedang disimulasikan, dipertimbangkan, sebagian manggut-manggut; siapa yang akan maju berpasangan dengan siapa. AHY akan menjadi kuda hitam! Terus terang tak ada sosok muda yang sejauh ini bisa menyamai AHY.

Banyak aktivis demokrasi yang seusianya tapi mereka lebih memilih jadi komisaris bukan sebagai pemimpin bangsa.

AHY memang menyimpan kejutan. Kekalahan dalam pilkada DKI tidak merubahnya menjadi pecundang.

Satu saat ia pernah mengatakan, sometimes we win sometimes we learn. Banyak hikmah yang didapat oleh AHY. Pijakan yang kokoh sedang dibangunnya selepas kekalahan, selagai apa yang dikatakan Nietzsche what doesn’t kill us makes us stronger, benar adanya.

Dan, kita tetap menunggu apa yang akan dilakukannya dalam pesta demokrasi 2019. Wassalam.

*)Mahasiswi, Tinggal di Jakarta

(politiktoday/dik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*