Demokrat dan FNF Membedah Paris Agreement

Suasana saat Partai Demokrat bekerjasama dengan Friedrich Naumann Stiftung fuer die Freiheit (FNF) menggelar seminar “Road to COP23” di Taman Politik, DPP Partai Demokrat, Jumat, 13 Oktober 2017. (MCPD/Iwan K)

Pernahkah kita membayangkan kejadian mahadahsyat, ketika bumi dihantam angin bersuhu dingin luar biasa. Angin itu membawa suhu mahadingin dari es yang mencair di kutub utara. Seluruh makhluk yang tersapu, seketika membeku. Miliaran manusia binasa. Bumi porak-poranda!

Peristiwa itu pernah terjadi di tahun 2004. Untunglah itu hanya terjadi dalam sebuah film berjudul The Day After Tomorrow, disutradarai Roland Emmerich.

Film itu sejatinya mengingatkan kita tentang bahayanya pemanasan global. Para ahli memperkirakan dampak pemanasan global, antara lain, meningkatnya suhu air laut; meningkatkan terjadinya badai, melelehnya es di kutub, meningkatnya permukaan air laut, terjadinya banjir, punahnya berbagai spesies flora dan fauna, hilangnya berbagai terumbu karang, terjadinya krisis air bersih, merebaknya wabah penyakit, tenggelamnya banyak pulau, menyusutnya tubuh binatang,  dan melelehnya Pegunungan Alpen.

Partai Demokrat memandang sangat serius persoalan pemanasan global. Jauh sebelumnya, Presiden RI ke-6 (2004-2014) Susilo Bambang Yudhoyono (kini Ketua Umum Partai Demokrat) pada November 2009 telah membuat dunia terkesan. SBY berkomitmen menurunkan 41 persen emisi karbon di Indonesia sebelum 2020. Syaratnya, dunia internasional mendukung Indonesia.

Pada Desember 2015, Konferensi Perubahan Iklim atau COP 21 Paris menyepakati perjanjian baru untuk penanganan perubahan iklim. Paris Agreement atau keputusan bersama konferensi itu disepakati (termasuk oleh Indonesia ) pada 12 Desember 2015 waktu setempat.

Menindaklanjuti komitmen Indonesia terhadap pengurangan emisi global, Partai Demokrat bekerjasama dengan Friedrich Naumann Stiftung fuer die Freiheit (FNF) menggelar seminar “Road to COP23” di Taman Politik, DPP Partai Demokrat, Jumat, 13 Oktober 2017, pukul  15.00-17.30  WIB.

Seminar ini bertopik: Membedah Komitmen Paris 2015, Realisasi Target Pengurangan Emisi. Narasumber yang dihadirkan adalah Yulia Suryanti (dari Ditjen Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) serta  Rizky Hikmawan (Akademisi/Dosen Hubungan Internasional Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta). Bertindak sebagai moderator Sekretaris Divisi Hubungan Luar Negeri DPP Partai Demokrat Muhammad Husni Thamrin.

Hadir dalam seminar itu Ketua dan Sekretaris Divisi Komunikasi Publik DPP-PD Imelda Sari dan Hilda Thawila, Sekretaris Departemen Agama DPP-PD Elfira Kaunang, para kader Demokrat serta masyarakat pecinta lingkungan hidup

Suasana saat Partai Demokrat bekerjasama dengan Friedrich Naumann Stiftung fuer die Freiheit (FNF) menggelar seminar “Road to COP23” di Taman Politik, DPP Partai Demokrat, Jumat, 13 Oktober 2017. (MCPD/Iwan K)

Yulia Suryanti menyatakan telah banyak kemajuan yang dihasilkan Paris Agreement.  Sebanyak 195 dari 196 negara anggota UNFCCC menyepakati Paris Agreement tersebut sebagai protokol baru yang menggantikan Protokol Kyoto. Ini adalah kesepakatan bersama menangani perubahan iklim dengan berbagai aspeknya. 195 negara juga berkomitmen melakukan pembangunan rendah emisi.

Paris Agreement menjadi momentum penanganan krisis perubahan iklim dengan aksi global pengurangan emisi karbon, mendorong inovasi dan membuat dunia lebih aman untuk generasi mendatang.

Paris Agreement berdampak besar secara global karena didasarkan komitmen penanganan perubahan iklim oleh 195 negara.

Sayangnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan secara resmi AS (yang sebelumnya ikut menyepakati Paris Agreement) menyatakan keluar dari Paris Agreement. Keputusan ini tentu berdampak bagi upaya dunia melakukan pembangunan rendah emisi.

Rizky Hikmawan menyatakan, Paris Agreement seyogyanya menjadi keputusan krusial agar melakukan pembangunan rendah emisi. Ini tentu tak lepas dari tekanan negara-negara maju yang tidak ingin lagi memanfaatkan bahan bakar fosil. Negara-negara di Eropa memang sudah mengusahakan energi terbarukan. Jerman, misalnya, berkomitmen secara total menggunakan energi terbarukan pada 2050.

Tentu saja upaya Jerman dan negara-negara maju di Eropa memakai energi terbarukan  tidak bisa langsung diimbangi negara-negara berkembang. Memakai energi terbarukan menbutuhkan waktu mengingat mahalnya biaya yang diperlukan. Mulai riset hingga pengolahannya.

Rizky Hikmawan juga menilai, keluarnya AS dari  Paris Agreement adalah langkah mundur bagi upaya pembangunan rendah emisi di dunia. Tetapi hal ini bisa dimaklumi karena sebagai negara industri yang juga penghasil energi fosil, masyarakat AS sangat dimanjakan dengan penggunaan energi fosil. Paris Agreement akan berdampak buruk bagi ekonomi AS. Paris Agreement tidak membawa keuntungan bagi AS menghadapi para rivalnya di bidang ekonomi antara lain Tiongkok dan Eropa.

Eropa berbeda dengan AS. Sebagian besar negara maju di Eropa mengandalkan energi fosil (utamanya gas) dari Rusia. Tentu mereka tidak ingin bergantung kepada Rusia. Sehingga mereka berusaha keras agar dapat secepatnya menggunakan energi terbarukan.

Di akhir diskusi, Husni Thamrin mengingatkan pada hadirin besarnya perhatian SBY pada pembangunan rendah emisi. Secara khusus ia mengajak para kader agar meningkatkan perhatian pada lingkungan hidup. Upaya para kader menjaga lingkungan hidup, termasuk memperjuangkan pembangunan rendah emisi, pasti mendapatkan simpati besar dari masyarakat.

Husni Thamrin benar karena, tentu, tak seorang pun masyarakat kita yang ingin disapu angin mahadingin hingga membeku, layaknya adegan di film The Day After Tomorrow.

(didik l. Pambudi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*