Pilpres 2019, AHY Sang Penentu

Agus Harimurti Yudhoyono (theyudhoyonoinstitute)

Oleh: Muhammad Rafiuddin Zamzami

Masyarakat Indonesia sepertinya sangat mengikuti dinamika politik yang terjadi. Meski Pemilihan Presiden (Pilpres) masih dua tahun lagi, tapi gejolaknya sudah mulai terasa memanas.

Pembicaraan tentang siapa kandidat Presiden dan Wakil Presiden sudah menjadi santapan kala masyarakat berkumpul, tidak saja di elit politik tapi sudah hingga kedai kopi dan media sosial.

Berdekatan dengan tiga tahun pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla. Dua lembaga riset Polmark dan Roda Tiga Konsultan (RTK) mengeluarkan hasil survey mereka, dan salah satu titik fokusnya adalah elektabilitas Capres dan Cawapres.

Polmark melakukan survei terhadap 2.250 responden yang tersebar di 32 provinsi. Survei ini dilakukan pada 9-20 September 2017 dengan metode multi stage random sampling dengan margin of error +/- 2,1 %. Hasilnya Jokowi masih teratas diikuti Prabowo, dan kejutan kembali terjadi dimana Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menempati posisi ketiga. Anak muda ini mengalahkan nama-nama kondang lainnya, seperti Zulkifli Hasan, Megawati, Hari Tanoe, Gatot Nurmantyo, Anies Baswedan.

Hasil tidak jauh berbeda dilangsir RTK. Survei yang digelar pada 15-29 September 2016 dengan 2.600 responden menggunakan metode Stratified systemic random sampling dalam survei ini, serta Margin of error survei 2,0% dan quality control sebesar 20%. Jokowi, Prabowo dan AHY menempati posisi tiga besar. Namun dari sisi angka antara Jokowi dengan Prabowo tidak terlalu besar seperti yang disampaikan Polmark.

Jika di Polmark selisih antara Jokowi dan Prabowo mencapai 20 persen, sedangkan di RTK hanya berkisar 12 persen. Kesamaan dari keduanya adalah posisi AHY di posisi ketiga, dan berhasil mencuri panggung para jawara politik tanah air.

Jika merunut kepada ucapan Mendagri Tjahjo Kumolo beberapa waktu lalu tentang kemungkinan adanya tiga pasangan calon di Pilpres 2019. Maka kita bisa berandai-andai kandidat yang bertarung adalah diposisi tiga besar, yaitu Jokowi, Prabowo dan AHY.

Menarik jika ini terjadi, karena bagi Jokowi Pilpres 2019 adalah kesempatan kedua dan jika menang maka itu terakhir. Bagi Prabowo Pilpres 2019 kemungkinan bakal terakhir juga, karena faktor umur yang sudah tergolong tua. Prabowo telah dua kali kalah di kompetisi resmi, pada 2009 kalah bersama Megawati, dan 2014 kalah dengan Jokowi.

Sedangkan bagi AHY ini adalah kesempatan pertama bertarung di level tertinggi. Meski baru hitungan satu tahun terjun ke dunia politik, AHY telah menjadi magnet baru dan menyedot perhatian. Dengan usia yang baru menginjak 40 pada tahun 2019, AHY punya kesempatan panjang mengabdi didunia politik.

AHY Bakal Jadi Penentu Pilpres 2019

Dalam survei yang dilaksanakan RTK juga menyertakan kemungkinan siapa kandidat Cawapres dua kandidat terkuat. Dari beberapa komposisi yang diberikan, masyarakat ternyata memberikan respons yang cukup variatif. Dari sekian nama yang disodorkan, ternyata ada kandidat Cawapres yang memberikan paling besar keuntungan penambahan pemilih bagi Capresnya.

Nama itu ternyata lagi-lagi adalah AHY. Jika dia dipasangkan dengan Jokowi, angka keterpilihan mereka mencapai 37 persen, sedangkan dengan Prabowo mencapai 29 persen. Dibandingkan kandidat Cawapres lain seperti Gatot, Puan, Anies, nama AHY lebih memberikan dampak lebih besar.

Belajar dari pengalaman pada tahun 2014, posisi Cawapres sangat menentukan kemenangan. Lihat bagaimana JK memberikan keuntungan besar untuk Jokowi dengan kemenangan telak di Indonesia bagian timur. Hal serupa sepertinya berlaku ditahun 2019 mendatang, salah dalam menentukan posisi Cawapres, maka peluang untuk tumbang bakal besar.

Muncul nama AHY dalam pertarungan menuju Pilpres 2019 baik itu sebagai Capres ataupun Cawapres, menunjukkan putra sulung Presiden RI ke 6 ini (SBY) bakal jadi penentu.

Lalu apa yang membuat masyarakat mulai melirik sosok AHY. Bukankah dia masih baru dalam dunia politik, dan mengalami kekalahan dalam Pilkada DKI Jakarta? Merujuk kepada ucapan budayawan Jaya Suprana yang mengatakan AHY wajib kalah di DKI karena jabatan itu terlalu rendah bagi dirinya. Pendiri MURI itu mengatakan sikap kenegawaran yang dimiliki AHY lebih cocok mengabdi dilevel nasional.

Karena kalah di DKI Jakarta lalu, masyarakat menjadi mengetahui bagaimana sikap seorang AHY sebenarnya. Secara kesatria dia menerima kekalahannya, dan itu dibuktikan secara tindakan bukan hanya omongan. Lihat bagaimana dia merajut kembali silaturahmi dengan Anies Baswedan sebagai pemenang, dan Ahok yang tengah menjalani hukuman.

AHY dinilai bakal jadi penentu karena dia punya beberapa keuntungan. Pertama cerdas, hal ini terbukti dari banyaknya prestasi yang ditorehkan suami Anissa Pohan itu baik dalam negeri maupun luar negeri. Kedua cinta NKRI, dengan menjadi seorang prajurit AHY tidak perlu diragukan lagi tentang kecintaannya terhadap republik ini.

Ketiga basis daerah pemilih, AHY memiliki keterikatan dengan banyak daerah. Orangtuanya berasal dari Jatim, lahir di Jabar, tinggal di Jakarta. Daerah-daerah itu merupakan basis suara terbesar di Indonesia.

Keempat mewakili pemilih pemuda. Dengan tingginya angka pemilih yang berusia muda saat ini, memberikan keuntungan bagi AHY sebagai perwakilan dari pemuda. Karena kecenderungan pemuda untuk memilih dirinya juga akan semakin besar.

Banyak faktor lain yang membuat AHY menjadi sosok yang menentukan. Menarik untuk ditunggu, apakah AHY bakal menjadi kandidat ketiga diantara Jokowi dan Prabowo. Atau AHY akan menjadi Cawapres yang memberikan keuntungan bagi siapapun kandidat Presiden pada Pilpres 2019 yang akan datang.

(politiktoday/dik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*