Milenial dan Kebangkitan Partai Demokrat

Ilustrasi kaum milenial memilih (Photo: Jon Dickson/www.theclause.org)

Elektabilitas Partai Demokrat berada di posisi tiga teratas dalam survei terbaru Centre for Strategic and International Studies (CSIS). Dalam survei bertajuk “Orientasi Sosial, Ekonomi, dan Politik Generasi Milenial” yang dirilis Jumat (3/11,) Partai Demokrat dipilih oleh 13.7 persen generasi milenial dan 5.0 persen non-milenial.

Perolehan partai berlambang segitiga “mercy” itu berada di bawah Gerindra yang dipilih oleh 17.8 persen generasi milenial dan 13.4 persen non-milenial, serta PDIP yang dipilih oleh 26.5 persen generasi milenial dan 36.9 persen non-milenial. Namun, meski berada di bawah Gerindra dan PDIP, pemilih Partai Demokrat didominasi generasi milenial. Selisih pemilih milenial dan non-milenial di partai ini sangat besar. Paling besar dari semua partai.

Peneliti CSIS Arya Fernandes mengatakan, besarnya selisih pemilih milenial dan non-milenial membuktikan bahwa partai ini cukup berhasil meraih pemilih baru dari generasi baru pemilih Indonesia. Setelah ditinggalkan pemilih lama karena badai isu korupsi yang membuat partai ini jeblok pada Pemilu 2014 dengan hanya memeroleh 10,19 persen suara, recovery yang mereka lakukan ternyata berhasil meraih pemilih generasi baru.

“Partai Demokrat ini unik. Orang perkirakan sudah wassalam (tumbang), mungkin setelah mereka recovery, ternyata tidak. Dan penetrasi milenialnya cukup besar. Mungkin hari ini kesulitan secara populasi nasional, tapi ke depan ini bisa kuat. Karena dukungan milenialnya cukup besar,” kata Arya saat memaparkan hasil survei.

Generasi milenial adalah generasi yang pernah melewati milenium kedua sejak teori generasi diperkenalkan pertama kali oleh Karl Mannheim pada 1923. Mereka adalah orang yang lahir dalam rentang 1981-1999. Atau mereka yang saat ini berusia 18-36 tahun. Ada banyak versi terkait rentang usia generasi milenial. Dalam survei ini, CSIS menggunakan rentang usia 17-29 tahun seperti digunakan Harvard University. Badan Pusat Statistik merilis, generasi milenial ini diperkirakan mencapai 86 juta jiwa atau 48% pemilih pada Pemilu 2019. Dengan angka itu, ia akan menjadi penentu. Tak salah bila Arya memprediksi Partai Demokrat akan kuat di masa depan, karena pendukung partai ini didominasi kelompok milenial.

Berebut Suara Milenial

Upaya merebut pemilih milenial dilakukan oleh hampir semua partai politik. Mereka berlomba-lomba mencitrakan diri sebagai partainya anak muda dan menawarkan beragam program dengan konten kepemudaan.

Kelompok milenial memang generasi pemilih baru, tapi partai yang menjadi pilihannya tak harus partai baru. Tiga teratas pilihan mereka adalah partai lama, yakni PDIP, Gerindra, dan Partai Demokrat. Dan dari tiga partai ini, Partai Demokrat adalah partai yang selisih pemilih milenial dan non-milenialnya paling tinggi.

Seperti dikatakan Arya, tingginya selisih milenial dan non-milenial di Partai Demokrat menunjukkan bahwa partai ini adalah partai yang hampir tumbang tapi berhasil melakukan recovery. Pemilu 2014 menjungkirbalikkan sejarah Partai Demokrat, dari yang semula partai papan atas menjadi partai tengah yang hanya memerolah 10.9 persen suara.

Menyadari keterpurukan itu, SBY mengambil kendali partai dan melakukan pemulihan. Dikukuhkan kembali sebagai ketua umum pada Kongres IV Partai Demokrat di Surabaya, Mei 2015, SBY lalu memilih orang-orang kepercayaannya yang dianggap mampu mengembalikan kejayaan partai. Salah satu orang itu adalah Hinca Pandjaitan, yang didapuk menjadi Sekretaris Jenderal. Di bawah Hinca inilah, mesin politik partai yang selama ini hampir tumbang, kembali digairahkan.

Sebagai sekjen, Hinca memastikan semua mesin partai, dari tingkat atas hingga paling bawah, bekerja maksimal. Terbaru, ia membuat program Gerakan Serbu Ranting, sebuah gerakan untuk memaksimalkan kerja politik ranting partai. Ranting adalah alat partai setingkat kelurahan atau desa. Ia bersentuhan langsung dengan masyarakat. Karenanya, Hinca ingin memastikan, ranting ini mampu menjadi solusi dari barbagai permasalahan masyrakat di kelurahan atau desa seluruh Indonesia.

Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro, mengatakan, Hinca adalah figur dengan kemampuan komunikasi yang baik. Dengan dipilihnya Hinca sebagai sekjen, kata Zuhro, Partai Demokrat jelas hendak memperbaiki komunikasinya dengan publik.

“Ada kesan Partai Demokrat ingin membangun komunikasi yang lebih baik dengan publik, lewat terpilihnya Hinca,“ kata Zuhro kepada wartawan menanggapi susunan pengurus baru Partai Demokrat yang baru dilantik waktu itu.

Penilaian Siti Zuhro ini terbukti. Di bawah komando Hinca, komunikasi partai berjalan baik dan efektif. Hinca menyadari bahwa komunikasi memainkan peran sentral dalam meningkatkan elektabilitas. Elektabilitas ditentukan oleh persepsi publik, dan persepsi publik ditentukan oleh komunikasi partai. Salah satu terobosan Hinca dalam bidang komunikasi ini adalah menjadikan sosial media, baik Facebook, Twitter, maupun Instagram sebagai medium untuk berinteraksi dengan kelompok milenial. Karena salah satu karakter milenial suka budaya visual, Hinca juga sering memosting video yang berisi pesan-pesan politik. Terobosan ini disambut oleh pengurus di tingkat DPD hingga DPC sehingga menjadi gelombang besar.

Terobosan itu juga ditopang oleh cara Demokrat dalam menyikapi berbagai isu yang tidak memihak. Ketika politik terpolarisasi kepada dua kubu yang saling bersebarangan, Demokrat selalu memilih posisi tengah. Ini seperti Presiden Soekarno yang mengambil posisi nonblok ketika politik global waktu itu terpolarisasi ke dua blok bertentangan. Pilihan tengah menjadi pilihan terbaik dan disukai oleh masyarakat Indonesia.  Hasilnya, pelan tapi pasti, elektabilitas partai benar-benar naik. Dari survei CSIS, elektabilitas itu ditopang oleh pemilih baru dari generasi milenial.

Faktor lain dibalik dukungan milenial ini, selain perbaikan kerja partai, tentu saja adalah munculnya nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai figur baru. Dari data survei CSIS, AHY mampu menarik perhatian generasi milenial. Di kelompok generasi milenial, popularitasnya mencapai 76,2 persen, sementara elektabilitasnya 2,7 persen.

“Setelah jeblok di 2014, Demokrat mulai menemukan ikon baru yaitu AHY yang diharapkan bisa mendongkrak suara terutama di kelompok milenial,” kata Arya.

Mendobrak panggung politik lewat Pilkada DKI Jakarta, AHY tampil sebagai representasi kaum muda yang cerdas. Tak hanya itu, meski masih muda, ia menunjukkan kedewasaan politik yang luar biasa. Pidatonya setelah dinyatakan kalah pada Pilkada DKI mendapat apresiasi luar biasa dari banyak tokoh dan publik.

Kalah bukan akhir karier politik AHY. Ia justru makin bersinar setelah kalah.  AHY mendirikan lembaga think-tank The Yudhoyono Institute, menjadi pembicara di berbagai seminar, dan silaturahmi ke tokoh-tokoh politik. Muda, cerdas, dan dewasa. Itulah sosok AHY yang membuatnya dipilih generasi milenial sebagai pemimpin alternatif.

Hadirnya figur AHY menjadi berkah bagi Partai Demokrat. Ia melengkapi syarat kebangkitan sebuah partai. Sejarah politik tanah air membuktikan, mesin partai yang bagus saja tidak cukup untuk memenangi sebuah kompetisi jika tidak ditopang oleh figur ideal. Ia seperti dua sisi mata uang yang sama. Dengan kata lain, jika Hinca dan pengurus lainnya mulai berhasil me-recovery mesin partai, maka AHY adalah syarat pelengkap yang akan membawa partai ini menjadi pemenang pada Pemilu 2019.

(Subairi Muzakki/nasionalisreligius.com/dik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*