Rusia dan Turki, Keseimbangan Kekuatan Baru di Timur Tengah?

Peta Baru Timur Tengah (repro: globalreview)

Oleh: Indra Denni*)

Keterlibatan Negeri Beruang Merah di dalam konflik Timur Tengah sepuluh tahun terakhir, khususnya perang saudara yang melibatkan legiun asing berbagai negara di Suriah, nampaknya merupakan langkah awal Rusia untuk menggeser hegemoni Amerika Serikat dari Timur Tengah sejak awal Perang Dingin (1945-1950).

Apalagi Rusia punya kepentingan strategis untuk menjaga dan mengamankan pelabuhan di Suriah, Tartous, yang berfungsi sebagai basis Mediterania Rusia untuk armada Laut Hitam, dan sebuah pangkalan udara di Latakia.

Tampil kembalinya “wajah” Rusia di bawah kekuasaan pemerintahan  Vladimir Putin di Timur Tengah, merupakan salah satu faktor pendorong bagi Rusia untuk mengembalikan reputasi dan pengaruhnya  yang sempat terpuruk menyusul  kekalahan Uni Soviet ketika menduduki  Afghanistan.

Pasukan Soviet pertama kali sampai di Afghanistan pada tahun 1979 dan kemudian akibat kuatnya perlawanan kelompok-kelompok milisi bersenjata yang didukung AS seperti Taliban, Soviet akhirnya terpaksa menarik pasukannya pada 1989. Selama kurun waktu 1979-1989 itulah Uni Soviet terlibat aktif dalam konflik perang saudara di Afghanistan.

Kekalahan Uni Soviet tersebut ketika menjelang runtuhnya tembok Berlin dan berakhirnya Perang Dingin, dibaca  berbagai pakar politik internasional sebagai awal dari runtuhnya hegemoni Negeri Beruang Merah tersebut, khususnya di Timur Tengah. Dan perang Soviet versus Afghanistan ketika itu terkenal dengan istilah “Perang Vietnam”-nya Uni Soviet. Persis seperti tentara AS terpaksa harus menarik pasukannya dari Vietnam akibat kuatnya perlawanan  bersenjata tentara Vietnam Utara pimpinan Ho Chi Min dan Jendral Vo nguyen Giap.

Masterplan geo-ekonomi dan geo-politik Rusia di kawasan Timur Tengah pasca keruntuhan Uni Soviet direvitalisasi kemudian mengalami revitalisasi dengan tampilnya Vladimir Putin sebagai Presiden Republik Federasi Rusia.  Yang menarik dari perkembangan terkini, hubungan erat antara Rusia dan Turki mulai membaik kembali. Hal ini terlihat pasca-kudeta gagal terhadap Presiden Thoyeb Erdogan beberapa waktu yang lalu.

Nampaknya Rusia mampu melihat ke depan, bahwa Arab Saudi sudah tidak lagi bisa dijadikan sebagai  parameter kekuatan di negara-negara yang selama ini kita kenal sebagai Dewan Kerjasama Teluk atau Gold Cooperaton Council atau GCC.  Sepertinya  “kiblat” akan segera berpindah ke Turki saat ini di Jazirah Timur Tengah.

Pasca-perang Arab-Israel pada periode 1973-1974, negeri dinasti Ibnu Saud tersebut terjebak oleh Amerika Serikat dengan beragam bantuan, yang antara lain; persenjataan canggih, penasehat militer dengan dalih untuk melindungi Arab Saudi dari invasi negara lain. Dan sebagainya.

Padahal Amerika Serikat dan sekutunya, memiliki agenda strategis untuk membungkam negara-negara di Timur Tengah agar tidak lagi menjadikan “minyak” menjadi senjata politik. Skala prioritas negara yang terlebih dahulu dibungkam adalah Arab Saudi, yang pernah melakukan embargo minyak 1974 terhadap Amerika Serikat.

Adapun Turki, memiliki posisi yang strategis, merupakan penghubung antara Eropa dan Asia. Dan Turki memiliki peranan penting sebagai jalur minyak serta gas alam dari Timur Tengah menuju Uni Eropa.

Turki juga menjadi transit minyak Rusia dan Asia Tengah. Dari sudut pandang historis dan demografis tersebut Turki merupakan daerah penting, strategis dan ekonomis bagi Timur Tengah, Asia Tengah dan Kaukasus.

Kemesraan Turki dan Rusia bukan tanpa tekanan. Kebijakan Erdogan membuka pintu terhadap Rusia memiliki resiko dikeluarkannya Turki dari keanggotaan North Atlantic Treaty Organization (NATO).

Rusia dan Isu Yerusalem

Kebijakan pemerintahan AS pimpinan Donald J Trump mengakui sepihak Yerusalem menjadi ibukota Israel, Washington menurut saya telah melakukan “blunder” politik sehingga mendapat kencaman khususnya dari negara-negara di Timur Tengah.

Momentum “emas” ini dimanfaatkan Rusia sehingga mendapatkan simpati dari negara-negara Timur Tengah. Keberpihakan Negeri Beruang Merah terhadap Palestina direalisasikan melalui Dewan Keamanan Bangsa Bangsa (DK PBB).

AS masih memandang sebelah mata kepada Rusia, pasca Uni Soviet menelan kekalahan di Afghanistan. Presiden Trump nampaknya  memandang enteng  peran strategis yang sedang dimainkan Rusia di Suriah saat ini.

Proyek ambisius Washington untuk grand design di Timur Tengah nampaknya sulit tereallisasi sekarang ini, karena Rusia telah merebut simpati berbagai elemen strategis masyarakat di kawasan Timur Tengah.

Sepertinya Rusia sudah membaca langkah permainan bidak catur Paman Sam. Presiden Vladimir Putin melihat kebijakan luar negeri Amerika  di bawah kekuasaan Presiden Donald Trump lemah. Khusus-nya di kawasan Timur Tengah.

Konflik Terusan Suez

Rusia sudah melihat bahwa Terusan Suez merupakan “bom waktu” yang suatu saat akan meletus kembali konflik, antara kepentingan Amerika, Inggris dan Perancis versus Mesir.

Sejarah panjang tentang Terusan Suez, awal pembangunan Terusan Suez bermula pada tahun 1854. Diprakrasai oleh Konsuler Jenderal Prancis untuk Mesir, Ferdinand De Lesseps. Dan membuat perjanjian dengan Perwakilan Kerajaan Ottoman di Mesir untuk membuat sebuah kanal terusan sepanjang 160 km yang melintas di Tanah Genting Suez (Isthmus of Suez).

Pada tahun 1875 Inggris menjadi pemegang saham terbesar Suez Canal Company, setelah membelinya dari Perwakilan Kerajaan Ottoman di Mesir.

Dikelola Inggris kanal tersebut berkembang menjadi jalur pelayaran paling ramai di dunia.

Pada tahun 1882 awal konflik Inggris-Mesir dan memulai pendudukan di wilayah tersebut. Berakhir tahun 1936, dengan dilakukan penandatanganan The Anglo-Egyptian Treaty, pada akhirnya Mesir dapat merdeka dari penjajahan Inggris. Walau Inggris tetap mempertahankan kepentingannya di zona Terusan Suez.

Pada tahun 1956 Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser menasionalisasi kanal tersebut dan terjadi invasi Israel melakukan penyerangan di Terusan Suez dibantu Inggris dan Prancis dikenal dengan perang enam hari tahun 1967.

Terusan ini terdiri dari dua bagian, utara dan selatan Danau Great Bitter, menghubungkan Laut Tengah ke Teluk Suez. Posisi Terusan Suez sangat strategis menghubungkan Laut Mediterania dan Laut Merah.

Amerika Serikat dan sekutunya memiliki kepentingan strategis di wilayah tersebut, bila Terusan Suez terjadi konflik ini akan mengganggu suplay minyak dan dampaknya geo-ekonomi Washington plus Uni Eropa akan kolaps.

Kegaduhan di Terusan Suez tinggal menunggu waktu, disebabkan faktor kebijakan luar negeri Donald Trump yang melulu mengundang kontroversi dunia internasional. Khususnya di kawasan Timur Tengah.

Posisi Rusia cukup strategis untuk melebarkan sayap, bila terjadi konflik di teritorial Mesir zona Terusan Suez tersebut.

Paman Sam beserta sekutunya sulit membendung, kekuatan hegemoni Rusia ke depan di kawasan Timur Tengah.

Mungkinkah pada akhirnya Amerika dan sekutu-nya, akan menempuh perang terbuka dengan Rusia? Dimulai dengan Proxy War dan diakhiri melalui perang konvensional. Semoga tidak terjadi.

*)Fungsionaris Depko Perekonomian DPP Partai Demokrat dan Wasekjen Ikatan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia

(theglobal-review.com/dik)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*