Duet Anies-AHY, Calon Alternatif yang Diinginkan Rakyat

Anies Baswedan dan Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY (foto: politiktoday)

Anies Baswedan dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dua tokoh muda yang paling sering dibicarakan banyak orang jika mengulas Pilpres 2019. Keduanya merupakan tokoh potensial untuk dijadikan calon pendamping. Bahkan tidak tertutup kemungkinan bila salah satunya didapuk untuk maju untuk kursi orang nomor satu. Apalagi jika keduanya bisa bersatu, maka hal itu akan menjadi ancaman besar bagi para kandidat muka lama.

Berkaca pada sejumlah survei sepanjang tahun 2017, sekitar 60 persen lebih rakyat Indonesia menginginkan munculnya calon alternatif. Sebab, elektabilitas Presiden Joko Widodo, terbilang kurang bagus untuk seorang petahana. Sementara, elektabilitas pesaingnya, Prabowo Subianto, selalu stagnan. Jadi, hampir semua lembaga survei beropini, jika duel Pilpres 2014 kembali terulang, maka hasilnya juga tak jauh beda.

Mungkin yang akan menjadi pembeda adalah siapa wakil yang akan dibawa Jokowi dan Prabowo ke gelanggang kontestasi. Jika kita meraba-raba, setidaknya ada dua nama potensial yang kemungkinan bisa mendongkrak raihan suara mereka. Yaitu Anies dan AHY. Keduanya berpeluang maju karena memiliki popularitas yang mumpuni di tengah masyarakat. Bahkan di beberapa lembaga survei keduanya selalu memuncaki daftar elektabilitas calon wakil presiden.

Meski begitu, pasti ada kekurangan dan kelebihan dari masing-masing tokoh tersebut. Pertama Anies. Meski menang dalam kontestasi Pilkada DKI Jakarta, namun ia tak sepenuhnya diterima oleh warga ibu kota. Lantaran sebagian pendukung petahana belum bisa move on dari kekalahan kandidatnya. Anies dulu juga pernah berjanji tidak akan menjadikan pilkada sebagai batu lompatan untuk pilpres. Ia mengaku akan menyelesaikan pengabdiannya sebagai gubernur Jakarta hingga masa tugas berakhir.

Melihat konsistensi Anies dalam menunaikan janji-janji kampanyenya di Jakarta, cukup mustahil jika membayangkan ia akan bersedia direkrut untuk mendampingi Prabowo di Pilpres 2019. Kecuali mantan Danjen Kopassus itu berkenan legowo dan menyerahkan tiket pilpres ke tangan Anies, maka mungkin saja kondisinya bisa berubah. Anies maju melalui Gerindra, PKS dan PAN, tinggal mencari pendamping yang pas untuk menghadang laju petahana.

Kedua AHY. Putra sulung Presiden RI-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini memiliki banyak kemungkinan untuk berkontestasi di pilpres. Ia bisa saja bergabung bersama Prabowo. Toh, ketua umum Gerindra itu pernah membuka komunikasi dengan Partai Demokrat kala berkunjung ke Cikeas, kediaman SBY, beberapa waktu lalu. Meski sama-sama berlatar-belakang militer, hal itu diyakini tidak akan menjadi penghalang. Namun yang menjadi pertanyaan, mungkinkah PKS rela posisi calon wakil presiden diserahkan kepada Demokrat? Sebab, selama ini mereka sudah memberikan loyalitas yang tinggi terhadap kepentingan politik Prabowo.

Selain dengan Prabowo, AHY juga berpeluang besar untuk merapat ke Jokowi. Sebagaimana diketahui, mantan gubernur DKI itu tengah ‘perang dingin’ dengan partai pengusungnya, PDI Perjuangan. Partai besutan Megawati Soekarnoputri itu ngotot mengajukan dua nama untuk calon pendamping Jokowi, Menko PMK Puan Maharani dan Kepala BIN Budi Gunawan. Keduanya disebut-sebut kurang disukai Jokowi lantaran tak punya prestasi dan memiliki elektabilitas rendah. Hal ini yang memicu PDIP enggan menyatakan dukungan kepada Jokowi untuk pilpres mendatang.

Jika seandainya nanti berpisah dengan PDIP, Jokowi masih memiliki peluang untuk maju, yakni dengan menggunakan ‘kendaraan’ politik Partai Golkar. Ia bisa berkoalisi dengan Demokrat dan menggandeng AHY sebagai calon wakil. Dengan begini, kemungkinannya untuk menang relatif tinggi, karena disokong dua parpol besar ditambah dengan faktor SBY. Jangan lupa, mantan presiden dua periode ini masih amat dicintai rakyat negeri ini. Di Pilpres 2014, endorsment SBY lah salah satunya yang menjadi pendongkrak raihan suara Prabowo. Jadi, jika Jokowi menggandeng AHY, ia tidak hanya mendapat Demokrat, parpol dengan presidential threshold 10 persen, tetapi juga mendapat SBY. Itu keuntungannya.

Meski begitu, banyak pula rakyat yang berharap AHY bergabung bersama Anies untuk menjadi kandidat potensial. Rakyat ingin perubahan dan itu tidak mungkin mereka dapatkan dari figur-figur politikus lama. Anies bisa menjadi capres, karena ia sudah membuktikan kepemimpinannya di Jakarta. Sementara AHY selaku cawapres juga sudah menjadi teladan kaum muda yang menginspirasi mereka untuk maju dan berkarya. Setiap kali kunjungannya ke daerah, selalu disambut antusias oleh rakyat Indonesia. Bisa jadi, rakyat rindu akan masa-masa kepemimpinan SBY, sehingga berharap suatu saat nanti AHY bisa menjadi pemimpin yang dicintai seperti sang ayah.

Alangkah bagusnya jika Prabowo mau mengalah dan memberikan dukungan kepada para tokoh muda ini untuk berlaga di pilpres mendatang. Saat elektabilitasnya sebagai calon kian meredup, ia bisa kembali bersinar sebagai seorang king maker. Di Pilkada DKI Jakarta ia sudah berhasil menjalankannya. Jika memang ingin mengganti pemimpin di negeri ini, peran yang sama harus kembali ia lakoni.

(Muhammad Fatih/politiktoday/dik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*