Medan Pengabdian Baru “The Former Leader”

Presiden RI ke-6 sekaligus Chairman of the Global Green Growth Institute, Susilo Bambang Yudhoyono. (Foto oleh Golbal Initiatives)

Setelah 40 tahun lebih mengabdi kepada negara, baik di militer, sebagai menteri, hingga sebagai presiden, perjuangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kepada negeri ini tak berhenti begitu saja. Ia masih terus aktif berpolitik dan berkegiatan, kali ini dengan medan yang berbeda.

Ahli strategi itu selesai mengemban tugasnya sebagai Presiden RI ke-6, aktif dalam berbagai kegiatan politik yang membangun. Ia mengambil masa tenang dengan bersafari politik ke berbagai daerah di Indonesia. Ia juga menyambangi sejumlah tokoh nasional untuk membahas isu-isu penting.

Bapak Demokrat itu kini sibuk membangun Partai Demokrat ke arah yang lebih baik. Nilai-nilai demokratis nampak semakin kuat diturunkannya ke partai berlambang bintang segitiga merah-Putih itu. Hal ini terlihat dari berbagai sikap yang ditunjukan Partai Demokrat dalam berbagai hal.

Semisal, pendirian teguh Partai Demokrat yang dengan keras menolak digunakannya hak angket untuk Panitia Khusus (pansus) KPK sejak awal. SBY dengan tegas menyatakan bahwa Demokrat mendukung penuh KPK, dan menolak segala bentuk pelemahan terhadap KPK.

Banyak partai yang belakangan keluar dari pansus, padahal dari awal mendukung, bahkan mengutus perwakilannya dalam pimpinan pansus.

Sejumlah kalangan menilai hal tersebut dikarenakan momentum Pilkada dan Pilpres yang sudah dekat, sehingga partai-partai itu harus membangun citra yang positif ke publik. Berbeda dengan Partai Demokrat yang sejak awal konsisten menolak pansus KPK. Kini Demokrat memetik hasil yang telah ditanamnya. Partai lain mulai sadar dan mengikuti jejak Demokrat. Setidaknya publik tahu bagaimana sikap mereka sejak awal.

Peran SBY dalam membangun kembali Partai Demokrat juga terlihat dengan terobosannya yang tidak dilakukan oleh partai lain. Demokrat lebih maju dalam membangun integritas partai politik dan bahkan memiliki departemen khusus di bidang pencegahan korupsi.

KPK mengakui hal tersebut, dan menyebut bahwa Partai Demokrat telah berulang kali melakukan inisiasi soal integritas, dan melakukan pendidikan.

Masyarakat banyak yang begitu menghargai kepemimpinan peraih Tri Sakti Wiratama dan Adh Makayasa itu. Pasalnya setelah tak lagi menjabat presiden, penghargaan-penghargaan begitu banyak ia terima. Diantaranya, pemberian penghargaan Anugerah Prapanca Agung oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). PWI menyematkan apenghargaan itu karena menilai SBY adalah putera bangsa yang memiliki dedikasi dan peran luar biasa dalam membangun bangsa

Bukan hanya di dalam negeri kredibilitasnya diakui. Dunia internasional pun turut memberikan penghargaan kepadanya dalam berbagai bidang. Setelah digantikan Presiden Jokowi, SBY secara bersamaan menerima dua penghargaan sekaligus.

Negara Korea Selatan memberikan penghargaan ‘The Grand Order of Mugunghwa’ kepada SBY, yang merupakan penghargaan tertinggi oleh Pemerintah Korsel kepada individu yang telah banyak memberikan kontribusi kepada Negeri Ginseng. Termasuk dalam peningkatan hubungan bilateral dengan negara sahabat.

Di belahan bumi lain, ia juga diberikan penghargaan ‘Champion of the Earth 2014 for Policy Leadership’ oleh organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Penghargaan itu khusus diberikan kepada pemimpin dunia yang dinilai memiliki kontribusi positif kepada lingkungan melalui kebijakan-kebijakannya.

Karena pemberian penghargaan itu bersamaan waktunya dengan penghargaan dari pemerintah Korsel, putra sulungnya, Agus Yudhoyono, mewakili SBY di Amerika Serikat. Selain itu SBY juga dianugerahi sejumlah gelar Doktor Honoris Causa dari sejumlah universitas nasional maupun internasional.

Selain di Bidang Politik, peraih ‘Knight Grand Cross in the Order of the Bath’ itu juga aktif di bidang lingkungan hidup. Ditengah kesibukannya, ia menjalankan perannya sebagai pimpinan sebuah organisasi lingkungan hidup internasional, Global Green Growth Institute (GGGI). Ia pun banyak menghabiskan waktu di Korsel, basis organisasi tersebut.

SBY juga selalu menyempatkan diri pada acara-acara keagamaan. Kedekatannya dengan ulama begitu terlihat ketika ia diundang Habib Luthfi untuk menghadiri Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW akhir tahun lalu.

Dalam foto yang tersebar di medsos, terlihat Habib Luthfi menggenggam hangat tangan SBY . Habib Luthfi juga pernah memberikan sorban yang biasa ia pakai kepada SBY.

Sabtu lalu, SBY disambut meriah di Sarasehan Alumni Pondok Pesantren Gonton yang berlangsung di Pondok Pesantren Daar El Qolam, Tanggerang. Ia bersama ratusan Kiyai, di depan hadirin dan tokoh nasional lainnya menyampaikan gagasan terkait kasus-kasus kriminalisasi agama.

Meurutnya, pemimpin negara dan ulama harusnya bersatu padu membangun dan mengayomi masyarakat, bukan malah menjadi musuh.

Sikap SBY ‘memuliakan’ ulama tersebut patut kita teladani. Apa lagi disaat banyaknya perilaku negatif yang dilakukan kepada pemimpin umat. Jargon ‘Nasionalis dan Religius’ tampak begitu mengakar pada prinsip serta tindakan yang dilakukan Sang Demokrat ini.

(Muhammad Husein/kompasiana/dik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*