Surat Terbuka kepada Kapolri

Ir.Rudi Kadarisman (jurnaldepok)

Oleh: Ir.Rudi Kadarisman*)

Bekasi 6 Januari 2018

Yth, Bapak Tito Karnavian.

Saya Ir. Rudi Kadarisman, putra ke-3, dari 4 bersaudara, almarhum Kolonel Polisi (Purn) Drs. RJ Soedaryanto Kadarisman yang pensiun tahun 1979, dengan jabatan terakhir Kapusabhara Kepolisian Republik Indonesia.

Dalam hal ini, saya ingin menyampaikan sesuatu persoalan di institusi Polri yang selalu saya dan Ayah tercinta banggakan.

Pak Tito, setelah ayah saya pensiun tahun 1979, ayah saya berbisnis untuk melanjutkan kehidupannya dan tanggung jawabnya kepada anak-anaknya. Tetapi di zaman itu belum ada pembelajaran manajemen bisnis yang didapat seorang purnawirawan polisi, sehingga gagallah usaha yang dijalankan oleh almarhum ayah tercinta. Hingga tahun 1989, kami tidak memiliki rumah karena semuanya sudah terjual dan kami mengontrak rumah kecil untuk tempat berlindung agar survive menjalani kehidupan ini.

Pada saat keadaan yang sangat sulit bagi kami, saya menanyakan kepada almarhum ayah tercinta,“Papa, kecewakah Papa dengan pekerjaan Papa sebagai seorang polisi hingga kehidupan kita susah saat ini, dimana 4 putra papa masih butuh biaya untuk kuliah dan sekolah?”

Dalam pandangan saya, andai ayah saya tidak sebagai polisi dan sebagai pengusaha dari awal, mungkin kami tidak akan susah seperti ini dan pasti ayah saya sudah piawai berbisnis.

Dengan bergenang air mata dan menatap saya penuh emosional, menggenggam jemari dan menepuk dadanya, almarhum ayah saya berkata, “Rudi, Papa bangga menjadi seorang polisi yang baik; yang bekerja dengan bijak; dan menjaga kehormatan Polri untuk bangsa dan negara.“

Saat itu, saya kaget dan mungkin ayah saya tersinggung. Berlinang air mata saya dan juga almarhum ayah saya tercinta. Dalam kesulitan hidup, ayah saya tetap bangga dan tidak mau sedikit pun menjelekkan institusi Polri. Kebanggaan dan dan kesetiaan tanpa batas ayah saya terhadap institusi Polri, membuat saya bangga menjadi putra purnawirawan Polri. Bukan harta dari orang tua, justru kesulitan dan kesetiaan almarhum ayah saya terhadap Polri yang mampu membuat saya menjadi lebih kuat. Sesuatu hal yang kemudian menjadi modal hidup buat saya.

Puji Tuhan, pada tahun 1994, akhirnya kami, para putranya yang sudah bekerja dapat membeli rumah kecil untuk Ayah dan Ibu tempati.

Itulah kebanggan saya kepada didikan Ayah, seorang polisi. Juga kebanggaan kami kepada Kepolisian Republik Indonesia.

Pak Tito yang terhormat. Sekali lagi saya ingin sampaikan, saya sangat bangga dengan Polri.

14 tahun saya bekerja-bertarung hidup. Akhirnya tahun 2003 pertengahan, saya memilih untuk masuk dalam dunia politik. Pilihan saya tidak mengikuti jejak ayah saya. Saya berpikir, politik juga tempat yang tepat untuk membawahi aspirasi saya kepada bangsa ini. Saya masuk aktif di Partai Demokrat hingga saat ini. Dalam catatan sejarah, Partai Demokrat telah dua kali mengusung Bapak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Presiden RI untuk dua  periode (2004-2009 dan 2009-2014). Saya banyak belajar dari kepemimpinan Bapak SBY sebagai presiden.

Saya memandang secara objektif kepada kepemimpinan Bapak SBY. Yang saya tahu, selama RI dipimpin Bapak SBY (10 tahun), Bapak SBY sangat menjunjung tinggi hak demokrasi semua institusi. Beliau bekerja dalam koridor peraturan dan Undang-Undang yang berlaku. Beliau tidak pernah memanfaatkan sedikit pun jabatan untuk mengintervensi dalam kepentingan pribadi maupun kepentingan partai. Begitu beliau menjadi Presiden RI maka beliau menjadi milik rakyat Indonesia. Hal itulah yang membuat saya bangga belajar kepada Bapak SBY, guru bangsa dan tokoh bangsa.

Pak Tito, minggu lalu saya mengalami kesedihan dan kekecewaan yang membuat lunturnya sedikit kebanggaan saya terhadap Kepolisian Republik Indonesia. Dimana sahabat saya,Pak  Syaharie Jaang, Walikota Samarinda yang ingin maju sebagai Gubernur Kaltim, diintervensi dari partai tertentu dan pejabat calon gunernur yang juga ingin maju sebagai Gubernur Kaltim.

Beliau dipanggil beberapa kali oleh partai tertentu dan pejabat yang merupakan Cagub Kaltim agar Pak Jaang mau  diposisikan nomor dua dan berpasangan dengan calon yang diusung oleh partai tertentu tersebut.Tetapi sahabat saya, Jaang, menentukan pilihan kembali kepada pasangannya dan tidak mau untuk mengikuti permintaan partai tersebut.

Ketidakmauan sahabat saya berdampak pada intimidasi oleh partai tertentu dengan alat kekuasaan. Hal tersebut dilakukan dengan mengancam melalui kasus hukum. Akhirnya beberapa hari dari intervensi tersebut Pak Jaang sempat dijadikan tersangka dalam kasus lama yang sebenarnya sudah selesai secara hukum dan tidak bersalah atau terlibat.

Pak Tito yang sangat saya hormati. Mohon kekecewaan saya kepada Polri bisa terobati dengan cara Bapak Tito sebagai Kapolri dapat menyelamatkan keadilan bagi seluruh masyarakat. Agar masyarakat punya hak dan kebebasan untuk niat serta cita-cita berbuat bagi bangsa dan negara, dalam koridor peraturan dan Undang-Undang, tanpa sebuah intervensi dari institusi pemerintahan dan kekuasaan.

Sampai saat ini, saya tetap menyemangati sahabat saya, Pak Jaang, untuk tetap maju, karena saya yakin Pak Tito sebagai Kapolri akan menyelesaikan ini dengan bijak dan benar. Agar masyarakat dan saya menjadi percaya dan tetap bangga kepada Kepolisian Republik Indonesia. Dengan kesetiaan dan kebanggaan tanpa batas yang terlahir dari jiwa almarhum ayah saya Kolonel (Purn) Drs. R.J Soedaryanto Kadarisman.

Separuh jiwa kesatria almarhum Ayah tetap saya jaga sampai saat ini. Untuk itu, saya mohon agar Polri tetap menjadi Institusi yang mengayomi rakyat dengan adil dan bijaksana.

Semoga di tangan Pak Tito sebagai Kapolri, semua menjadi lebih baik dan adil. Pak Tito wajib menyalakan lilin keadilan agar terang benderang dan menciptakan iklim demokrasi yang sehat dan bermartabat, khususnya dalam Pikada kabupaten/kota dan Pilgub 2018.

Sebagai kader partai dan anak bangsa, yang terlibat di partai politik, maka kami semua lintas partai bergabung dan berkoalisi dalam Pilwabup, Pilwakot, dan Pilgub, melupakan masa lalu demi kepentingan bangsa dan negara.

Pak Tito yang terhormat, dengan surat terbuka ini mohon kiranya dimaklumi dan dimaafkan apabila ada kata-kata yang tidak berkenan di hati Bapak. Saya selalu percaya pada jiwa kebijaksanaan seorang Polri. Saya mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian Bapak Tito kepada kami, putra-putri purnawirawan Polri, yang selalu bangga pada Polri.

Salam hormat buat keluarga, Jenderal

Wasalam

*)Ketua Divisi Keamanan Internal DPP Partai Demokrat   

(cerobongasap/dik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*