Mantan Pemimpin Dinista, Rakyat Tampil Membela

Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono ketika melaporkan pengacara Setya Novanto, Firman Wijaya Ke Bareskrim Polri, Selasa (6/2/2018). (Foto: PolitikToday)

Negeri ini kembali menunjukkan jati diri sebagai bangsa yang belum dewasa. Negara yang sekelompok rakyatnya masih berjiwa kerdil, suka memfitnah demi keuntungan pribadi, meski korbannya adalah mantan pemimpin sekalipun. Orang yang dulu pernah berjasa besar bagi negeri ini. Kondisi ini seperti apa yang pernah ditulis oleh Menteri Pertahanan di masa Pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Juwono Sudarsono, “Indonesians tend to be dismissive of their fallen leaders.” (Orang Indonesia cenderung mengabaikan mantan pemimpin mereka).

Beberapa hari lalu, seorang mantan Presiden RI, yang dipilih secara demokratis oleh mayoritas rakyat untuk memimpin selama dua periode, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), terpaksa mendatangi pos pengaduan masyarakat di Bareskrim Polri bersama sang istri, Ani Yudhoyono. Sebagai seorang warga negara, ia melaporkan pencemaran nama baiknya. Di hari tua, waktu yang semestinya bisa ia habiskan untuk bercengkrama dengan keluarga, malah diisi dengan polemik, yang membuat bapak bangsa ini harus berurusan dengan polisi.

Miris hati melihatnya. Sebagai rakyat, tak sampai hati rasanya melihat mantan pemimpin diperlakukan seperti ini. SBY pernah berjasa bagi bangsa dan rakyatnya. Di zamannya, ekonomi membaik, kesejahteraan meningkat, Indonesia dipandang oleh negara-negara tetangga. Namun kini, orang yang berjasa itu kita perlakukan sedemikian rupa. Bukannya membalas kebaikannya, tetapi malah menistanya dengan fitnah-fitnah keji dan kelakuan tak beradab.

Memang, sejak menjadi presiden, SBY sudah kerap dirundung fitnah dan perlakuan yang tak menyenangkan. Meski ia dipilih oleh mayoritas rakyat, bahkan pada pemilihan di periode kedua, Pilpres 2009, raihan suaranya memecahkan rekor dunia presiden yang dipilih secara langsung, yakni dengan 70 juta lebih suara. Namun begitu, tetap saja ada pihak-pihak yang ingin ‘menyerangnya’.

Jelang akhir-akhir masa jabatan, ia pernah diusik isu kudeta. Majelis Kedaulatan Rakyat Indonesia (MKRI) menggagas unjukrasa besar-besaran. Targetnya untuk mencabut mandat SBY. Sebelumnya ada pula aksi kurang ajar. Seekor kerbau digeret ke tengah massa. Badan kerbau itu bertuliskan “Si BuYa”, dan di pantatnya dipasang foto SBY. Ia hanya menyikapi penghinaan itu dengan miris hati. Prihatin. Tetapi, tidak seorang pun pelaku aksi yang diseret ke meja hijau.

Empat tahun sudah ia meletakkan jabatan, serangan terhadap dirinya tak juga mengendor. Apalagi setelah putra sulungnya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) berhasil mencuri perhatian publik, intensitas serangan kian memuncak. SBY dituduh mendalangi dan mendanai sejumlah aksi umat Islam yang berunjukrasa terhadap pemerintah karena diduga melindungi penista agama. Lucunya lagi, mantan presiden yang dikenal sangat demokratis ini difitnah menghasut gerakan makar dan ingin meledakkan bom di Istana. Sungguh sebuah kegilaan yang luar biasa.

Kemudian, sejumlah mahasiswa yang ditunggangi ormas Posko Perjuangan Rakyat (Pospera), menggeruduk kediaman SBY di Kuningan, Jakarta Selatan. Rumah pensiunan yang tak lagi memegang peranan sebagai pengambil kebijakan. Alhasil, aksi ratusan mahasiswa dari seluruh nusantara itu dicibir publik. Gerakan mereka dinilai telah jauh melenceng, dari pembela rakyat menjadi pengawal kepentingan penguasa. Semua orang tahu, Pospera yang digawangi politikus PDI Perjuangan, Adian Napitupulu itu merupakan ormas yang dibentuk oleh Joko Widodo untuk mengawal Nawacita dengan menjadi mata, mulut dan telinga untuk rakyat. Idenya begitu, tetapi pelaksanaannya tidaklah demikian.

Semua fitnah itu tiba-tiba berhenti begitu saja seiring dengan kekalahan AHY di Pilkada DKI Jakarta. Tak ada satupun yang terbukti benar. Namun, seperti kisah-kisah dalam sejarah masa lampau, para pemfitnah itu hanya bisa bersikap seperti pengecut. Tidak berani mengakui kesalahan diri, apalagi untuk sekedar meminta maaf.

Kini fitnah baru kembali muncul. Nama SBY dan anaknya Edhi Baskoro Yudhoyono (Ibas) dikait-kaitkan dengan skandal korupsi KTP elektronik. SBY berang. Ia tak hanya membantah dengan tegas, tetapi juga datang sendiri ke kantor polisi untuk melaporkan pihak yang menfitnahnya. Sebagian rakyat yang masih cinta dan bersimpati, ikut meradang dengan perlakuan terhadap SBY yang kali ini. Buktinya, selama tiga hari, tanda pagar (tagar) #KamiBersamaSBY membahana di Twitland. Para netizen berteriak dengan lantang: “This is our war too. Ini tak hanya jihad SBY untuk mencari keadilan bagi dirinya, tetapi juga ‘peperangan’ kami!”

Inilah akibatnya jika mantan pemimpin yang masih dicintai rakyat diusik oleh orang-orang berjiwa kerdil. Para koruptor penyamun uang rakyat dan pembelanya yang rela melakukan segala cara agar si klien terbebas dari dosa-dosanya. Tinggal kita tunggu saja, hukum akan tegak pada waktunya. Kebenaran akan segera terkuak, sehingga mereka yang memfitnah, akan mendapat ganjaran setimpal.

(Muhammad Fatih/politiktoday)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*