Ada Apa dengan Pancasila?

Ketua DPLN Partai Demokrat Malaysia Lukmanul Hakim (dok pri)

Oleh: Lukmanul Hakim*)

Kita disibukkan dengan dasar negara yang sudah muktamad, yang menjadi fondasi berdirinya Negara Indonesia.

Setiap tahun perayaan Hari Pancasila kembali diperdebatkan. Para pendiri negara ini sesungguhnya mengharapkan generasi penerus untuk mengamalkan sila sila Pancasila yang sekiranya dilakukan maka Indonesia tidak harus menunggu Indonesia Emas 2045, di usia seabad kemerdekaan.

Berkaca dari Sejarah Malaysia yang memiliki Rukun Negara, sebagai falsafah, etika dan ideologi negara tanpa harus diperdebatkan kembali. Rakyat bersatu membangun dan berkontribusi dalam memajukan Malaysia yang bervisi 2020. Tatanan pintu dan jendela politik, budaya, ekonomi dan ras terus diperkokoh melalui kebijakan pemerintah dan people to people contact.

Rukun negara Malaysia terdiri dari lima sila sama seperti Pancasila:

  1. Kepercayaan kepada Tuhan
  2. Kesetiaan Kepada Raja dan Negara
  3. Keluruhan Perlembagaan
  4. Kedaulatan Undang-Undang
  5. Kesopanan dan Kesusilaan

Semua rakyat Malaysia, khususnya orang-orang Islam mengetahui bahawa perlembagaan Malaysia mencatat Islam sebagai agama persekutuan. Oleh itu, Islam dilindungi oleh perlembagaan negara  dan segala kemudahan serta perbelanjaan negara boleh dipergunakan untuk pembangunan Islam tanpa dipertikaikan.

Bagaimanapun sesuai dengan ajaran Islam itu sendiri maka agama-agama lain tetap terjamin dan penganut agama bukan Islam diberikan kebebasan untuk mengamalkan agama mereka masing-masing di dalam suasana aman dan harmoni.

Malaysia sejak zaman Mahathir fokus membangun nasionalisme rakyat Malaysia dengan pencanangan berbagai mega proyek. Lihatlah Kuala Lumpur City Centre (KLCC), Mobil Nasional Proton, Petronas, insfrastruktur mega mulai dari Jalan tol yang menyambungkan Semenanjung dari perbatasan Singapura hingga Thailand.

Kita bangsa yang disatukan oleh penjajah. Para pahlawan gugur untuk memerdekakan tanah air. Sementara Malaysia berdiri disatukan kepentingan Inggris yang memberikan kemerdekaan.

Alhasil Malaysia membangun begitu pesat. Rakyat yang berbilang kaum suku dan agama tidak dibuai hiruk pikuk kepentingan politik. “Saya Bangsa Malaysia” slogan yang baru hadir di tahun 2000, meski sebagai alat propaganda, namun memberikan paradigma baru bahwa Malaysia sebenarnya milik semua ras.

Seperti sedia maklum, Pancasila terdiri dari dua perkara. Pertama, objektif yang ingin dicapai dan kedua, prinsip yang menjadi tonggak ke arah mencapai objektif. Sebagai mana Tuan Guru Bajang, Gubernur yang juga Ketua Partai Demokrat NTB,  menyampaikan, Pancasila pada dasarnya memiliki prinsip Ketuhanan dan prinsip Kemanusiaan dalam membangun bangsa Indonesia yang adil makmur dan sejahtera. Masyarakat Indonesia yang nasionalis dan religius.

Sayangnya, dari 5 sila yang ada, kita masih bertekak lidah di sila pertama, kita masih termaginalkan di sila ke-5, kita masih rapuh di sila ke-3, mungkin kita baru menjalankan sila ke-2 dan ke-4.

Maka setelah 71 tahun merdeka, timbul pertanyaan, kenapa Pancasila belum menjamin terciptanya kesejahteraan dan ketentraman bagi rakyat Indonesia?

Apa yang salah dalam pelaksanaan Pancasila?

Wallahu A’lam

*)Ketua Dewan Pimpinan Luar Negeri Partai Demokrat Malaysia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.