AHY dan Pilpres 2019

Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY (theyudhoyonoinstitute.org)

Oleh: Sanusi Fani*)

“AHY Nyapres 2019 itu Hak Politik AHY terpilih/mampu jadi Presiden RI? The biggest question Pilpres RI 2019 sesuai ukuran baju AHY?”

Kalimat di atas adalah status di media sosial, sengaja saya copy dari laman facebook seorang pimpinan organisasi pedagang yang selalu genit berpolitik. Saya sengaja pakai istilah genit untuk menghindari kata norak. Kenapa demikian, kalau mau berpolitik harusnya jadi pimpinan partai politik bukan organisasi pedagang yang dijadikan komoditas politik.

Setelah 23 jam di posting status tersebut hanya di ‘like’ 12 orang termasuk pemilik akun medsosnya. Saya agak tersinggung dengan status facebook orang ini. Pilpres itu bukan fashion show yang kepantasannya dinilai dari ukuran baju. Kalau badannya ceking pakai baju gombrong jelas gak pantas, atau sebaliknya model yang gemuk pakai baju yang sempit pasti gak enak dilihat.

Nah, Pilipres bukan fashion show. Jadi jelas berbeda. Saya tahu kok, kalimat ukuran baju Anda gunakan sebagai analogi kepantasan AHY bertarung di Pilpres 2019. Sama dengan keraguan sebagian kecil publik Jakarta saat AHY diusung koalisi Partai Demokrat, PAN, PKB dan PPP saat Pilkada 2017. Toh dijawab oleh AHY dengan perolehan suara 17%.

Kembali ke soal Pilpres 2019, Undang-Undang menjamin setiap warga negara untuk memilih dan dipilih baik pada Pemilu Kepala Daerah Pemilu Legislatif maupun Pemilu Presiden dan Wakil Presiden, selama memenuhi persyaratan yang termaktub dalam undang-undang Politik.

Dari sekian syarat yang mengatur diantaranya adalah sehat jasmani dan rohani yang diketahui dari rekam medis dan memenuhi syarat Electoral  Threshold atau Presidential Threshold. Tidak diatur soal kepantasan atau ukuran baju.

Soal AHY, keberaniannya memilih politik sebagai ladang pengabdian setelah berhenti dari militer bukan hanya pantas mendapatkan apresiasi tapi lebih dari itu. AHY pantas mendapatkan kesempatan maju ke gelanggang politik yang lebih besar dari Pilkada. Apa itu? Pemilu Presiden dan Wakil Presiden.

Dalam pandangan saya, AHY pantas diberikan kesempatan mengikuti kontestasi pada Pilpres 2019. AHY maju tidak dengan tangan kosong. Modal politik 17% suara rakyat Jakarta ditambah sambutan masyarakat yang luar biasa setiap kali AHY berkunjung di daerah harus jadi pertimbangan partai politik untuk mengusung AHY.

Dalam politik yang tidak kalah penting adalah kredibilitas, integritas dan sikap negarawan. Apakah AHY punya semua itu? Mari sama-sama kita lihat.

Kredibilitas, menurut Wikipedia, adalah kualitas, kapabilitas, untuk menimbulkan kepercayaan. Maksudnya, dalam hal kredibilitas akan merujuk pada nama baik, reputasi, juga sepak terjang individu dalam profesi yang digelutinya selama ini.

Integritas adalah kemampuan seseorang mempararelkan atau mengkonsistensikan nilai-nilai kepercayaan atau ideologi yang diyakininya dengan apa yang dikerjakan. Seseorang dikatakan memiliki integritas manakala pemikiran sama dengan perkataan, sama dengan perbuatan.

Alfan Alfian menggambarkan integritas dengan mengutip kata-kata bijak Confusius: para ksatria sejati adalah mereka yang tidak berkhotbah mengenai apa yang mereka lakukan sampai mereka melakukan apa yang mereka khotbahkan.

Negarawan adalah mereka yang selalu berpikir dan berkorban demi bangsa dan negara tanpa pamrih. Baginya negara dan bangsa adalah segala-galanya.

Letjen (Purn) Kiki Syahnakri dalam bukunya ‘Aku Hanya Tentara’ menjelaskan, negarawan adalah karakter, sikap, visi dan orientasi yang mengedepankan nilai-nilai kebangsaan dan kerakyatan melampaui ego seorang pemimpin.

Pemilu Kepala Daerah 2017 telah menunjukkan bahwa AHY punya semua itu. Kredibilitas. AHY merupakan anak muda yang sangat kredibel. Coba lihat. Tidak ada cela, atau cacat selama berkarier di dunia militer.

Reputasinya sebagai prajurit sejak taruna sampai komandan batalion terjaga baik. Secara akademis selalu mendapatkan nilai yang terbaik. Demikian juga soal integritas, AHY merupakan anak muda yang pemikirannya sama dengan perkataannya. Dan perkataannya sama dengan perbuatannya.

Saya harus katakan karakter seorang negarawan ada pada diri AHY. Buktinya? Mari kita tengok ke belakang saat Pilkada DKI 2017. Belum lagi selesai hasil hitung cepat semua lembaga survei, AHY dengan ksatria dan jiwa besar memberikan ucapan selamat kepada kedua pasangan lain. Padahal kita sama-sama tahu ada proses yang menciderai pilkada yang merugikan pasangan AHY-Sylvi.

So, Anda masih mau bilang baju AHY kebesaran atau kekecilan untuk Pilpres 2019? Mikir.

*)Wakil Ketua BPOKK DPD Partai Demokrat DKI Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.