AHY: Istano Basa Pagaruyung, Warisan Budaya Yang Harus Dipelihara

Komandan Kogasma Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengunjungi Istano Basa Pagaruyung, kabupaten Tanah Datar, Sumbar, Rabu (20/3). (Foto: Kogasma)

Tanah Datar, Sumatera Barat: Selama dua hari, Komandan Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyapu tiga kabupaten dan dua kota di Sumatera Barat pada 20-21 Maret 2019.

Setelah menempuh satu jam penerbangan dari Jakarta, AHY tiba di Bandara Internasional Minangkabau, Rabu (20/3) pagi dan melanjutkan perjalanan darat ke Istano Basa Pagaruyung, kabupaten Tanah Datar. Waktu tempuhnya dua jam, melewati Lembah Anai dengan air terjunnya yang masyhur.

“Saya bahagia bisa berkunjung ke Istana Pagaruyung yang bersejarah dan memiliki kemegahan serta warisan kebudayaan yang sangat mulia. Warisan ini perlu kita pelihara sampai kapan pun,” puji AHY di hadapan awak media.

Istano Basa Pagaruyung adalah salah satu kerajaan di Sumatera Barat yang masih lestari hingga sekarang. Istano ini didirikan oleh Raja Adityawarman pada tahun 1347. Tahun 1804, Istano Basa Pagaruyung ini dibakar oleh Belanda lalu dibangun lagi. Tahun 1966 terbakar akibat petir, lalu dibangun kembali tahun 1973. Tahun 2006, istana kembali disambar petir. Api melalap bangunan istana yang terbuat dari kayu, menghanguskan sebagian besar pusaka kerajaan. Pembangunan kembali dimulai tahun 2007 dengan anggaran Pemda dan berbagai bantuan.

Tahun 2013, Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meninjau langsung pembangunan kembali Istano Basa Pagaruyung dan turut membantu. Sebagai ungkapan syukur dan terima kasih, masyarakat Minang menganugerahi SBY dengan gelar “Yang Dipertuan Maharajo Pamuncak Sari Alam”, sedangkan Ibu Ani Yudhoyono mendapat gelar “Puan Puti Ambun Sari”.

“Dulu pernah terjadi kebakaran akibat petir. Alhamdulillah sudah bisa direstorasi dan diresmikan oleh Pak SBY. Saya tentunya ingin bisa merasakan apa yang dialami Pak SBY dan Bu Ani ketika berkunjung ke sini,” lanjut AHY.

Sesampainya di halaman Istana, AHY disambut prosesi pencak silat Gelombang dilanjutkan Sekapur Sirih yang dibawa tiga gadis cilik. Menjelang naik tangga Istana, AHY disambut upacara Manogu yang bersifat sakral dan hanya diberikan pada keluarga kerajaan. Seluruh rangkaian acara ini mencerminkan penerimaan masyarakat Minang atas kehadiran AHY sebagai bagian dari keluarga yang dihormati di Sumatera Barat.

AHY kemudian meninjau langsung istana yang saat ini sudah kembali terestorasi. AHY mengagumi interior istana dengan tiang-tiang tinggi. Masih ada dua lantai lagi di atas lantai yang dikunjungi AHY. Dinding bangunannya dihiasi ornamen ukiran berwarna-warni. Total ada sekitar 58 jenis motif yang berbeda-beda. Ia juga sempat mampir meninjau dapur tradisional.

“Semoga bisa terus dipelihara ya Pak Bu,” ujar AHY kepada pemandu dan masyarakat yang hadir.

Sebelum melanjutkan kegiatan berikutnya, AHY mengenakan “Saluak”, pakaian khas adat Minang. Pakaian lengan panjang berdasar warna hitam itu dihiasi dengan kain selempang dan topi dengan corak dan motif khas Minang berwarna emas. Saat mengenakan pakaian tersebut ke ruang tengah Istana, terdengar teriakan spontan, “Raja Nusantara 2024!”

Dalam kunjungan ini, AHY diterima oleh Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Tanah Datar mewakili Bupati yang berhalangan, Ketua DPD PD Sumbar Mulyadi yang juga caleg DPR RI, Wakil Bendahara Umum DPP PD Eka Putra yang juga mencalonkan diri sebagai anggota DPR-RI, serta jajaran pengurus DPC PD dari empat kabupaten.

(Rilis/dik)