AHY Tak Mau Buru-buru

Ketua Kogasma Pemenangan Pemilu Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY (Foto: BeritaSatu/Ruht Semiono)

Jakarta: Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan bahwa dirinya tidak mau terburu-buru untuk berkompetisi sebagai calon presiden (capres) atau calon wakil presiden (cawapres). Sebagai Ketua Komando Tugas Bersama (Kosgama) Pemenangan Partai Demokrat untuk Pemilu 2019, Agus akan lebih fokus pada kerja keras untuk mencapai target perolehan suara 15%.

Dengan raihan suara itu, langkah Agus untuk menjadi capres atau cawapres pada Pemilu 2024 akan lebih mudah ketimbang saat ini. Apalagi, peta koalisi partai politik menjelang Pemilu 2019 hingga saat ini masih “berkabut tebal” meski sudah ada lima partai yang mengusung kembali Presiden Jokowi.

“Saya orang yang tahu diri. Saya tidak terlalu ambisius. Tidak mau buru-buru, tergesa-gesa. Proses itu harus dilewati, tetapi bukan berarti tanpa tujuan. Saya mempunyai optimisme dan tujuan, tetapi juga harus berproses dengan baik,” ujar AHY saat wawancara khusus bersama Pemimpin Redaksi Suara Pembaruan, Primus Dorimulu di Agus Command Center (ACC), Jakarta, Senin (26/2).

Menurut AHY, arah koalisi pada Pilpres 2019 masih diselimuti kabut tebal. Para elite politik tentu sedang meramu koalisi yang tepat. “Kabutnya masih tebal. Sekarang terlalu dini. Masih ada sekian bulan. Banyak hal bisa terjadi, makanya saya pikir yang bisa kita lakukan sekarang adalah komunikasi terus dengan semua pihak,” katanya.

Dikatakan, dirinya dan Partai Demokrat juga belum bisa menentukan sikap mendukung kubu Joko Widodo (Jokowi) atau Prabowo Subianto. Sebab, pendaftaran pasangan calon (paslon) untuk Pilpres 2019, baru dibuka pada 4-10 Agustus 2018.

Dengan amanah baru sebagai Ketua Kogasma, AHY bertekad meningkatkan perolehan suara Demokrat pada pemilu legislatif (pileg) yang berlangsung serentak dengan pilpres. Demokrat pernah menjadi pemenang pemilu pada Pemilu 2009 dan meraih 20,8% suara. Meski begitu, pada Pileg 2014, suara Partai Demokrat merosot menjadi 10,19%.

“Kami berharap bisa rebound (berbalik), peningkatan kembali pada 2019. Kalau kami memiliki suara yang signifikan, itu juga yang akan digunakan untuk 2024. Mudah-mudahan kalau itu baik, maka Demokrat dengan yang lain bisa mengusung kader terbaik untuk kontestasi 2024,” tuturnya.

Target 15% suara Partai Demokrat pada Pemilu 2019 merupakan target yang rasional. Untuk bisa mencapai target itu dibutuhkan kerja keras, terutama untuk membangun kembali kepercayaan publik yang tidak mudah.

Menurut AHY, kandidat capres dan cawapres bukan hanya ditentukan tingkat elektabilitas, tetapi juga seberapa besar dukungan dari parpol terhadap paslon. “Mau elektabilitas setinggi langit kalau tidak ada yang mengusung akan sia-sia. Koalisi harus dibangun terus. Tidak ada satu partai yang bisa mengusung kadernya sendirian,” ujarnya.

Dikatakan pula, setelah deklarasi dukungan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), dukungan untuk Jokowi untuk maju lagi sudah lebih dari cukup. Persoalannya, kata dia, setiap partai pendukung Jokowi pasti menginginkan kursi cawapres. Kondisi ini tentu akan membuat pembentukan koalisi tidak akan semudah yang dibayangkan.

Egaliter

Terlepas dari situasi politik saat ini, AHY menegaskan, dirinya tetap terus berjuang dan mengabdi di tengah-tengah masyarakat. “Saya berjuang saja terus. Kalau saya, analoginya seperti tentara. Saya mempersiapkan diri, melatih diri. Kapan perangnya, kita tidak tahu. Yang penting, kita mempersiapkan diri. Begitu dibutuhkan, negara membutuhkan, rakyat mengharapkan, ya, kita siap,” ujar peraih Adhi Makayasa Akademi Militer (Akmil) 2000 itu.

 

Yang pasti, kata AHY, seorang pemimpin harus tetap bersikap egaliter kepada rakyat. Seorang pemimpin, ujarnya, jangan pernah canggung untuk menyapa rakyat. “Saat ke Papua, saya datang ke ‘Pasar Mama-Mama’. Mereka senang. Semakin kita tidak berjarak, itu semakin baik. Bagi saya, justru itu yang harus didatangi, karena mereka masyarakat kita. Jangan mereka yang mendatangi kita,” tandasnya.

AHY juga merasa bersyukur atas hasil sejumlah lembaga survei yang menempatkan dirinya berada pada posisi teratas sebagai cawapres Jokowi. “Saya menganggap itu sebagai penyemangat. Kalau ada yang tidak baik nilainya, saya anggap sebagai cambuk,” ujarnya.

Dia pun mengaku akan terus berkeliling daerah untuk bertemu dan menyapa masyarakat secara langsung. Dia ingin mendengar dan berinteraksi dengan masyarakat, sekaligus lebih mengenalkan diri serta gagasan.

Ketika ditanya tentang peluang partai politik meminang sebagai capres atau cawapres, AHY mengaku belum terlalu memikirkan. Apalagi, saat ini seluruh parpol tengah melihat figur-figur yang ideal. “Ibaratnya, semua sedang shopping (belanja). Termasuk, ada yang shopping terhadap saya, mungkin. Kita lihat, cek, dan ikuti saja,” ujarnya.

AHY menegaskan, berbagai tawaran dan masukan itu akan diperhitungkan dengan baik sebelum keputusan diambil. Sama halnya ketika dia memutuskan untuk meninggalkan pengabdian di TNI dan maju menjadi calon gubernur DKI Jakarta pada 2017.

Keputusan yang diambilnya saat itu tidak pernah disesali, walau hasilnya belum sesuai harapan.

“Kalau nanti ada panggilan baru dan sejarah menentukan saya ikut kompetisi di level lain, saya akan mempertimbangkan semua dengan matang. Saya akan menghitung semua dengan baik supaya tidak gegabah. Jadi, baik untuk semua, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi masyarakat,” katanya.

(BeritaSatu.com/dik)