Akhir Pilkada di Hari Lahir PSSI

Frans Sianturi SH (dok pri)

Oleh: Frans Sianturi SH*)

Sesungguhnya hari ini saya ingin menulis tentang sepakbola Indonesia. Sebab 19 April menjadi hari bersejarah bagi negeri yang amat mencintai sepakbola ini. Federasi Sepakbola tertinggi di Negara Indonesia yakni PSSI merayakan hari lahirnya yang ke-87.

Jika menengok sejarah kelahiran PSSI, ternyata ada semangat yang tersembunyi dalam pembentukan induk olahraga sepakbola ini.

Muatan politik secara tidak langsung hadir dalam perjuangan pendirian PSSI. Politik yang dimaksud adalah upaya menentang penjajahan dan menumbuhkan semangat nasionalisme di dada setiap pemuda (pemain) untuk mencintai negeri dan merebut kekuasaan atas kolonial.

Jika semangat nasionalisme yang melandasi pembentukkan PSSI 87 tahun yang lalu untuk melawan penjajahan, kini Pilkada DKI justu melahirkan kompetisi yang sarat emosi dan menelurkan banyak benci antar sesama warga.

Rasanya menjadi sangat nyata ucapan Bung Karno tempo dulu, bahwa bangsa ini akan sangat kesulitan dalam melawan bangsa kita sendiri.

Pilkada Jakarta terlihat menjadi cerita warung kopi yang selalu menarik selain itu juga menjadi sebuah pembelajaran gratis tentang politik.

Tapi dinamika pilkada jakarta justru melahirkan berbagai polemik yang tak cantik, perilaku dan tindakan manusia ibukota malah menginjak-injak kode etik. Pemimpin yang baik perlahan mulai terlihat sekecil titik, meninggalkan nalar untuk menang secara licik. Argumen saya bukan tanpa dasar yang kurang piknik, rasanya tuanku para pakar paham betul ibukota saat ini sedang tercekik.

Sepakbola dapat menjadi analogi yang baik bagi tulisan ini. Babak final sudah dimulai. Ada yang panik dan ada yang sok heroik. Pluit sudah berbunyi, kotak suara perlahan mulai didatangi. Tinta ungu menodai setiap jari pemilih.

Para kontestan masing-masing memasang senyum optimisme, walau sesungguhnya rasa cemas kekalahan yang melanda hati. Wajar saja, persiapan menjelang 19 April sangat memakan emosi yang sangat dalam, memangkas ongkos yang cukup tebal dan menyebabkan perpecahan masif dengan skala besar antar supporter.

Penguasaan bola dalam babak final pilkada sudah diprediksi oleh banyak lembaga survey. Namun, sekalipun prediksi itu berbasis ilmiah, sekali lagi hal tersebut tidak dapat menjadi tolak ukur pasti. Sama hal-nya seperti kekalahan Brasil atas Jerman pada semifinal Piala Dunia 2014, ketika dunia menantikan pertandingan yang begitu megah namun hal diluar prediksi yang tercipta. Brasil kalah 1-7 dari Jerman, kekalahan tersebut tidak hanya mencoreng statistik Brasil sebagai negeri digdaya sepakbola akan tetapi menjadi pukulan psikologis bagi seluruh rakyat negeri samba tersebut.

Apakah salah satu paslon pilkada DKI dapat menghadirkan momen ajaib seperti cerita Brasil vs Jerman? Mungkin saja.

Jujur, sebagai seorang pemuda, saya sangat cemas menanti bunyi pluit akhir pertandingan Pilkada DKI. Apakah ada jiwa heroik seperti yang ditunjukkan Agus Harimurti Yudhoyono pada putaran pertama lalu? Atau justru rentetan panjang perpecahan yang akan terus berlanjut?

Partai puncak ini semoga menjadi sajian menarik bagi penonton maupun supporter setiap pasangan calon. Jika Agus Yudhoyono sudah mampu memberi contoh untuk melakukan tindakan fairplay dengan mengakui kekalahan dan bahkan memberikan selamat kepada lawan-lawannya, semoga hal itu tertular bagi Ahok dan Anies.

Selamat ulang tahun PSSI, selamat melaksanakan pesta demokrasi warga DKI. Terakhir, selamat menanti kedatangan Agus Yudhoyono di Kepri !

*)Staf Ahli Sekretaris Jenderal Partai Demokrat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.