Cetak Tangan Pemerintahan SBY Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat

Foto: Fanpage facebook Susilo Bambang Yudhoyono

Dari berbagai survey kepuasan masyarakat terhadap pemerintah, selalu saja sektor ekonomi menjadi titik lemah pemerintahan Jokowi. Masyarakat diketahui banyak mengeluh perihal sempitnya lapangan pekerjaan, pengentasan kemiskinan, hingga stabilitas harga kebutuhan pokok.

Dari sini kita bisa menarik kesimpulan bahwa . Titik lemah perekonomian ini adalah salah satu pekerjaan rumah bagi pemerintahan Jokowi.

Berpijak dari sana, ada baiknya kita menelisik kembali kinerja dari tim perekonomian SBY. Leadership SBY dan tim ekonomi yang tangguh telah membuat perekonomian nasional bukan hanya berkembang pesat, tetapi juga berdampak positif bagi kesejahteraan masyarakat.

Beberapa catatan penting saya atas kinerja pemerintah SBY selama sepuluh tahun adalah sebagai berikut:

Pertama, berhasil mengangkat 8,6 juta orang dari jurang miskin; atau secara persentase penduduk miskin dari 16,7% (2004) menjadi 11,47%.

Kedua, berhasil menurunkan tingkat pengangguran dari 9,9% (2004) menjadi 5,7% (2013), atau sebesar 4,2 % dari jumlah penduduk.

Angka-angka ini kesannya memang mengawang-awang, tetapi bagaimana bila saya katakan bahwa pendapatan rata-rata orang Indonesia meningkat hampir empat kali lipat sepanjang pemerintahan SBY?

Pada point ketiga, pendapatan perkapita, diketahui selama SBY memerintah, pendapatan perkapita meroket tajam, naik lebih tiga kali lipat, yakni dari US 1.188,4 (2004) menjadi US $3670 (2013). Dengan kurs dollar AS hari ini, yang berkisar Rp 13.600, itu artinya ada kenaikan dari Rp 16,162 juta menjadi sekitar Rp 50 jutaan.

Keberhasilan ini mendongkrak kenaikan kelas menengah.  Apabila pada periode 1999-2004 persentase jumlah kelas menengah sebesar 37 %, maka pada periode 2004-2014 naik menjadi 56,7%. Begitu pula dengan pendapatan perkapitanya yang meningkat hampir empat kali lipat, yaitu Rp 10,55 juta (1999-2004) menjadi 36,5 juta (2004-2014).

Data ini membuktikan terjadinya peningkatan rata-rata pendapatan masyarakat Indonesia hingga empat kali lipat sepanjang pemerintahan SBY. Peningkatan pendapatan inilah yang kemudian mendorong tumbuhnya kelas menengah di Indonesia. Ini adalah salah satu bukti keberhasilan SBY dalam  menunaikan janjinya untuk mensejahterakan rakyat.

Keempat, bagaimana perkara sembako itu? Perlu dipahami ketidakstabilan harga sembako disebabkan langkanya produk. Salah satu penyebab kelangkaan ini adalah kurangnya pasokan. Sehingga, salah satu cara untuk memastikan kestabilan harga sembako adalah mendorong produksi bahan pokok yang lebih tinggi lagi.

Faktanya, pemerintahan SBY lumayan berhasil dalam hal ini, utamanya bila kita bandingkan antara periode 2004-2014 dengan periode 1999-2004. Produksi padi naik 29,2 %, yakni dari 54,08 juta ton menjadi 69,87 juta ton. Produksi jagung naik 65,4 %, yakni 11,22 juta ton menjadi 18,55 juta ton. Produksi gula baik 35 persen, dari 2,05 juta ton menjadi 2,76 juta ton. Produksi daging naik 21 % dari 447,6 menjadi 542 ribu ton.

Empat poin ini bisa menjadi gambaran awal cetak sukses pemerintahan SBY dalam program peningkatan kesejahteraan rakyat. Harapan kita, tentu pemerintahan Jokowi bisa melanjutkannya, bahkan lebih baik lagi.

(Maya Andrayani, warganet, bermukim di Tanggerang Selatan/PolitikToday/dik)