Demokrat Toreh Sejarah di Negeri Para Raja dan Pemberani

Suasana pelantikan Pengurus DPD-PD Sulsel di wilayah Rumah Susun Kampung Lette, Mariso, Makassar, Minggu (2/4/2017). (Foto: twitter/hincapandjaitan)

Oleh: Ferdinand Hutahaean*)

Sulawesi Selatan Negeri Raja-Raja

Berakhir sudah 3 hari kerja politik DPP Demokrat di Sulawesi Selatan khususnya Kota Makassar. Sulawesi Selatan adalah negeri Raja-raja, negeri para pemberani. Negeri yang sejak bernama Nusantara menjadi salah satu negeri atau daerah mencetak dan menuliskan sejarah besar hingga menjadi sebuah negara bernama Republik Indonesia. Sulawesi Selatan adalah daerah yang mengirimkan putra-putrinya menjadi tokoh besar dalam catatan politik maupun pemerintahan bangsa besar bernama Indonesia.

Makassar sungguh menerima kehadiran rombongan DPP Partai Demokrat dengan cukup ramah, hangat dan penuh kerinduan dengan sosok Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang memang pernah memimpin Republik ini selama 10 tahun menjadi Presiden. Jejak SBY banyak kami temukan di Makasar sejak sebelum Presiden hingga selama menjabat Presiden. Jejak itu kami temukan berada mulai di gedung tinggi seperti gedung Media Fajar hingga sebuah warung makan bernama Bahari.

Sang Walikota Makasar bahkan dengan keramahan sama sekali di luar dugaan saya, menerima rombongan Demokrat dengan ikhlas, tulus, serta menjamu makan siang seluruh rombongan di kediamannya. Keramahan yang jarang saya temukan saat ini dari para pemimpin daerah. Bahkan Sang Walikota terlihat sangat sibuk mencermati seluruh tamunya, jangan sampai ada yang kekurangan sesuatu. “Melayani”, sebuah kata saya sematkan. Dan saya berpikir, Sang Walikota memang layak menjadi tokoh dengan kebersahajaan dan keramahannya. Yang pasti karakter itu bagi saya adalah karakter seorang berhati mulia, menitis dari para leluhur Sulawesi: Negeri Para Raja.

Neopolitik, Demokrat Melayani

Pelantikan Pengurus DPD Partai Demokrat Sulawesi Selatan yang mengambil tema sederhana, “Melayani Rakyat dan Berada di Tengah Rakyat” mendapat perhatian tersendiri bagi saya, yang mendapat kehormatan menyaksikan dari dekat kerja politik Demokrat ke Sulawesi Selatan. Demokrat memilih sebuah kawasan yang ekonomi rakyatnya tergolong pra-sejahtera, namun kawasan tersebut tampak tertata rapi, meski sederhana dan sesungguhnya termasuk daerah yang layak subsidi. Adalah Lette nama daerah tersebut. Sebuah tempat kecil dengan jalan kecil dan sebuah aliran kali kecil membentang yang mengirimkan airnya ke lautan.

Dengan berbekal kesederhanaan, panggung arena pelantikan pengurus dibentangkan di atas kali yang mengalir. Ada semangat ingin mengangkat Lette dan para penduduknya untuk bangkit secara ekonomi dan politik. Demokrat ingin mengirimkan pesan kepada seluruh rakyat Nusantara bahwa Demokrat adalah partai besar yang sederhana, yang berada di tengah rakyat. Bukan partai eksklusif yang berada di gedung mewah dan jauh dari rakyat. Demokrat sedang memainkan gaya baru berpolitik. Neopolitik, Demokrat Melayani.

Demokrat Melayani adalah mengirimkan seluruh pemimpinnya yang sedang berada di wilayah jabatan pemerintahan/eksekutif maupun legislatif untuk turun menjadi pelayan rakyat. Ada pesan moral yang tersirat bahwa Demokrat ibarat seorang ibu yang merawat anak-anaknya.  Seluruh kader harus menjadi pelayan yang merawat kehidupan rakyat dengan berbagai macam cara dan metodologi. Setidaknya, itulah yang saya bisa tangkap dari pernyataan Sekjen DPP Demokrat Hinca Panjaitan dalam setiap pesan-pesan politiknya kepada kader. Perumpamaan yang mudah dipahami, dan tidak perlu penjabaran makna. Itulah Neopolitik Demokrat.

Srikandi Demokrat Kala Rintik Hujan di Gang Sempit

Di tengah rintik hujan yang turun membasahi bumi dan tanah di Lette, di sela kemeriahan rakyat bersama Demokrat, saya mengikuti langkah Sekjen DPP Demokrat. Ia didampingi Wakil Ketua BPOKK DPP-PD Sarjan Taher, Wakil Ketua KPP DPP-PD Boyke Novrizon, Pengurus Depolhukam DPP-PD Haris Wijaya, Kadiv Komunikasi Publik DPP-PD Imelda Sari, Sekretaris Div Komunikasi Publik Hilda Thawila bersama sederet pengurus lainnya. Kami  berjalan menyusuri perkampungan di Lette, mengetuk pintu rumah dalam rangka Demokrat Melayani, berbagi kebahagiaan serta meringankan beban rakyat yang memang masuk dalam kategori pra sejahtera.

Ada yang menarik dari perjalanan menyusuri jalan kecil dan gang sempit di Kampung Lette. Di bawah rintik hujan yang cukup membasahi tubuh, saya melihat ada sederet srikandi Demokrat turut serta menyusuri perkampungan. Tanpa merasa terganggu titik air hujan, Mereka penuh semangat melakukan kerja politik “Demokrat Melayani”. Sebut saja diantaranya Fetty, Tendry Megawati, Rara dan Andin. Bagi saya mereka adalah bidadari Demokrat yang yang penuh ketulusan melayani rakyat hingga di gang sempit. Saya berdecak kagum, dan terinspirasi menuliskan para bidadari tersebut dalam artikel ini.

Ternyata, DPD Demokrat Sulawesi Selatan, di bawah pimpinan Ni’matullah sebagai ketua dan Daeng Ichal–Sang Wakil Walikota Makassar–sebagai sekretaris, menempatkan pengurusnya sekitar 50 persen adalah srikandi politik Demokrat.

Filosofi Kue Barongko dalam Berpolitik

Selepas kami menyusuri perkampungan Lette, melayani rakyat (meski tidak mungkin menyenangkan semua rakyat yang jumlahnya puluhan ribu) kami beranjak menuju jamuan makan, wujud keramahan Sang Walikota Makasar. Ada yang menggugah saya kala itu, bukan jamuan makannya atau keramahan Sang Walikota bersama Ibu Walikota. Mata saya tertuju pada sebuah kudapan kecil, kue rakyat khas Makasar bernama barongko.

Barongko adalah sebuah kudapan ringan yang dibungkus daun pisang sebelum dimasak. Sangat nikmat, manis dan memanjakan lidah, saat saya menikmatinya. Pikiran saya kemudian menerawang mencari makna dan hubungan antara barongko dengan kerja politik Demokrat. Ternyata kerja politik Demokrat kali ini juga mewakili semangat  filosofi barongko. Hanya sdibungkus daun pisang, murah harganya tapi tidak murahan. Kue yang manis dan mampu memaksa kita mengucapkan kata pujian atas rasa nikmat barongko.

Begitu jugalah kerja politik Demokrat. Dibungkus pelantikan Pengurus Daerah yang murah dari segi biaya, tapi hasilnya begitu manis di tengah rakyat. Mampu memaksa lidah memuji kerja politik Demokrat yang melayani. Demokrat, misalnya, memberikan biaya pengobatan terhadap seorang nenek yang terbaring sakit. Nenek itu,  kami temukan saat menyusuri jalan kecil dan gang sempit, mengetuk pintu rakyat. Itulah manisnya kerja politik Demokrat. Hampir sama dengan kue barongko. Murah tapi nikmat dan manis.

Keliling Nusantara untuk Kerja Politik

Setelah menikmati barongko dan aneka makanan khas di kediaman Walikota, rombongan Demokrat kemudian meluncur ke jalan raya di jantung Kota Makasar. Ada yang menarik, kerja politik tidak boleh meninggalkan sampah dan aneka alat peraga yang berpotensi mengurangi keindahan kota. Rombongan pun bergerak bersama melakukan pembersihan atribut partai dari jalanan. Saya pikir, ini gila, belum pernah saya lihat ada partai melakukan hal ini. Biasanya partai membiarkan atributnya berlama-lama terpasang meskipun merusak keindahan kota. Ini sebuah kebiasaan unik dari sebuah partai. Logika yang harus ditiru partai lain.

Dalam perbincangan dengan Sekjen Demokrat, di tengah perjalanan menuju Bandara Hasanuddin, saya bertanya, “keliling Nusantara ini untuk apa bagi Demokrat?”

Jawaban singkat yang menjawab seluruh pertanyaan saya dari Sekjen Hinca Pandjaitan adalah, “Atas amanat Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, maka mesin Partai harus dihidupkan.”

Jelas, ternyata kerja politik keliling Nusantara ini adalah untuk menghidupkan mesin partai. Menyampaikan paradigma baru Partai Demokrat ke seluruh kader Demokrat dan simpatisan bahwa Demokrat adalah pelayan,  Demokrat Melayani. Neopolitik pilihan Demokrat untuk memenangkan hati rakyat, menempatkan rakyat berdaulat atas negara dan demokrasi.

Ke mana lagi Partai Demokrat melanjutkan keliling Nusantara untuk kerja politik? Saya berharap akan bersama-sama lagi untuk bisa menyaksikan dari dekat kerja politik dan penerapan neopolitik Demokrat.

Saya sepertinya jatuh hati kepada partai ini dan srikandi politiknya. Demokrat telah menorehkan sejarah baru politik di Negeri Para Raja, Negeri Para Pemberani: Makassar!

Makasar, 02 April 2017

*)Pimpinan Rumah Amanah Rakyat, dan Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia

(dik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.