Ikatan Kebangsaan Kita

Foto dokumentasi saat Presiden RI ke-6 Suslilo Bambang Yudhoyono (kiri) disambut Ketua MPR RI Taufiq Kiemas (kanan) ketika menghadiri peringatan Hari Kelahiran Pancasila, di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Rabu (1/6/2011) (ANTARA)

Oleh: Erma S. Ranik*)

Sejak kemarin pagi sebagian besar teman saya di media sosial dan Grup WhatsApp bergiliran mengirimkan profil foto baru mereka memperingati Pekan Pancasila.

Ya, Pancasila 1 Juni. Sengaja saya tulis Pancasila 1 Juni. Karena jika kita membaca sejarah penetapan Pancasila pada 1 Juni menimbulkan perdebatan puluhan tahun. Ada tarik ulur luar biasa soal penetapan ini.

Yamin, Supomo, dan Sukarno

Kita tentu tidak lupa, tanggal 1 Juni 1945, Sukarno pemuda luar biasa itu, berpidato soal Pancasila di BPPUPKI. Sebelumnya M Yamin dan Supomo pun telah berpidato lebih dahulu. Ada debat panjang dan bernas para pendiri bangsa soal ideologi untuk negara bekas jajahan Belanda, yang ingin mereka merdekakan dari Jepang ini.

Perdebatan yang cenderung dianggap bertele-tele ini menyebabkan “keterlambatan deklarasi kemerdekaan Indonesia”. Para pemuda yang kurang sabar menganggap Sukarno dan Hatta terlalu memberi angin pada Jepang. Mereka menculik keduanya ke Rengas Dengklok dan memaksa agar segera diumumkan kemerdekaan. Perjalanan sejarah menyebutkan pada bulan puasa, 17 Agustus 1945. Sukarno dan Hatta akhirnya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Pemerintahan parlementer kemudian menjadi sibuk jatuh bangun di negara muda ini. Komunis mendapat tempat tumbuh subur bahkan jadi partai terbesar keempat pada pemilu 1955.

Kejatuhan Sukarno akibat pemberontakan PKI mengubah arah sejarah dan terjadi pemutarbalikan sejarah.

Buku Putih Orde Baru

Rezim Orde Baru yang ingin menghilangkan pengaruh Sukarno mulai melakukan upaya masif. Salah satunya adalah menerbitkan buku tipis karangan Nugroho Noto Susanto berjudul “Naskah Proklamasi Jang Otentik dan Rumusan Pancasila Jang Otentik”. Nugroho kemudian menjadi Menteri Pendidikan dan kebudayaan. Bersama Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) Sumitro, mereka sukses membungkam mahasiswa dengan Program NKK (Normalisasi Kehidupan Kampus). Dewan Mahasiswa dibubarkan. Pancasila? Pancasila versi Orde Lama dilarang.  1 Juni 1970,  Kopkamtib secara resmi melarang peringatan Pancasila.

Orde Baru kemudian melakukan kanalisasi terjemahan Pancasila versi mereka. Badan baru di bawah presiden  bernama Badan Pembina Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP7) dibentuk untuk mendidik rakyat soal Pancasila versi Orde Baru.  Yang tidak ikut Penataran Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila (P4), enggak bisa masuk kerja di instansi pemerintah.  Tiap sekolah, sejak SD diwajibkan mengajarkan PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Sampai ke bangku kuliah. Saya masuk kuliah tahun 1993, masih ada mata kuliah Pancasila, 2 Satuan Kredit Semester (SKS).

Jatuhnya Suharto pada 20 Mei 1998 membuka babak sejarah baru soal Pancasila. BP7 bubar.

1 Juni 2006

Dengan semua pertolongan Tuhan, bangsa kita melewati fase demokrasi yang bergolak. Pemerintahan pulih. Presiden BJ Habibie, Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden Megawati Sukarno Putri dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi pemimpin.

Dengan stabilitas demokrasi, perbincangan soal Pancasila versi 1 Juni 1945 menjadi prioritas pemerintahan.

Hingga pada 1 Juni 2006, sebelum 2 tahun pemerintahannya, Presiden SBY berpidato dalam Simposium Peringatan Hari Pancasila di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta.

Langkah Presiden  SBY yang berada di sisi Pancasila 1 Juni 1945, secara resmi memperlihatkan sikap pemerintah yang ingin memulihkan nama baik dan warisan Presiden Sukarno sebagai Ideolog Republik.

Setelah pidato 1 Juni 2006, tradisi memperingati hari Pancasila dilanjutkan hingga periode pertama Pemerintahan SBY.

Ketika 2009-2014 Taufiq Kiemas menjadi Ketua MPR, peringatan Hari Pancasila menjadi semakin meriah. Bahkan beliaulah yang mencetuskan ide 4 Pilar Kebangsaan yang menjadi tugas anggota MPR untuk menyosialisasikannya ke daerah. Tradisi menghormati Pancasila 1 Juni 1945 ini  dilanjutkan oleh Presiden Joko Widodo. Dan menetapkannya sebagai hari libur.

Ikatan Kebangsaan

Suka tidak suka harus diakui bahwa Pidato SBY pada 1 Juni 2006 adalah momentum besar. Dalam pidato yang panjang itu, SBY menguraikan perjalanan sejarah ideologi  bangsa.

Presiden SBY memaknai Pancasila 1 Juni 1945 menjadi 3 hal.

Pertama, Pancasila telah mengangkat dan memberikan kerangka solusi menyangkut hubungan nasionalisme dan internasionalisme/globalisasi.

Kedua Pancasila 1 juni 1945 memperlihatkan hubungan demokrasi dengan kesejahteraan dan keadilan sosial.

Ketiga, bagaimana hubungan negara dan agama atau makna ketuhanan dan bagaimana agama harus dijalankan pemeluk-pemeluknya.

Ketegasan berpihak pada ideologi dilakukan SBY dengan jalan penegakan hukum. 1 Juni 2008, ketika sekelompok orang di Monumen Nasional (Monas) berdemonstrasi mendukung Pancasila, Front Pembela Islam (FPI) melakukan pembubaran dengan kekerasan. Perbuatan FPI, di mata SBY, merupakan pelanggaran hukum.  Tidak boleh ada kekerasan apa pun yang dilakukan terhadap masyarakat berbeda paham (aliran) oleh masyarakat lain. Kita ingat, ribuan polisi mengepung markas FPI di Petamburan, Jakarta, untuk menangkap pelaku kekerasan. 30 Oktober 2008 pengadilan kemudian memvonis Muhammad Rizieq Shihab dan Munarman  selama satu tahun enam bulan penjara.

Peringatan  1 Juni 2017 tentu relevan dengan kondisi kita saat ini. Kita masih belum pulih dengan luka-luka pasca-Pilkada DKI. Diakui atau tidak menguatnya kekhawatiran akan perpecahan semakin meningkat di era digital ini. Era yang penuh dengan provokasi dan hoaks demi perang kepentingan.

Untuk menutup perenungan ini, saya ingin kutip kembali kalimat menarik pada pidato Presiden SBY 1 Juni 2006:

“Jangan Sampai Ikatan Kesukuan, Ikatan Keagamaan, Ikatan Etnis, Ikatan Kedaerahan dan Lain-lain, Menabrak Ikatan Kebangsaan yang Harus Kokoh Kita Pertahankan”.

Tabik

*) Anggota Fraksi Partai Demokrat DPR-RI

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.