Jangan Diam

Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono mengenakan kaus #JanganDiam. (Foto/Desain: DPP-PD)

Oleh: Yeriko Fernando*)

Diam itu emas. Iya, emas, sejauh diam karena ketidaktahuan. Namun, diam itu menjadi tragedi ketika yang tahu memilih diam di hadapan masalah yang ada. Maka, di hadapan setiap persoalan, diam bukanlah solusi.

Di hadapan kejahatan, di hadapan ketidakadilan, kita mesti bersuara lantang melawan. Diam ditindas atau mati melawan!

Diam sepertinya menjadi bakat terpendam kebanyakan orang Indonesia. Selama 32 tahun kebanyakan orang Indonesia terlatih untuk diam. Bungkam, bergeming di hadapan ketidakadilan yang dipertontonkan oleh rezim Orde Baru.

Diam karena dikondisikan, juga karena memilih diam adalah emas demi tetap hidup. Orang dipaksa diam demi tetap hidup meski itu menyakitkan.

Mentalitas diam di hadapan masalah menjadi hal yang akrab dengan hidup kebanyakan orang Indonesia, masyarakat menengah ke bawah pada umumnya. Ini mentalitas feodal, mentalitas budak, yang merendahkan diri di hadapan kaki tuan. Seolah kita para jelata ibarat debu di alas kaki sang tuan.

Selama 32 tahun kita bergeming. Bungkam. Setelah lepas dari belenggu Orba, kita masuk ke alam demokratis. Bebas melakukan apa saja asalkan tak mencederai kebebasan orang lain. Namun, kebanyakan masih dihantui masa lalu “diam adalah emas” daripada “ribut bertemu maut”.

Sudah 20 tahun reformasi, selama itu pula orang masa bodoh di hadapan persoalan-persoalan yang ada. Rupiah yang nyaris tembus Rp 15.000 tak dihiraukan, kinerja aparat penegak hukum yang lalai sehingga teror bom merajalela kita masih memilih diam.

Masih banyak lagi persoalan-persoalan bangsa yang terjadi, yang disebabkan rezim. Kita apatis dan mengaminkan itu sebagai ‘kelemahan manusiawi’ karena pemimpin kita itu merakyat dan orang baik.

Saya rasa sudah cukup kita diam dan masa bodoh terhadap situasi saat ini. Diam bukan solusi, diam tak bisa mengubah kemiskinan menjadi kesejahteraan, mengubah ketidakadilan menjadi keadilan. Diam hanya membuat kita ditindas dan memaksa kita merasa nyaman dalam penindasan.

“Jangan diam” adalah ajakan untuk melawan ketidakadilan dan diskriminasi. “Jangan diam” adalah bentuk perlawanan kita atas segala bentuk penjajahan.

*)Fungsionaris DPP Partai Demokrat