Kembalikan Pers sebagai Pilar Demokrasi

Ferdinand Hutahaean (twitter/@Revolusi1977)

Kembalikan Pers sebagai Pilar Demokrasi

(Analisis Pasca-Anugerah Prapanca Agung pada SBY)

Oleh: Ferdinand Hutahaean*)

Masih terngiang dalam pemikiran tentang pidato Presiden RI ke-6, Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat menerima anugerah Prapanca Agung sebagai “Bapak Demokrasi” dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Jawa Timur, 29 Maret 2017 lalu. Ada penggalan-penggalan kalimat penuh penekanan makna, baik penekanan sikap maupun penekanan pertanyaan.

SBY tampak sangat risau dengan situasi demokrasi kita saat ini, yang semakin kehilangan ruh demokrasi. SBY terlihat sangat resah dengan posisi serta keberadaan pers sebagai pilar demokrasi. Meninggalkan posisinya serta menjadi lebih partisan dalam politik dan demokrasi.

Ada beberapa potong kalimat dari rangkaian pidato SBY yang menjadi fokus pemikiran dan analisis saya.

Pertama, “Tidak baik saya disebut penakut dan tidak boleh bicara di negeri sendiri, maka saya terima bicara tentang demokrasi dan pers.”

Begitulah sepenggal kalimat pertama yang menarik untuk saya, dan mungkin juga bagi banyak orang. Mengapa SBY menyelipkan kalimat “tidak baik saya disebut penakut”?

Pengamatan saya kemudian tertuju kepada Pilkada Jakarta putaran kedua, dimana SBY, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dan Demokrat memutuskan sikap tidak mendukung salah satu pasangan calon. Sikap itu kemudian menumbuhkan perdebatan di tengah publik, hingga ada yang menyebut SBY takut dalam bersikap.

Jika merunut peristiwa, tentu sikap itu muncul bukan karena SBY takut. Andai SBY takut, sebagaimana digambarkan sekelompok pihak dengan menganalogikan SBY takut kepada penguasa, tentu SBY atas ketakutan tadi pasti mendukung calon yang didukung kekuasaan. Tidak mendukung salah satu pasangan itu juga bukan karena SBY berani.

Ini bukan masalah berani atau takut, tapi masalah menjaga demokrasi. Logis bukan?

Ternyata SBY memang bukan takut, tapi SBY sebagai negarawan melihat dan membaca peta politik Jakarta sudah tidak sehat. Demokrasi hilang dari Jakarta. Demokrasi menjadi unjuk kekuatan menang-menangan bahkan menghalalkan segala cara. Ini mendasari sikap SBY, yang ingin selalu menjaga demokrasi supaya benar-benar beretika, beradab, dan menjunjung tinggi hak demokrasi rakyat sebagai tuan atas demokrasi.

Kata tidak takut ini juga kemudian diselipkan oleh SBY karena hampir tidak ada yang berani bicara mengkritik situasi saat ini secara tepat dan proporsional. Meski publik sudah banyak mempersoalkan ketidaknetralan media.

SBY secara resmi, di forum besar, memberikan kritik untuk kebaikan demokrasi ke depan. SBY tidak takut kalaupun karena kritiknya kemudian dijauhi media. SBY mengambil risiko demi masa depan demokrasi dan masa depan negara.

Kedua, “Demokrasi yang rakyatnya sungguh berdaulat, suaranya didengar dan aktif ikut berpartisipasi”.

Pernyataan ini juga menarik untuk dicerminkan kepada era kekinian.

Pertanyaannya, Apakah pemerintah, penguasa sebagai hasil dari demokrasi yang kita lakoni masih menempatkan rakyat sebagai subjek yang berdaulat dalam negara? Apakah suara rakyat masih didengar? Apakah rakyat masih berperan aktif dalam negara?

Pertanyaan itu semua tentu bisa kita jawab bersama-sama. Namun kali ini saya ingin menjawabnya dengan pemikiran saya sendiri, bukan mencoba menerjemahkan maksud dan pemikiran SBY.

Saya tidak lagi melihat bahwa rakyat masih berdaulat dalam negara saat ini, tapi rakyat telah hanya menjadi objek demokrasi untuk diambil suaranya, diambil kedaulatannya hingga kedaulatan itu berpindah ke tangan penguasa.

Lihatlah  bagaimana rakyat hanya boleh mengeluh tapi tak punya kesempatan untuk ikut menentukan arah bangsa. Kejadian wafatnya Ibu Patmi di depan Istana, saat demo menolak pabrik semen di Kendeng, adalah fakta sahih betapa rakyat kehilangan kedaulatannya.

Ketiga, “Demokrasi memerlukan pemberitaan pers yang objektif dan faktual, tidak memberitakan hoax dan jangan terlalu partisan”.

Pernyataan ini sungguh dapat kita maklumi dan mengerti dengan mudah. Kondisi saat ini demokrasi kita justru teracuni oleh posisi pers yang partisan bahkan terlalu partisan. Yang paling menyedihkan tidak sedikit pers yang bahkan memberitakan hoax demi kepentingan politik kelompok tertentu.Inilah bahayanya dan dampak negatif dari media yang dimiliki oleh tokoh politik atau dimiliki pemodal yang menjadi partisan politik.

Media sebagai pilar demokrasi seharusnya memberikan kebenaran faktual dan tidak memberitakan rekayasa opini. Publik kemudian teracuni oleh rekayasa opini sehingga publik menjadi tidak mendapat kebenaran faktual yang seharusnya menjadi urat nadi kehidupan demokrasi. Dampak jangka panjang dari itu semua, tentu suatu saat publik akan sampai pada titik dimana kebohongan menjadi kebenaran, maka hancurlah demokrasi secara permanen.

Keempat, “Adakah media (televisi, radio, koran, majalah, media online, media sosial) yang tidak berpihak menjadi corong pihak-pihak tertentu? Ada tidak pengaruh pemilik modal terhadap pemberitaan medianya? Ada tidak pengaruh kekuasaan yang juga membuat media jauh dari independen sebaliknya sangat berpihak dan menjadi corong kekuasaan?”

Menjadi sangat wajar pertanyaan-pertanyaan tersebut meluncur deras dari SBY. Sebagai negarawan yang paham betul tentang Demokrasi dan hakekatnya, tentu ketiga pertanyaan itu timbul bukan tanpa sebab. Media-media saat ini, terutama media mainstream, adalah media yang dimiliki tokoh politik, pemodal terafiliasi kelompok politik, dan pemodal terafiliasi kekuasaan.

Semua indikator itu menyebabkan pemberitaan tidak berimbang di lapangan, pemberitaan tidak proporsional, pemberitaan penuh rekayasa opini serta pemberitaan yang menjadi racun bagi demokrasi.

Korbannya adalah rakyat. Publik berhak mendapat pemberitaan faktual sehingga paham harus menentukan sikap pilihan dalam kontestasi politik sebagai praktek demokrasi hakiki.

Kelima, “Rakyatlah sesungguhnya pemilik media publik.”

Pernyataan pendek ini juga sangat menarik untuk dicermati dan dianalisis.

Mengapa SBY menyatakan bahwa rakyatlah sesungguhnya pemilik media? Saya mencoba merenungi kalimat pendek ini dan menemukan jawaban dalam diri saya. Media adalah seharusnya corong publik. Media seharusnya menjadi jembatan antara publik dengan penguasa. Media seharusnya menuntun publik melaksanakan demokrasi secara benar. Publik adalah subjek dan objek utama bagi media. Tanpa publik, maka media tak berguna. Tanpa media, publik kesulitan mengakses informasi.

Inilah seharusnya simbiosis mutualisma antara media dengan publik. Bukan seperti sekarang, media lebih bersimbiosis dengan kekuasaan dan kepentingan politik.

Kembalikan media sebagai pilar demokrasi yang memberitakan kebenaran faktual, yang menuntun rakyat berdemokrasi secara benar, yang mendidik rakyat tentang kebenaran dan demokrasi, yang mengawal demokrasi di tengah rakyat. Bukan yang meracuni  publik /rakyat dengan racun rekayasa opini, apalagi sebuah kebohongan atau hoax.

Itulah inti pokok seruan SBY, pasca-menerima anugerah Prapanca Agung sebagai “Bapak Demokrasi” yang saya pahami dan coba tuliskan dalam sebuah analisis dan opini.

Semoga…!

Makassar, 31 Maret 2017

*)Pimpinan Rumah Amanah Rakyat dan Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia

(dik)

6 comments

  • 關于Ion Magnum技術: 它的作用是加快脂肪代謝而轉化成肌肉。專業設計的微電流模擬大腦到肌肉的正常神經傳導。乙醯膽鹼及ATP(産生能量的物質)都是由神經末梢釋放的。神經元共振導致神經末梢持續不斷的釋放ATP,甚至能達到正常釋放量的500。 Ion Magnum應用的是世界定級的神經生理學技術,它加快脂肪燃燒的速度,增强肌肉收縮,提高基礎代謝率(指的是你靜息狀態下消耗卡路里的速率)。複雜的微電流包含2000次與正常生理過程的相互作用,由此達到人體自然狀態下所不能達到的效果。它可以加快能量的轉化,增强體力和運動能力。 Ion Magnum目前由位於英國的創新科學研究中心開發、製造,該中心是由歐盟提供資金支持的。該設備及其組件均是由英國頂級的科學家手工製作的。該産品有CE標志,CE標志是歐洲共同市場的安全標志。 Ion Magnum基於最新的起搏器技術。

  • Avon 雅芳 【新活360°美白系列】新活360˚美白晶亮緹顏面膜的商品介紹 Avon 雅芳,新活360°美白系列,新活360˚美白晶亮緹顏面膜

  • 水潤完整包覆角質層,提升肌膚保水力,打造滿溢水潤透亮的潤澤肌。 油~中性肌膚適用

  • Sasatinnie 【淨白魔法系列】淨白魔法面部精華 White Magic Perfect White Face Booster的商品介紹 Sasatinnie,淨白魔法系列,淨白魔法面部精華 White Magic Perfect White Face Booster

  • Danny Simpson is confident Riyad Mahrez will not drop off like PFA Player of the Year predecessor Eden Hazard, warning the best is yet to come from his Leicester team-mate. Danny Simpson backs Riyad Mahrez to go from strength to strength after Leicester star is crowned PFA Player of the Year 

  • Sportsmail have made a list of the top 50 players signed this season who have made all the difference to their new clubs. We’re counting down until our No 1 is revealed on Friday. THE LIST: Sportsmail’s top 50 Premier and Football League signings of the season – Nos 50-41

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.