Negeriku, Lelaplah dalam Tidurmu, Biarkan Kami Merawat Lukamu

Sekjen DPP-PD Dr Hinca Pandjaitan memimpin rombongan DPP-PD melakukan kerja politik Merajut Nusantara Menyapa Negeri yang Terluka dari Garut di selatan hingga ke Cirebon di utara Jawa Barat, Minggu dini hari (21/5). (twitter/Depkopolhukam DPP-PD)

Oleh: Ferdinand Hutahaean*)

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2017 masih menyisakan waktu sedikit beberapa menit sebelum hari baru menggantikannya di saat aku menuliskan kisah ini. Namun bagi kami semangat kebangkitan itu tidak akan punah, tidak akan berlalu meski banyak hari akan menggantikannya.

Waktu menunjukkan pukul 00.00, dari Wisma Proklamasi Jakarta Pusat Kantor DPP Partai Demokrat, rombongan DPP Partai Demokrat yang dipimpin oleh Sekjen Dr Hinca Pandjaitan bertolak menuju wilayah Jawa Barat melakukan Kerja Politik Merajut Nusantara Menyapa Negeri yang sedang terluka. Demokrat tidak ingin berdiam diri membiarkan bangsa ini terluka begitu saja.

Perjalanan Demokrat Keliling Nusantara kali ini akan menyapa wilayah Pasundan Jawa Barat dari sisi selatan ke sisi utara. Dari Garut di selatan hingga ke Cirebon di utara Jawa Barat. Perjalanan panjang menyapa negeri ini adalah perjalanan penuh makna yang dilakukan Partai Demokrat. Perjalanan membuka tabir-tabir kehidupan yang tertinggal dalam keterlambatan ekonomi maupun sosial politik.

Jawa Barat secara administratif mulai digunakan pada tahun 1925 ketika Pemerintah Hindia Belanda membentuk Provinsi Jawa Barat. Pembentukan Provinsi Jawa Barat sebagai pelaksanaan Bestuurshervormingwet tahun 1922, yang membagi Hindia Belanda atas daerah-daerah provinsi. Sebelum tahun 1925, Jawa Barat menggunakan istilah Soendalanden atau Tatar Soenda atau Pasoendan, sebagai sebutan geografi untuk menyebut bagian Pulau Jawa yang terletak di sebelah barat Sungai Cilosari dan Citanduy yang sebagian besar dihuni oleh penduduk yang menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa sehari-hari.

Pada 17 Agustus 1945, Jawa Barat bergabung menjadi bagian dari Republik Indonesia. Pada tanggal 27 Desember 1949 Jawa Barat menjadi Negara Pasundan yang merupakan salah satu negara bagian dari Republik Indonesia Serikat. Atas hasil kesepakatan tiga pihak dalam Konferensi Meja Bundar, Republik Indonesia, Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO), dan Belanda. Kesepakatan ini disaksikan juga oleh United Nations Commission for Indonesia (UNCI) sebagai perwakilan PBB.

Jawa Barat kembali bergabung dengan Republik Indonesia pada tahun 1950 dengan dasar hukum UU Nomor 11 Tahun 1950.

Begitulah sejarah singkat Jawa Barat, yang kini adalah Provinsi dengan populasi penduduk terbesar di Indonesia. Dengan semboyan Makmur Sentosa Rapih, Jawa Barat adalah wilayah yang sangat penting bagi Demokrat. Provinsi ini bagi Demokrat harus benar-benar dihantarkan menuju semboyannya yaitu Makmur dan Sentosa. Tidak ada alasan apa pun untuk membiarkan Jawa Barat tidak makmur dan tidak sentosa. Cita-cita dan target Demokrat adalah menghantarkan rakyatnya yang berkisar 50 juta jiwa lebih benar-benar makmur dan sentosa.

Itulah impian perjalanan Demokrat Keliling Nusantara Menyapa Negeri kali ini. Sebuah perjalanan yang akan membalut luka negeri, membasuh Nusantara yang tergores dengan luka sosial, luka ekonomi dan luka politik. Perjalanan bisu dalam kata di tengah lelapnya negeri.

Lelaplah negeriku dalam tidurmu, biarkan kami membalut lukamu, biarkan kami merawat lukamu. Dari Garut di selatan hingga Cirebon di utara, Demokrat akan merebut Jawa Barat dan menghantarnya menuju makmur sentosa.

*Sekali lagi, lelaplah negeriku dalam tidurmu, kami akan menyapamu dan merawat lukamu.

Jakarta, 21 Mei 2017

*)Komunikator Politik Partai Demokrat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.