Pemimpin Harus Benarkan yang Benar dan Salahkan yang Salah

Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) didampingi Ibu Ani Yudhoyono serta para Petinggi Demokrat dalam kegiatan Safari Ramadan Partai Demokrat di di Hotel Allium, Kota Tangerang, Banten, Rabu (21/6/2017). (Foto: MCPD/OmarTara)

Tangerang, Banten: Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan Refleksi Bulan Ramadan bertema “Pemimpin dan kepemimpinan”,  dengan topik “Pemimpin yang Adil, Tegas, dan Bijaksana”. Refleksi Safari Ramadan Partai Demokrat itu dilakukan di Hotel Allium, Kota Tangerang, Banten, Rabu (21/6/2017).

“Banyak teori tentang kepemimpinan yang baik. Karakter seorang pemimpin yang baik seperti apa, yang adil seperti apa, dan yang bikasana seperti apa. Tapi saya akan menyoroti satu dua hal saja terkait sifat-sifat pemimpin yang baik tadi yaitu adil, tegas, dan bijaksana,” SBY mengatakan.

Bagaimana seorang pemimpin dikatakan adil ada dua kriteria yang mudah diingat.

Pertama pemimpin disebut adil apabila membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah. Jangan sampai dibolak balik,  yang salah dibenarkan dan yang benar disalahkan. Itu bukan pemimpin yang adil.

Yang kedua, pemimpin dikatakan adil jika terhadap orang baik, benar, dan berprestasi diberikan penghargaan. Tetapi terhadap bawahan yang tidak baik dan selalu berbuat salah, tidak ada prestasinya, diberikan hukuman atau paling tidak diluruskan dan dikoreksi.

“Sebagai manusia sikap yang adil dan bijak itu adalah tidak selalu membenarkan yang kuat tetapi selalu memperkuat kebenaran. Jangan bermain-main dengan penegakan hukum karena itu akan merusak rasa keadilan,” SBY mengungkapkan.

SBY juga menambahkan, pemimpin harus cerdas dan bijaksana. Pemimpin cerdas dan bijaksana memiliki empat sifat untuk  melaksanakan tugas-tugas kepemimpinannya. Empat sifat terpuji itu dikenal luas dalam ajaran Islam karena merupakan sifat Nabi Muhammad SAW yang harus diteladani.

Pertama, siddiq (benar). Sidiq merupakan kebenaran dalam perkatan dan perbuatan. Satunya kata dalam perbuatan. Tidak mencla-mencle. Tidak berbohong.

Kedua, amanah (dapat dipercaya). Pemimpin harus dapat dipercaya dalam perkataan dan perbuatan.

Ketiga, fatanah (cerdas). Pemimpin mesti cerdas dan berpengetahuan. Pemimpin yang tidak cerdas tidak akan bisa mengarahkan kemajuan suatu daerah atau negara agar sukses.

Keempat, tablig (menyampaikan). Pemimpin harus berjiwa seperti Rasulullah saat menyampaikan firman Allah SWT. Dalam dunia nyata sekarang ini, pemimpin harus menyampaikan dan mengkomunikasikan hal yang harus diketahui oleh rakyatnya. Cara menyampaikannya pun harus cerdas dan tepat. Pemimpin juga harus punya solusi untuk disampaikan kepada rakyat.

Sebelum SBY menyampaikan Refleksi Ramadan, dilakukan pemberian santunan pada anak yatim piatu, Tausiah Hikmah Ramadan disampaikan KH Tajidin Hasan, pembacaan Ayat Kursi, dari Surah Al-Baqarah, Al-Quran dan saritilawahnya yang dibawakan kader Partai Demokrat.

Hadir dalam Safari Ramadan tersebut, antara lain, Ibu Ani Yudhoyono, Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Hinca Pandjaitan, Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Gubernur Banten Wahidin Halim, para Pimpinan Divisi dan Departemen DPP-PD, Ketua DPD-PD Banten Aeng Khaerudin beserta jajarannya, para Ketua DPC, PAC, dan ranting PD se- Banten, serta para anak yatim piatu.

(Iwan K/dik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.