Poros Ketiga Harus Berdasar Hitungan Rasional

Presiden RI ke-6, Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono dalam konferensi pers di kantor DPP Partai Demokrat, Wisma Proklamasi 41, Jakarta Pusat, Selasa (6/2) lalu. (Foto: Abror Rizki)

Jakarta: PKS menyarankan Demokrat-PKB-PAN membentuk poros baru di Pilpres 2019. Meski menyatakan segala kemungkinan bisa terjadi, Demokrat menyebut poros ketiga tak bisa langsung diwujudkan karena harus ada kalkulasi politik.

“Dalam konteks matematika politik, poros baru menjadi solusi konkret untuk menerobos kebuntuan politik dan mengakomodasi harapan dan keinginan rakyat,” ujar Ketua DPP Demokrat Didik Mukrianto dalam perbincangan, Jumat (2/3/2018).

Meski begitu, bukan berarti Demokrat memberi lampu hijau soal usul PKS tersebut. Menurut Didik, pembentukan poros ketiga di Pilpres 2019 harus memperhatikan rasionalitas politik.

“Namun demikian, lahirnya poros selain hitung-hitung matematika politik yang peluangnya cukup besar, tentu harus juga didasarkan sebuah hitung-hitungan rasional,” tuturnya.

PKS mengalkulasikan jumlah kursi yang dimiliki Demokrat-PKB-PAN di DPR mencukupi untuk mengusung pasangan calon di Pilpres. Hanya, Demokrat menilai memenuhi ambang batas saja tidak cukup. Harus ada kesamaan platform antar-partai koalisi.

“Ideal dan update dengan kebutuhan politik kekinian yang didasarkan kepada poros baru dengan platform, visi, dan tujuan yang sama untuk berkoalisi,” ucap Didik.

Dalam konteks rasional, Demokrat belum bisa memastikan siapa pihak yang akan dilawannya atau diajaknya berkawan di Pilpres 2019. Disebut Didik, saat ini Demokrat sedang menjalin komunikasi dengan semua pihak.

“Masih terlalu pagi dan sangat cair untuk sebuah sikap dan keputusan politik, karena bukan hanya parpol yang punya domain, tentu rakyat yang akan punya peran signifikan untuk menentukan langkah ke depan,” tambahnya.

Senada dengan Didik, Ketua Divisi Komunikasi Publik Partai Demokrat Imelda Sari menyebut pihaknya saat ini masih fokus berkonsolidasi untuk pemenangan Pilkada Serentak 2018. Demokrat baru akan membahas strategi pemenangan Pemilu 2019 dalam rapimnas nanti. Partai berlambang bintang segitiga merah putih itu menyebut bisa bekerja sama dengan partai mana saja.

“Bisa dengan partai mana pun. Partai Demokrat membuka komunikasi dengan semua parpol seperti yang disampaikan Ketum sebelumnya pada saat Januari pengumuman cagub,” ungkap Imelda saat dihubungi terpisah.

Komunikasi yang dimaksud seperti saat Ketua Kogasma Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bertemu dengan Ketum Golkar Airlangga Hartarto. AHY juga sempat berkomunikasi langsung dengan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri.

“Juga sebelumnya ada komunikasi Sekjen dengan para sekjen parpol, Ketum SBY juga berkomunikasi dengan baik Presiden dan Wapres juga dengan ketum partai, termasuk dengan Gerindra, PKS, PAN , PKB, Hanura, dan NasDem jelang pilkada lalu,” terang Imelda.

Dia mengatakan segala kemungkinan masih bisa terjadi. Imelda menyebut saat ini semua opsi masih terbuka terkait koalisi di Pilpres 2019.

“Jadi dalam politik, anything is possible itu yang diajarkan Ketum SBY kepada kami. Karena politik itu cair. Semua opsi terbuka,” sebutnya.

Meski begitu, Demokrat menyampaikan apresiasi atas usulan dari PKS. Demokrat akan membahas strategi Pilpres 2019 di Rapimnas pekan depan.

“Terima kasih untuk teman di PKS yang amat memberikan atensi kepada Demokrat. Tentu kami bahagia karena sejawat kami dari PKS memberikan atensi kepada Demokrat. Politik itu dinamis. Nanti kan Rapimnas 10-11 Maret ini. Tunggu berita baik dari kami,” tukas Imelda.

Sebelumnya, PKS mengusulkan Demokrat-PAN-PKB membentuk poros baru. Ini agar ada tiga pasangan calon di Pilpres 2018 sebagai alternatif dari Joko Widodo (Jokowi) yang diusung PDIP-Golkar-PPP-NasDem-Hanura dan Prabowo Subianto yang diusung Gerindra-PKS.

(detik/dik)