Prihatin Kasus SARA, Ibas Ajak Warga Perkokoh Persatuan

Foto dokumentasi Ketua FPD DPR-RI, dalam kapasitas sebagai Anggota DPR-RI Dapil VII Jatim, Edhie Baskoro Yudhoyono saat reses dan mmembagikan air bersih di Trenggalek November 2015. (foto: EBY Team)

Jakarta: Ketua FPD DPR-RI Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas mengajak seluruh masyarakat memperkokoh persatuan dengan mengamalkan empat pilar atau konsensus kebangsaan. Hal itu guna mereduksi isu SARA serta perselisihan di sebagian kalangan masyarakat.

“Seharusnya kita semua besyukur, Indonesia memiliki empat pilar kebangsaan, yang bisa menjadi pemersatu bangsa, mulai dari Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika,” katanya, saat melakukan reses di Trenggalek, Senin (15/5/2017).

Menurutnya, apabila empat pilar kebangsaan benar-benar dijalankan oleh seluruh elemen masyarakat, dia optimistis tidak akan muncul perpecahan maupun perselisihan yang berbau SARA.

“Karena semua sudah jelas dan diatur, dalam Pancasila sila satu misalkan, Ketuhanan Yang Maha Esa, ada enam agama yang diakui, ada Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu,” ujarnya.

Dijelaskannya, dalam Undang-undang Dasar 1945 masyarakat telah diberikan kebebasan untuk mejalankan ibadah sesuai dengan keyakinan yang dianut. Sehingga, masyarakat jangan sampai mudah terprovoksi dengan isu SARA yang menyebar melalui media sosial maupun konten lain.

“Kalau kita melihat isu yang berkembang saat ini, seolah-olah negara kita terbelah, terjadinya polarisasi antara kelompok A dengan kelompok tertentu. itu sebetulnya tidak harus dikembangkan, masyarakat harus cerdas, media juga harus cerdas,” imbuh Ibas.

Anggota DPR-RI Dapil Jatim VII itu menambahkan, Indonesia adalah negara hukum, sehingga seluruh pihak harus taat dan menghormati semua proses hukum yang berjalan. Termasuk beberapa kasus hukum yang ramai terjadi di Indonesia belakangan ini.

“Mari kita kuatkan persatuan, jangan sampai energi kita habis hanya untuk menyelesaikan masalah-masalah yang seperti ini. Masih banyak PR yang harus dikerjakan, menjawab kebutuhan masyarakat, serta melaksanakan program-program pro rakyat.

Ibas berharap seluruh tokoh politik, agama maupun masyarakat saling menjaga toleransi dan mengendalikan diri sehingga situasi ketenteraman masyarakat tetap terjaga dan bisa hidup harmonis.

“Kita harus mampu membedakan mana masalah agama, maka masalah hukum dan mana persoalan pribadi dan persoalan politik,” jelasnya.

(detik/dik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.