Rindu dalam Sebuah Buku

Presiden RI ke-6, yang juga Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan sambutan saat peluncuran buku “SBY, Bagai Rindu Tak Sudah” di Ballroom Hotel Nirwana Lagoi, Bintan, Kepri (24/4). (twitter/hincapandjaitan)

Buku itu sangat sederhana. Bersampul biru. Judulnya puitis “SBY, Bagai Rindu Tak Sudah”.

“Jika membaca judulnya, orang pasti mengira ini puisi. Tetapi saya menamakannya buku yang berisi ‘bahasa hati’,” demikian Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan saat peluncuran buku itu di Ballroom Hotel Nirwana Lagoi, Bintan, Kepulauan Riau (Kepri), Minggu  (24/4).

Buku itu memang bahasa hati masyarakat, dalam ragam profesi, di Kepri. Buku dengan gambar sampul SBY Diterbitkan Katabaca dan Partai Demokrat Kepri. Buku ini merupakan ucapan terima kasih masyarakat Kepri kepada SBY.

SBY memang layak mendapat kado istimewa itu.  Di masa pemerintahan SBY, barulah Provinsi Kepri berjalan efektif. Tak hanya itu, hanya 13 hari setelah dilantik, SBY (pada 2 November 2004) telah melakukan kunjungan resmi pertama ke luar ibu kota negara.

Bagi masyarakat Kepri, perhatian besar SBY tentu akan diingat sepanjang masa. Tidak sekadar karena itu adalah kunjungan resmi pertama SBY, tetapi juga karena teramat cepat dan Kepri yang dipilih.

Bak kata pepatah, “pisang emas bawa berlayar; masak sebiji di dalam peti//utang emas bisa dibayar; utang budi dibawa mati”.

Bangsa Melayu Kepri adalah bangsa yang sama dengan suku bangsa lain di Indonesia. Bangsa yang teramat baik dan rapi menyimpan budi. Buku yang mereka terbitkan adalah satu usaha membalas budi.

Meski diterbitkan sebagai upaya membalas budi, buku itu tidak dikerjakan sembarang. Di kata pengantarnya, Sekjen Partai Demokrat Hinca Pandjaitan mengatakan, buku itu  terbit setelah kajian mendalam. Meski sederhana, buku ini jelas merangkum beragam ide dan gagasan cemerlang. Bahkan belum ada daerah lain melakukannya.

Sebagai seorang pemimpin dan guru bangsa, SBY tentu menjadi sorotan dari berbagai kalangan. Menjadi unik karena di mata mayoritas warga Kepri, SBY dipandang sebagai pemimpin sejati. Ke-16 penulis di dalam buku tersebut menuliskan pandangan dan argumentasinya bahwa SBY memang sangat layak diapresiasi. SBY adalah pemimpin yang akan selamanya dirindukan.

Ke-16 penulis itu adalah Huzrin Hood, Apri Sujadi, Hardi Slamet Hood, Maskur Tilawahyu, Aswandi Syahri, Surya Makmur Nasution, Hotman Hutapea, Pepy Chandra, Teuku Hamzah Husein, Hendri Anak Rahman, Insyah Fauzi, Yusripandi, Muhammad Faisal, Rendra Setyadiharja, Santini, dan Remon.

SBY, yang didampingi Ibu Ani Yudhoyono dan Agus Harimurti Yudhoyono, tentu merasa terharu atas kado masyarakat Kepri. Jikalah seluruh masyarakat Indonesia bisa menilai segala sesuatu dan menuliskannya dengan hati maka negara maju tenang dan damai.

“Kehidupan di negeri kita ini dipenuhi ujian. Ingatlah, apa yang kita tuju tentunya kebahagiaan di dunia dan akhirat.  Jika semua tantangan kita hadapi bersama, Indonesia akan maju dan adil,” SBY mengajak warga bersikap matang.

SBY lantas mengisahkan, bukan tanpa sebab, ia kerap mengunjungi Kepri. Secara geopolitik dan geoekonomi, Kepri memang unik. Kepri berada di barisan terdepan Nusantara. Di masa globalisasi, semua negara saling terkait. Saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia dan Asia maju signifikan. Peluang-peluang baru muncul untuk  kemajuan.  Kepri adalah pintu gerbang bangsa. Jika selama 10 tahun, SBY kerap mengunjungi Kepri, semata karena Indonesia harus aman-sejahtera.

Kepri adalah daerah yang sangat menjanjikan di masa depan. Negeri itu kaya sumber daya alam. Jika warganya bisa berpikir dan bekerja secara positif; mengedepankan optimisme, maka sangat banyak peluang tercipta.

Bagi SBY, seorang pemimpin sudah selayaknya dan seharusnya berjuang penuh untuk memberi kebebasan, keadilan, dan kesejahteraan bagi rakyatnya. Itulah yang ia perjuangkan selama memimpin Nusantara, termasuk Kepri.

Sebuah pemikiran matang dari pemimpin yang mendarmabaktikan diri bagi rakyat. Sebuah pemikiran pemimpin yang membuat masyarakat berulang mengucap rindu, lantas menuangkannya dalam sebuah buku.

(didik l pambudi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.