Rindu Tak Sudah: Katakan Cinta dengan Buku

Presiden RI ke-6, yang juga Ketua Umum Partai Demokrat, Prof Dr H. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menandatangani peluncuran buku bertajuk “SBY, Bagai Rindu Tak Sudah” di Lagoi, Bintan, Minggu, 23 April 2017. Buku ini adalah ucapan terima kasih tak berkesudahan warga Kepulauan Riau atas kepedulian tinggi SBY pada Bumi Bunda Melayu tersebut. (twitter/hincapandjaitan)

Oleh: Ramadhan Pohan *)

BANYAK jalan menuju cinta. Banyak cara ungkapkan rasa dan cita. Ada dengan puisi, pantun,  rangkaian kedalaman kata. Bisa medium bunga. Dengan syukuran. Atau persembahan karya kreatif: Apa saja.

Sebagian tokoh Kepulauan Riau (Kepri) pun punya cara tersendiri. Kepada Prof DR H. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mereka persembahkan sebuah buku bertajuk: SBY, Bagai Rindu Tak Sudah. Diluncurkan di Lagoi, Bintan, Minggu, 23 April 2017.

Buku setebal 155 halaman ini dieditori Husnizar Hood dan Trisno Aji Putra, diterbitkan Katabaca Institute. Ke-16 penulis menyorot SBY dari pelbagai sudut pandang, aspek, pengalaman empiris, kisah-kisah perjuangan dan kebersamaan. Buku yang merayakan kemanusiaan, persahabatan, ketekunan, kenangan dan harapan sekaligus.

Kenapa Kepri, Bumi 1796 Pulau?

Para tokoh Kepri yang menulis di buku ini menyimpan kekaguman tinggi pada Presiden Ke-6 RI. SBY dinilai mempunyai kepedulian tinggi pada Bumi Bunda Melayu.  Dilantik sebagai Presiden RI  pada 20 Oktober 2004. Maka dalam hitungan waktu kurang dua pekan, SBY lakukan kunjungan kerja ke Tanjungpinang, Kepri.

Inilah kunjungan tercepat dalam sejarah, Figur Nomor Satu RI ke Kepri. Setelah itu, SBY kembali dan lagi dan lagi mengunjungi provinsi di tepian Selat Malaka ini. Masyarakat Kepri sangat terkesan pada SBY. Seperti dikemukakan kedua editor buku ini, SBY memiliki magnet istimewa bagi masyarakat Melayu, Bumi Gurindam Dua Belas.

“Kunjungan-kunjungan [SBY] (senantiasa) meninggalkan sejumlah memori indah bagi warga Kepri. Betapa tidak, selama ini Kepri salah satu provinsi yang sama sekali ‘tidak masuk hitungan’, “tulis Husnizar dan Trisno.

Di mata Kepri, Bumi Segantang Lada, empat hal yang menjadi magnet tersendiri bagi SBY adalah; perbatasan, pariwisata, pertumbuhan ekonomi, dan kemaritiman. Jadi buku ini bolehlah sebagai ungkapan terimakasih Kepri pada SBY. Bukan Melayu bila tidak mengungkap kata dengan kedalaman makna.

“Bila Melayu adalah pandai menyimpan budi maka buku ini adalah salah satu upaya membalas budi baik SBY terhadap masyarakat Kepri,” kata Husnizar dan Trisno, serempak.

Buku SBY Bagai Rindu Tak Sudah, diberi kata pengantar Sekjen DPP PD DR Hinca Panjaitan, cetusan jiwa tentang kerinduan yang tak berkesudahan. Rindu tidak habis-habisnya… Kendati SBY tak lagi Presiden, memori kerinduan itu terus tersimpan.

Kenangan itu datang dari internal maupun eksternal Demokrat. Dari kalangan internal selain Husnizar, ikut menulis pula Ketua DPD PD Kepri  sekaligus Bupati Bintan Apri Sujadi Ketua FPD Plus DPRD Kota Tanjungpinang, Maskur Tilawahyu, Ketua DPC PD Tanjungpinang cum  aktris lakon tenar Mak Yong, Pepy Candra. Ada juga Ketua FPD DPRD Kepri Hotman Hutapea.

Ikut menulis Wakil Ketua DPRD Kota Batam Teuku Hamzah Husen, Ketua DPRD Kabupaten Natuna Yusripandi, dan Wakil DIrektur Eksekutif DPD PD Kepri, Remon. Kendati kader dan pengurus, bukan berarti asal comot dan serampangan. Editor buku ini menjelaskan kontributor-penulis diseleksi ketat, dan benar-benar pilihan. Saat launching Husnizar jelaskan itu sembari menyebut nama Surya Makmur Nasution. Surya yang mantan wartawan Harian Kompas ini didapuk berikan testimonialnya tentang SBY.

Tokoh sentral pembentukan Provinsi Kepri sekaligus Pemangku Adat Kerajaan Bentan, Huzrin Hood diberi waktu Panitia Launching testimonial. Diingatkan supaya tampil jangan lama-lama, Husnizar  membalas senyum saja. Lho kenapa? Bagi Huzrin, sosok budayawan nasional dari Kepri ini,  sejarah mendalam, kerekatan historis dan keeratan kultural SBY dan Bumi Gurindam 12, tak mungkin hanya sekejap.

“Selama 10 tahun kepemimpinannya (SBY) telah menorehkan berbgai kenangan di hati masyarakat… Untuk kemajuan Kepri SBY memiliki kepedulian yang patut diapresiasi,”kata Huzrin.

Salah satu jejak SBY, kata Huzrin, pemberian nama Pesona Lagoi Bintan yang sebelumnya disebut Treasure Bay. Ini kawasan wisata utama destinasi turis dalam negeri dan manca negara.

Anggota DPD RI Dapil Kepri Hardi S Hood menulis pengalamannya mengikuti kunker SBY ke beberapa negara. Banyak kesan mendalam dirasakannya.

Sejarawan lokal, Aswandi Syahri menyebut SBY sosok Bapak Bangsa berkontribusi besar bagi masyarakat Kepri. Aswandi yang juga terlibat di Lembaga Adat Melayu Provinsi Kepri menyebut pihaknya pernah menyiapkan pemberian gelar kebesaran adat tertinggi Sri Perdana Mahkota Negara.

“Niatnya sudah ada, persiapan juga sudah, tinggal menzahirkan saja yang belum dikabulkan Allah SWT,”ujar Aswandi.

Menarik membaca ungkapan ragam tokoh dan kalangan di buku ini. Ada pengusaha Tanjungpinang di bidang usaha jasa pengiriman TKI, Santoni.  Ada juga tulisan Wakil Ketum Kadin, Insyah Fauzi, bertajuk Suatu Saat, Sosok SBY akan Dirindukan oleh Bangsa Ini.

Santoni menuliskan betapa era sebelum SBY, pasir laut Kepri dijual obral murah dan tergerus. Di era SBY selain kegiatan pengerukan besar-besaran stop, kebijakan juga lebih dipertegas. SBY, kata Santoni berpikir jauh ke depan demi penyelamatan lingkungan.

Kenegarawanan SBY yang selalu hindarkan konflik, kendati kerap diserang atau difitnah,  jadi catatan Muhammad Faizal, dosen Sekolah Tinggi Teknologi Indonesia (STTI) Tanjungpinang. Semasa berkuasa, SBY tak pernah gunakan kekuasaannya untuk menteror atau mengintimidasi lawan. Sosok demokrat sejati. Karena itu, “Mungkin saat ini kita hanya bisa merindu. Kita merindukan sosok yang selalu mencurahkan segala upayanya untuk rakyatnya, untuk negaranya,” tulis Faizal.

Senada dengan Faizal, budayawan Hendri Anak Rahman, memaknai demokratisnya SBY dalam untaian puisi, Surat Kepada SBY;  “Sepuluh tahun tuan menjadi pemimpin negeri/Tuan yang dalam ungkapan Melayu memiliki taring, kuku, dan kuasa/tapi kami tidak melihat bahwa kelebihan yang dimiliki itu untuk mengerkah, mencakar atau memaksa/Bahkan, kearifan pejuang dulu, seperti sudah terpateri dalam diri tuan.

Dosen STISIPOL, Rendra Setyadiharja dalam tulisannya SBY Pemimpin Penuh ‘Sampiran’, mengatakan: Tuan berlalu di pagi hari/Di hari Selasa membawa penganan/SBY selalu di hati kami/Seribu jasa jadi kenangan.

Rendra menyambung pantunnya: Beli kain di pagi hari/Di hari sore mudik ke Daik/Seribu pemimpin di negeri kami/Namun SBY paling terbaik…

*)Ramadhan Pohan adalah wartawan, ex Pimpinan Komisi I DPR RI, Wasekjen DPP PD; sedang mengambil profram Doktor (S-3) di Unpad.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.