Candu Baru: Akses Media Sosial

Dr Aerin Nizar (dok pri)

(Sebuah Kontemplasi setelah Workshop Medsos Partai Demokrat Sulsel)

Oleh: Doktor Aerin Nizar*)

Workshop Media Sosial bagi para kader dan pengurus Partai Demokrat Sulsel tanggal 18-19 Mei 2017 baru saja berlalu dan meninggalkan banyak pelajaran dan kesan mendalam. Yang terlibat dalam proses tersebut ramai mempopulerkan hashtag #medsosdemokratsulsel meskipun banyak yang baru belajar mengakses media sosial. Popularitas dan pemanfaatan sosial media online sebagai cara komunikasi moderen memang penting dan telah meningkat drastis belakangan ini. Hampir semua pihak memanfaatkan medsos sebagai salah satu cara untuk menyampaikan pesan dan citra yang ingin dibangun serta disampaikan ke khalayak.

Dalam jurnal We Are Social (2016), disebutkan bahwa di Indonesia dengan populasi penduduk yang mencapai sekitar 260 juta jiwa, di awal tahun 2106 saja terdapat 88,1 juta orang Indonesia yang memiliki akses internet. Dan dari populasi yang memiliki akses internet tersebut, terdapat 79 juta orang atau hampir 90% orang yang aktif sebagai pengguna media sosial dan angka ini naik 10% dari tahun sebelumnya.

Dari angka tersebut di atas, maka tak heran jika partai politik dan para politisinya adalah salah satu elemen masyarakat yang merasakan pentingnya pemanfaatan dan koneksi melalui media sosial ini karena diseminasi informasi ke media melalui platform konvensional maupun moderen memiliki peran krusial dalam proses dan dinamika demokrasi. Selain itu, tak bisa dipungkiri pula bahwa media sosial juga dapat menjadi sumber informasi alternatif kepada pemilih dan masyarakat yang berujung pada pengambilan keputusan dan pilihan masyarakat terhadap partai politik dan politisinya.

Media sosial adalah salah satu media alternatif modern yang telah berperan signifikan dan dipilih banyak orang dalam mengakses informasi. Terlebih ketika media-media konvensional yang ada dianggap tidak lagi memiliki objektifitas dalam menyebarkan informasi ke masyarakat atau kurang sigap menyampaikan informasi terbaru. Media sosial online dianggap alternatif pilihan yang lebih menarik karena selain tidak memiliki produser, sehingga tidak ada ‘pesan sponsor’, juga tidak memiliki ‘gate-keeper’, sehingga media sosial dianggap cenderung bebas lepas dan menyerahkan pilihan kedewasaan dan kecerdasan pengakses informasi dalam memilah antara informasi mana yang benar-valid dan mana yang hoax.

Era awal penggunaan media sosial yang cukup masif di bidang politik mungkin bisa saya sebutkan dimulai dari kampanye medsos Presiden AS Barrack Obama yang dianggap berhasil meraih simpati segmen pemilih muda secara siginifikan dan berlanjut perang medsos yang cukup sengit di era kontestasi pilpres antara pendukung Trump dan Hillary.

Di Indonesia peran medsos mulai terasa hangat ketika Pemilihan Gubernur DKI 2012 dengan kontestan Fauzi Bowo dan Jokowi. Begitu pula ketika Pilpres 2014 antara pendukung Jokowi dan Prabowo. Di Twitter menjadi ramai lalu lalang hashtag para pendukung misalnya hashtag #jkw4p atau #salamduajari dari pendukung Jokowi-JK, #indonesiasatu atau #pilihankusatu_Prabowo dari pendukung Prabowo. Terakhir, perang medsos di antara para pendukung kontestan Pilgub DKI 2017 yang masih terasa badai anginnya hingga detik ini, walaupun pemenangnya telah resmi diumumkan.

Cerdas dan fasih bermedsos dalam era ini adalah hal yang tidak bisa dihindari lagi. Memang benar bahwa terasa ada gap teknologi bagi beberapa orang yang berasal generasi berbeda. Dalam teori generasi yang membaginya ke dalam generasi X, Y, dan Z, disebutkan bahwa beberapa orang yang berasal dari Generasi X mengalami gagap teknologi karena di zaman mereka dahulu media sosial belum menjadi bagian kesehariannya. Berbeda dengan Generasi Y yang keseharian mereka telah mulai diintervensi media sosial, dimana di era tersebut telah ada facebook, yahoo messanger, dan chatting dengan MIRC atau eBuddy. Masih ingat di zaman mulai mengetik chat dengan kata ASL PLS U1 yang hanya mereka di era Gen Y yang familiar dengan singkatan ini atau istilah “kick” jika yang ditemani chat mulai mengesalkan. Dan Generasi Z adalah generasi yang paling fasih dengan teknologi karena boleh dikatakan sejak balita mereka sudah mulai bermain dengan smartphone.

Media sosial adalah candu baru era moderen, jika tak pandai mengelolanya dengan bijak dan dewasa maka orang akan larut di dalamnya. Larut dalam lautan informasi yang tak terbatas, yang tak terpilah, yang bebas diakses kapan pun, di mana pun, dan oleh siapa pun. Dikutip dari Jurnal We Are Social (2016) menyebutkan bahwa orang Indonesia dan negara tetangga terdekat seperti Thailand, Malaysia, dan Philipina mengakses media sosial rata-rata sebanyak 3 jam per hari dan lebih tinggi daripada akses media sosial orang-orang di negara lain seperti di Amerika, Inggris,  Singapura, dan Hongkong yang hanya menggunakan media sosial sekitar 1,5 hingga 1,7 jam saja per hari. Adapun Platform Media sosial yang sering digunakan oleh orang Indonesia adalah media sosial jaringan internasional seperti Facebook, Twitter, WhatsApp, dan Instagram untuk berkomunikasi yang berbeda dengan masyarakat China dan Vietnam yang lebih memilih menggunakan platform media sosial lokal.

Akses ke media sosial adalah sebuah akses ke dunia tanpa batas, tanpa jarak, dan bebas. Di dalamnya orang bebas membagikan informasi apa saja ke dalam platform tersebut. Telah banyak bukti yang ditunjukkan tentang manfaat yang diperoleh jika memiliki akses terhadap media sosial, namun tak sedikit pula dampak negatif media sosial jika kita tidak bijak dan cerdas memanfaatkannya.

Dalam workshop Partai Demokrat Sulsel kami belajar banyak hal, salah satunya adalah mengoptimalkan akun-akun media sosial yang dimiliki untuk mendiseminasi informasi tentang diri kita dan partai kita yang tidak atau belum sempat dibagikan oleh media-media konvensional yang ada. Selain itu diajarkan pula untuk senantiasa menjaga etika, norma, jujur, benar, dan menampilkan fakta dan data valid dalam membagikan informasi di media sosial karena ada UU IITE yang akan memberi sanksi bagi mereka yang melanggar batas kepatutan dan kewajaran dalam bersosialisasi di ruang maya tanpa batas ini.

Mari mulai berselancar positif di ruang online ini!

Makassar, 20 Mei 2017

*)Wakil Ketua DPD Partai Demokrat Sulsel