Demokrat Buka Pintu di Negeri Para Pemberani

 

Suasana saat Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Doktor Hinca IP Pandjaitan XIII melantik Ketua DPD-PD Sulsel Ni’matullah dan jajarannya di sekitar rusunawa Kampung Lette, Kecamatan Mariso, Kota Makasar, Minggu pagi 2 April 2017. (Foto: MCPD/OmarTara)

Oleh: Haris Wijaya*)

Catatan Singkat Demokrat Keliling Nusantara

Minggu pagi, 2 April 2017. Pagi ini sangat berbeda dengan pagi sebelumnya dalam kehidupanku. Semua diawali ketika telepon kamarku, di sebuah hotel, berbunyi, lalu kuangkat.

Kudengar suara merdu seorang wanita “Mas Haris kita tunggu di lobi ya”

“Siap kataku,” rupanya Fetty, Staf Sekjen Partai Demokrat Hinca Pandjaitan,  yang mengingatkanku.

Sesampai di lobi, aku bertemu Bang Sarjan (Wakil Ketua Badan Pembinaan Organisasi Keanggotaan dan Kaderisasi DPP-PD), Bang Ramadhan Pohan (Wakil Sekjen DPP-PD) yang biasa kami panggil Rampo, Cipta Panca Lesmana (kami sebut “terorisnya” medsos) , Habib Yotama (tokoh spiritual Gorontalo), Bung Ferdinand Hutahaean (penulis beken tentang politik), dan tokoh muda Demokrat, Jansen Sitindaon .

Kami lantas keluar lobi hotel, berjalan menuju tempat acara Pelantikan Pengurus DPD Partai Demokrat Sulsel, Rusunawa Kampung Lette, Kecamatan Mariso, Makasar. Jaraknya  sekitar  700 meter dari hotel.

Kami telusuri jalan becek (istilah anak Medan). Di pintu jalan masuk rusunawa, terpampang baliho besar bergambar foto calon pemimpin besar berusia muda. Ia cerdas, berkomitmen, berwawasan Internasional, pejuang dan petarung. Aku ingat kata-kata para muda mudi di Pasar Segar, tadi malam. Mereka berteriak “ganteng dan keren!”, ketika kami bertanya pendapat mereka tentang sosok tersebut dalam acara Demokrat Melayani. Itulah AHY (Agus Harimurti Yudhoyono) The Next Leader!

Maka betapa bahagianya aku melihat foto sang pemimpin mendatang, terpampang dalam baliho. Berjajar panjang dengan baliho para anggota Fraksi Partai Demokrat Sulsel dan Kabupaten/Kota se – Sulsel.

Sampailah kami di lokasi acara. Terlihat sepanjang jalan, sekitar 800 meter, berjejer gerobak-gerobak dorong  menyediakan sarapan pagi buat para pengunjung. Ya buat siapa saja yang menyaksikan acara pagi ini. Ada segala macam bubur ciri khas kuliner Makasar.

Saat itulah kami melihat Bang Sekjen Demokrat, Hinca Pandjiatan.

“Selamat pagi, Abang Sekjen,” kami menyapa.

“Selamat pagi,” beliau membalas.

Di tanganya tampak mangkuk plastik berisikan bubur putih dari jagung.

Saat kami berbincang, Mars Demokrat berkumandang dari speaker berkekuatan besar. Mars itu memberi kabar kepada semua masyarakat Kampung Lette untuk bersatu berbagi kecerian dalam balutan pelantikan dan pengukuhan DPD-PD Sulsel.

Acara pelantikan dan pengukuhan berjalan lancar. Tidak ada gangguan apa pun. Malah, gerimis yang turun justru membuat suasana semakin menyenangkan.

Selesai acara pelantikan, diiringi musik dangdut dan alunan sang penyanyi, Bang Hinca dan kakanda Andi Timo Pangerang (Wasekjen DPP-PD) menuruni pangung. Mereka berbaur bersama masyarakat Kampung Lette. Wilayah ini adalah pemukiman padat. DI sini juga terdapat rusunawa. Wilayah ini harus diperhatikan pemerintah, baik dari sektor pendidikan, kesehatan dan kelayakan hidup masyarakatnya.

Sebelumnya, sekumpulan ibu, warga Kampung Lette (saat gladi resik pelantikan), mengatakan padaku, “Tolong sampaikan kepada Bapak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) kami rindu padanya. Saat itu kami banyak dikasih rezeki dari Bapak SBY.”

“Apa yang diberikan Pak SBY kepada ibu ibu?” tanyaku.

Mereka berlomba menjawab,”Ada BLT, beras gratis, dan banyak lagi, Pak. Dulu BPJS gratis, sekarang harus bayar. Ada warga kami yang tidak sanggup bayar, akhirnya tidak dapat kartu BPJS.”

“Begitukah?” Tanyaku.

“Iya, Pak,” mereka berteriak serentak.

Aku terdiam. Dalam benak, aku berharap pemerintah meninjau ulang kebijakannya. Masyarakat yang tidak mampu mestinya tidak membayar BPJS.

Aku tersadar dari lamunan atas peristiwa semalam. Bang Sekjen tampak berjalan keluar dari kerumunan massa yang begitu padat. Kami segera Bang Hinca. Ia tampak menelusuri lorong-lorong kecil di pemukiman padat. Ia menyapa satu per satu masyarakat yang sedang ada di dalam rumah. Ia memberikan bendera-bendera Demokrat pada mereka.

Tiba tiba Bang Sekjen membelokkan tubuhnya ke lorong kecil. Ia mengikuti jalan seorang pengurus ranting Demokrat di Kampung Lette. Aku sempat khawatir melihat lorong itu. Badanku lumayan besar.

“Untung saja badanku muat. kalau tidak, enggak masuk itu barang,” aku membatin.

Sampailah kami di depan sebuah rumah yang sangat sederhana. Di teras rumah itu, bergantung jajaran baju sedang dijemur, menyentuh semua kepala kami.

Bang Sekjen meminta Bang Sarjan dan kami menyapa penghuni rumah.

“Assalammualaikum,” kata kami serentak.

Usai salam itu, tiba tiba terdengar suara lantang Bang Sarjan Tahir. Ia menyanyikan lagu tak asing di telinga kami.

“Buka pintu, buka pintu. Beta ingin masuke. Buka pintu, buka pintu, apa boleh tuan nyonya izinkan?”

Mendengar lagu itu maka kami pun serentak bernyanyi. Nyanyian yang membuat kebahagiaan dan keceriaan bagi kami, penghuni rumah, serta masyarakat sekitar. Aku melihat Pak Tonny (Wakil Bupati Bulukumba) juga berbaur bersama kami.

Lantas, beberapa orang dari kami masuk bergantian ke dalam rumah yang ukurannya mungkin 3 x 5 meter. Saat itulah kami melihat seorang nenek terbujur sakit.

Bang Sekjen menyalami sang nenek dan mengucapkan,”Ibu cepatlah sembuh. Kami dari Partai Demokrat, partainya Bapak SBY. Saya Hinca Pandjaitan, Sekertaris Jenderal Partai Demokrat. Sekarang Ibu tidak sendiri. Seluruh Pengurus Demokrat Makasar dan Fraksi Demokrat Sulsel akan mendampingi pengobatan ibu sampai sembuh.”

“Iya… Terima kasih, Pak.  Terima kasih, Pak,” hanya itu yang mampu diucapkan sang nenek menahan harunya.

Kami pun tertunduk. Keharuan mendalam menyentuh hati kami.

Setelahnya, kami mengelilingi lorong-lorong pemukiman padat di Kampung Lette.  Lumayan jauh juga perjalanan hingga akhirnya kami tiba di rumah Ketua Ranting Demokrat Kampung Lette.

Gerimis yang masih turun mulai terasa membasahi wajah dan baju kami. Terlihat Hilda Thawila, yang kami sebut Mamak Ranting Demokrat, membawa bendera partai. Ia bersemangat menyanyikan Mars Demokrat. Di depan rumah sang ketua ranting, kami kembali menyanyikan lagu “Buka pintu, buka pintu. Beta ingin masuke”.

Lalu diiringi tetesan hujan karunia Tuhan serta disaksikan warga, Bang Sekjen menyerahkan bendera Demokrat kepada Bapak Jalal, sang ketua ranting.

Suara Bang Sekjen menggelegar,”Saudara Jalal, Anda tidak sendiri. Kami dari DPP Partai Demokrat begitu juga DPD dan DPC Partai Demokrat se-Sulawesi Selatan tidak ada apa-apanya jika tidak ada Saudara. Andalah panglima terdepan partai besar ini, Partai Demokrat. Saudara yang menentukan kemenangan Partai Demokrat di tahun 2019. Saudara juga rakyat kampung Lette ini yang akan menentukan siapa Presiden ke-8 Republik Indonesia . Ketua Umum Pak SBY, berpesan kepada saya, sampaikan salam saya kepada Ketua Ranting Kampung Lette. Teruslah bekerja keras untuk Kemenangan Partai Demokrat 2019. Saudara juga mendapat salam dari AHY (Agus Harimurti Yudhoyono), The Next Leader.”

Pak Jalal tampak terharu. Ia berkata dengan nada perlahan,“Bapak Sekjen… terima kasih atas kunjungan Bapak di rumah saya yang serba sederhana ini. Saya bersama keluarga dan masyarakat…”

Perkataan Pak Jalal terputus. Terlihat jelas air mata membasahi pipinya. Ia kemudian  menyeka air mata yang mengalir. Napasnya tampak tersendat menahan tangis haru. Begitupun ia tampak berusaha meneruskan kalimatnya.

“…saya siap membesarkan dan memenangkan Partai Demokrat di Kampung Lette ini, Bapak. Terima kasih, Bapak Sekjen…” Pak Jalal tak mampu lagi meneruskan kalimat.

Teman-teman, kututup dulu kisah selama mengunjungi Sulawesi Selatan, Negeri Para Pemberani dan Negeri Raja Raja. Semoga kisah menjadikan para kader Partai Demokrat se-Indonesia terus berbagi kepedulian dan memberikan solusi bagi masyarakat sekelilingnya.  Khususnya, masyarakat masyarakat yang belum seberuntung kita.

Salam Kemenangan 2019

#DemokratKelilingNusantara

*)Koordinator Depko Polhukam DPP-PD

(wan/dik)