Kisah Hinca Pandjaitan Kunjungi Desa Terisolir di Asahan

Anggota MPR/DPR RI DR Hinca IP Panjaitan XIII bersama Kepdes Pematang Sei Baru Kec Tanjung Balai Kab Asahan Hermansyah saat meninjau bibir pantai di laut selat Malaka beberapa waktu lalu. Warga mengeluhkan banjir rob, jalan rusak dan perselisihan nelayan tradisional dengan nelayan pemilik tengkrang. (dok redaksi geosiar)

Asahan: Setelah melalui perjalanan darat sekitar 2 jam dari Kota Tanjung Balai, Sumatera Utara (Sumut) menuju pantai timur Selat Malaka, tour politik Sekjen Partai Demokrat DR Hinca IP Panjaitan XIII tiba di suatu desa terpencil. Tujuan Hinca untuk melihat dan menjemput aspirasi masyarakat nelayan dan petani tradisional.

Ketika itu, Selasa (24/4/2018), tepatnya di Desa Pematang Sei Baru, Kec Tanjung Balai, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, ratusan warga sudah menunggu kedatangan anggota Komisi III DPR RI itu.

Jarak geografis dari Tanjung Balai ke Desa itu hanyah 12 Km, memang tidaklah jauh. Tapi, karena goncangan sepanjang perjalanan diakibatkan jalan rusak sehingga cukup melelahkan. Namun, kondisi seperti itu tidak membuat Hinca surut melanjutkan perjalanan. Tekadnya, untuk menjumpai masyarakat dan mendengar keluhan secara langsung sekaligus menindaklanjuti ke pemerintah merupakan impiannya.

Tentu saja, setibanya di Desa tersebut, Hinca tampak prihatin, apalagi saat mendengar keluhan Hamdan, mewakili warga desa. Hamdan pun menyampaikan kondisi jalan rusak yakni Jl Protokol Pematang Sei Baru yang menghubungkan Kota Tanjung Balai ke Kecamatan Silau Laut, Kabupaten Asahan. Jalan satu-satunya akses melintas desa membawa hasil pertanian dan perikanan selalu saja kendala.

Bukan itu saja, persoalan banjir pasang air laut (Rob) menghantam perkampungan warga nelayan tradisional. Sekitar 500 KK rumah warga di lingkungan 10 sampai 12 selalu dihantam banjir rob. Sehingga mengganggu aktifitas warga sehari hari. Warga berharap, pemerintah pusat dapat membangun tanggul penyangga rob di sepanjang bibir pantai timur selat Malaka.

Paling memprihatinkan lagi, kehidupan nelayan tradisional yang semakin terjepit akibat bebasnya kapal tengkrang beroperasi melanggar zona. Alat penangkap ikan jenis tengkrang milik pengusaha itu terkesan menjajah wilayah zona milik nelayan tradisional. Padahal, batas wilayah antara nelayan tradisional dengan alat tangkap tengkrang sudah ditentukan, namun tetap saja dilanggar. Bahkan Permen 71 Tahun 2016 yang mengatur wilayah operasi alat tangkap tengkrang dan tradisional tidak diindahkan.

Kepala Desa Pematang Sei Baru Kecamatan Tanjung Balai Kabupaten Asahan, Hermansyah menguatkan keluhan yang disampaikan warganya. Terkait jalan rusak diharapkan pemerintah pusat segera diperbaiki. Begitu juga perselisihan nelayan tradisional dan pengusaha nelayan alat tengkrang agar segera disikapi.

Pada kesempatan itu, Hermansyah Panjaitan mengharapkan anggota MPR/DPR RI Hinca Pandjaitan dapat memberi solusi terkait penderitaan warga setiap banjir rob.

“Agar pemukiman warga dapat terhindar dari banjir rob. Kami berharap dibangun tanggul/bendungan penahan air pasang sepanjang 1 km,” harap Hermansyah saat mendampingi Hinca Panjaitan meninjau bibir pantai selat Malaka itu.

Saat melakukan peninjauan, Hinca tampak terharu melihat semangat masyarakat memperjuangkan hidup kendati sarana infrastruktur yang sangat minim. Hinca mengaku prihatin minimnya perhatian pemerintah membangun desa sehingga tetap terisolir. Hinca mengaku akan berjuang menindaklanjuti keluhan warga dengan barapan dapat terealisasi.

“Persoalan ini akan saya sampaikan ke instansi terkait di pemerintahan pusat. Mudah-mudahan keinginan warga dapat terakomodir dan terealisasi,” ujar Hinca.

(lamru/geosiar/dik)