Memetik Pelajaran dari Kunjungan AHY ke Bumi Cendrawasih

AHY memberikan kuliah umum di Universitas Cendrawasih, Papua (22/1). (Foto: TYI)

Senin (22/1) kemarin, Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengunjungi Bumi Cendrawasih untuk menggelar berbagai kegiatan sosial dan edukasi. Ini merupakan rangkaian tour AHY di Indonesia Timur. Sesuai dengan agenda, setelah dari Jayapura, AHY berencana akan berkunjung ke Sorong, Ambon, hingga Maluku Utara.

Kedatangannya pada Senin pagi di Bandara Sentani, Jayapura, disambut dengan tari selamat datang. Sempat berbincang dengan pejabat setempat, AHY kemudian menyambangi Universitas Cendrawasih untuk memberikan kuliah umum.

Membawa semangat Generasi 2045: Satukan Semangat, Bangun Papua, antusiasme dari mahasiswa tampak dengan dipadatinya aula di Fakultas Teknik tersebut.

Terlepas dari kunjungan AHY ke Uncen tersebut, ada yang kemudian menyoroti dan menggiringnya ke ranah politik. Saya agak tertegun ketika ada yang mengatakan bahwa kunjungan AHY tidak berada di tempatnya atau sesuai dengan kondisi Papua saat ini.

Saya rasa ada yang menunggangi dan mengambil keuntungan dalam kunjungan AHY ini dengan mencoba menggiring opini publik pada langkah politis semata. Namun, terlepas dari itu semua, saya rasa kita harus berpijak pada apa yang dibawa AHY ke Bumi Cendrawasih tersebut.

Saya tentu tak bisa menyalahkan orang yang punya motif tersebut. Yang kemudian saya kemukakan adalah bagaimana kita mencerna informasi yang sebenarnya sehingga kita tidak tersesat dalam upaya penggiringan opini tersebut. Sayang sekali rasanya jika pada akhirnya tujuan mulia AHY untuk generasi muda, khususnya di Papua ini dicederai oleh opini liar semacam itu. Yang patut kita lakukan adalah memberikan apresiasi setinggi-tingginya pada AHY atas ilmu bermanfaat yang ia bagikan.

Toh, jika memang kunjungan AHY tidak semestinya dan harus ada penolakan, kita bisa berkaca pada kasus penolakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Uncen terhadap kedatangan Menkopolhukam Wiranto pada Desember 2017 lalu. Mahasiswa Uncen beranggapan bahwa kedatangan Wiranto tak membawa dampak apa pun selama ini. Mereka menilai kunjungan hanya sebatas formalitas dan tanpa solusi.

Lalu, dikaitkan dengan kunjungan AHY, bisa saja BEM Uncen menolak kedatangannya jika ada indikasi politik di dalamnya. Namun, melihat kenyataan di lapangan, antusiasme dari pihak kampus dan mahasiswa ternyata membumbung tinggi. Mereka hadir karena memandang AHY membawa sesuatu yang bermanfaat bagi generasi muda Papua ke depannya, sehingga tidak salah jika AHY harus disambut dan diberi podium.

Seperti dikutip dari tabloidjubi.com, Pembantu Rektor IV Uncen, Fredy Sukoy, menyampaikan apresiasi kepada AHY sebab telah memilih Uncen dari sekian banyak kampus yang ada di Indonesia timur, untuk memberikan kuliah umum kepada para mahasiswa-mahasiswi Uncen.

Ia berharap materi, pengalaman, dan pengetahuan yang dibawa AHY mampu diserap dengan baik oleh mahasiswa. Selain itu, Uncen sebagai wadah pencetak intelektual handal di tanah Papua dibantukan dengan hadirnya sosok muda inspiratif seperti AHY.

Perjalanan AHY masih berlanjut di Indonesia Timur. Saya harap ia tak berhenti di situ dan terus menebarkan pesan-pesan positif ke seantero nusantara. Maka tak salah jika kita kemudian memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya.

(Natalia Putri/kompasiana/dik)