–MENAKLUKKAN JAKARTA (II)

Oleh: JANSEN SITINDAON*)

Jansen Sitindaon

(Sebuah serial tulisan. Bagi yang belum membaca #Bagian 1 silahkan buka ini: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10213109899447702&id=1400494851 atau http://www.demokrat.or.id/s32j78lr2/menaklukkan-jakarta/)

#seriAppetizer

Karena belum adanya waktu untuk menuliskan #Bagian2 sedangkan permintaan dari teman-teman untuk melanjutkan kisahnya sangat banyak, maka saya ceritakan sedikit kisah lucu dimasa kost-kostan. Ini juga sebenarnya masih masuk bagian lika-liku proses menaklukkan Jakarta. Tapi ini bukan “main menu” atau makanan utamanya lah. Anggap saja ini “appetizer-nya”. Hidangan pembukanya. Sambil saya mencari waktu menuliskan bagian utamanya. Karena ditengah situasi kerja-kerja politik yang agak padat hari ini, saya agak kesulitan mencari waktu kosong untuk menulis. Sedangkan menulis masa lalu itu butuh fokus lebih, karena mengingat kejadian lampau yang jauh di belakang.

****

Judul appetizer kali ini saya buat:

–SAKIT DIMASA SUSAH!

Sekitar tahun 2006. Berarti sudah 12 tahun lalu. Saya punya teman satu kost (ini ceritanya masih zaman kost dipinggir kali) namanya Abdul Ghoffar. Sudah hampir 3 hari dia sakit. Meriang panas dingin. Biasanya cukup minum obat yang dijual di warung-warung sudah sembuh. Tokcer! Namun kali ini sial, tidak ampuh. Bukan sembuh malah tambah parah.

Teman-teman se-kost berdiskusi. Mengusulkan baiknya Ghofar dibawa ke rumah sakit saja untuk diperiksa. RS MH Thamrin rujukannya. Karena lokasinya yang cukup dekat dengan kost-an kami. Jalan kaki tidak sampai 10 menit tiba. Sampai sekarang rumah sakit ini juga masih ada dan gagah berdiri di jalan Salemba Tengah.

Walau uang dikantong pas-pasan, Ghoffar setuju dengan usul ke rumah sakit ini. Karena kondisinya memang sudah parah dan alternatif pengobatan lain juga tidak ada. Beramai-ramai kemudian kami “membopong” dan mengantarkan Ghoffar ke rumah sakit.

Singkat cerita, tiba di rumah sakit Ghoffar diperiksa. Diagnosa dilakukan penyakit ditemukan. Kemudian Dokter menuliskan resep untuk ditebus di apotik yang ada didalam rumah sakit juga.

Di apotik kertas resep tadi kami serahkan. Kemudian petugas mencoret-coretnya. Setelahnya kami diarahkan ke kasir melunasi pembayaran dulu. Baru nanti datang lagi ketempat itu mengambil obat yang sedang diracik dan disiapkan.

Sebelum ke kasir tentu kertas yang tertulis nilai pembayaran lebih kurang Rp. 700 ribu itu kami tunjukkan dulu ke Ghoffar yang duduk menunggu. Tujuannya meminta uang yang dia punya. Dan jika kurang, semampunya kami tambahi. Karena uang kami juga pas-pasan.

Dia amati cermat kertas itu. Diam sejenak, kemudian tiba-tiba saja dia bangun dan bangkit berdiri. Kami kaget! Seketika itu juga kami lihat, badannya yang sebelumnya lemas dan loyo langsung tegap dan sehat. Ada apa ini tanya kami.

Tanya punya tanya, Ghoffar kemudian bercerita: “tidak tahu kata dia.. tiba-tiba saja penyakit di badannya lari entah kemana ketakutan melihat harga obat yang tak mampu dia bayar tersebut”. Hehe..

Akhir cerita, obat tidak jadi ditebus dan Ghoffar sembuh.

Pesan moral dari cerita Ghoffar diatas:

Satu: jika anda sakit, jangan pernah takut ke Rumah Sakit. Mana tahu sesudah melihat tagihan obat yang tak mampu anda bayar tersebut, penyakit anda malah lari terbirit-birit dan seketika itu juga anda sembuh. 😊

Kedua: jika anda juga pernah trauma tidak mampu menebus obat di Rumah Sakit, tirulah Ghoffar. Di kemudian hari dia kawin dengan seorang Dokter lulusan Unpad dan kerjanya di Kementerian Kesehatan lagi. Sehingga sekarang dia tidak pernah lagi takut sakit. Malah gantian, sekarang dokter yang sering dia sakiti. Hahaa.. guyonnn brooo..

–NB: Ghoffar ini bukan tokoh fiktif, dia sekarang bekerja di Mahkamah Konstitusi. Di zaman Prof. Mahfud MD jadi Ketua MK, dialah salah seorang staf ahlinya. Jadi tidak salah mengatakan, hari ini dia telah menjelma menjadi seorang “jagoan hukum konstitusi” di Indonesia. Dia juga penulis produktif yang artikelnya telah banyak dimuat di berbagai media massa nasional seperti Kompas, dll dan bahkan dari tangannya telah lahir buku hukum konstitusi yang dijual di Gramedia. Kalau dulu beli buku saja dia sulit, sekarang malah buku atas namanya yang dijual. “Urip iki memang wolak-walik zaman”.

Pesan moralnya: bagi perantau di Jakarta dan tempat lain yang sekarang hidupnya masih dibawah, yakinlah roda anda juga akan keatas. Tapi ingat! Namanya memutar roda.. dari bagian paling bawah lagi, pastilah kerjanya harus lebih keras.

Kembali ke Ghoffar. Dalam konteks “keluar negrian” dia ini malah lebih jago dari saya. Levelnya bukan lagi sekedar jalan-jalan ke luar negeri. Malah dia bersama keluarganya pernah tinggal lama disana. Hampir 2 tahun dia tinggal di Melbourne menemani istrinya “yang dokter itu” kuliah S2 disana karena dapat beasiswa.

Namun tinggal dimanapun, Ghoffar ini memang “selalu lucu” dan menunjukkan kerja kerasnya. Untuk nyari uang tambahan menghidupi keluarganya, bisa-bisanya dia nyambi kerja jadi kuli di pasar Melbourne. Catat: JADI KULI!! Karena jadi KULI di pasar ini, wartawan Indonesia yang sedang ada di Melbourne mungkin kaget. Menemukan ada orang yang sekolahnya sangat bagus dan tinggi tapi “nguli”. Cerita kehidupan Ghoffar ini kemudian diliput oleh media Indonesia. Silahkan baca, ini linknya Ghoffar jadi kuli di Melbourne: https://internasional.kompas.com/read/2015/11/27/14445681/Demi.Istri.Staf.Ahli.Hakim.Indonesia.Jadi.Kuli.Pasar.di.Australia

Dengan kerja kerasnya ini saya yakin, beberapa tahun kedepan Ghoffar bukan lagi sekedar menaklukkan Jakarta, tapi Indonesia. Jangan kaget dia akan menjelma menjadi Hakim Konstitusi Indonesia berikutnya dimasa depan. Dan jika itu terjadi, saya akan minta dia menulis buku dengan judul: “DARI PINGGIR KALI SALEMBA MENUJU MEDAN MERDEKA”. Cantik nian judul ini jika terjadi.

****

(Penutup: sesudah saya baca tulisan format baru ini, menarik juga beberapa teman sekost dulu saya kupas dalam tulisan. Selain menguatkan konteks, juga memperlebar narasi. Dan sekaligus pembaca juga punya gambaran mengenai kehidupan awal kami “dipinggiran kali Jakarta”. Dimana sakit saja seperti contoh diatas tidak bisa nebus obat.

Karena saya baru sadar ketika menulis hari ini, banyak diantara teman-teman itu yang malah sudah sering diliput media seperti Ghoffar diatas contohnya. Jadi enak dijadikan referensi. Inilah hidup.. perjalanannya mengalir seperti kali Salemba. Hahaa.. Apakah mengalirnya menuju ke sekitaran istana seperti Ghoffar atau malah balik pulang ke kampung, semua tergantung pelakunya. Kalau saya sih lebih suka memadukan keduanya. Libur besar kita mudik pulang kampung meninggalkan ibukota, kerja keseharian cari hidup ya di Jakarta di sekitaran istana.. hehee.).

Horassss..

*) Jansen Sitindaon adalah Komunikator Politik DPP-PD dan Ketua Departemen Pemberantasan Korupsi dan Mafia Hukum DPP-PD

Tulisan ini sudah dipublikasikan di

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10213247464366739&id=1400494851