MENAKLUKKAN JAKARTA!

Oleh: Jansen Sitindaon*)

Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, Ibu Negara RI ke-6 (almh) Ani Yudhoyono, dan Jansen Sitindaon (foto ist)

(Karena banyak pertanyaan di messenger dari teman-teman FB: mengenai bagaimana awalnya saya masuk Jakarta, sejak kapan dll, berikut saya sajikan serial tulisan berjudul “Menaklukkan Jakarta” bagi para pembaca. Tentu “penaklukan” versi saya ya. Hehe.. Semoga tulisan ini bisa jadi inspirasi. Dan tulisan ini saya dedikasikan untuk “anak² daerah” dan para perantau baru diluar sana yang mau datang ke kota ini. Semoga bisa jadi panduan. Jikapun tidak, minimal jadi bahan bacaan).

Bagian I

Adakah anak daerah yang tidak ingin merantau dan “menguji nasibnya” di Jakarta? Jawabnya pasti ada saja. Mungkin karena sudah nyaman di daerahnya. Atau, karena daerahnya sudah memberi kehidupan cukup baginya. Namun sebaliknya, saya juga yakin, pasti banyak anak daerah di luar sana yang ingin mengadu nasib dan peruntungannya di Ibukota ini. Seperti saya salah satunya. Di awal 2005 lalu. 13 tahun lalu!

Kejam kah Jakarta? Jawaban awal saya: kejam! Bagi yang tidak punya kompetensi ya. Karena kota ini sangat kompetitif. Penuh kompetisi. Jadi syarat awal jika ingin masuk kota ini: miliki dulu kompetensi! Itu saran saya. Entah dibidang apapunlah. (Jelek-jeleknya kalau istilah saya dulu ke beberapa teman: “minimal kalau mau masuk Jakarta ini, selain punya modal Ijazah harus juga punya modal bisa nyetir mobil-lah. Mana tau di awal merantau masih gagal terus dapat pekerjaan, sore mimimal bisa nyambi jadi supir angkot M-01 jurusan Senen – Kampung Melayu lah. Hehe.. Lumayan untuk nyambung hidup. Ini kebetulan angkot yang dulu sering saya naiki kalau mau lihat-lihat buku baru di Gramedia Matraman atau belanja buku bekas di Senen).

Kembali ke laptop. Jika sudah punya kompetensi, baru nanti bersama kompetensi yang ada dalam diri tersebut pelan-pelan kita berselancar kesana kemari mencari peluang. Itu sajapun belum cukup jadi jaminan tidak terusir pulang ya!

Apalagi ditahap awal, tingkat kegagalan di Jakarta ini memang tinggi. Itu yang kadang buat stress.. Bawaannya mau balik pulang terusss ke kota asal yang pasti lebih nyaman, lingkungannya sudah dikenal dan segala lika-likunya sudah dikuasai. Jadi ditahap awal di Jakarta ini, walaupun kita sering jumpa dengan kegagalan, “penyakit rindu pulang” ini harus dilawan! Jika perlu lupakan kalau kita punya kampung.

Bagi yang tidak punya satupun sanak saudara di Jakarta ini (seperti saya dulu contohnya) resiko terusir pulang ini malah lebih tinggi lagi. Apalagi kalau sudah 3 bulan misalnya melamar kesana kemari tidak juga ada yang manggil dan menerima. Jatuhnya bisa depresi. Selain kena jebakan biaya hidup tinggi, psikologis juga kadang terpukul: “kok bodoh sekali saya ini ya.. masak dari puluhan lamaran tidak ada satupun yang manggil.. kejam betul Jakarta ini.. tidak cocok saya tinggal di kota ini”, dan berbagai umpatan lainnya didalam diri.

Untuk menekan pengeluaran di tahap awal merantau di Jakarta ini, saran saya: carilah kost-kostan ditengah kota (agar aksesnya gampang kesana kemari) namun yang harganya murah.

Pertanyaannya kemudian: apakah mungkin dapat kost ditengah kota Jakarta tapi murah? Disinilah seninya hidup ber-Jakarta ini. Jakarta ini kota unik. Bagian tengah kotanya banyak dilewati kali dan sungai. Di gang-gang daerah pinggiran kali inilah “kehidupan murah” itu berada. Inilah daerah yang telah banyak menyelamatkan para perantau di kehidupan awalnya di Jakarta. Jadi kata kuncinya, jika anda perantau dan modal pas-pasan, langkah awal segeralah cari kost-kostan didaerah pinggir kali Jakarta. Biarlah dari sini kehidupan anda dimulai menaklukan “kota beton” ini.

(Percaya atau tidak, dari testimoni beberapa senior yang saya dengar, yang hidupnya dimulai dari pinggiran kali dan “gang-gang Jakarta” ini kecenderungan suksesnya malah lebih tinggi. Dibanding yang mulai dari kost-kostan mewah ya. Karena dapat kerjaan aja dikit, karena mungkin mulainya dari kehidupan paling bawah di Jakarta ya, dia merasa Jakarta sudah baik kedia. Padahal menggunakan ukuran umum, pekerjaan yang dia terima di awal itu sebenarnya biasa-biasa saja. Dari situlah nanti pelan-pelan akan merangkak naik.. naik.. dan terus naik. Penting prinsipnya “nyaman dulu ber-Jakarta”. Dan tumbuh perasaan didalam diri bahwa Jakarta telah baik ke saya dan sudah mulai pro ke saya. Kalau perasaan sejenis ini sudah mulai tumbuh dalam diri, biasanya jalan menaklukkan Jakarta ini tinggal tunggu waktu. 😉).

Saya dulu ketika awal masuk Jakarta di tahun 2005, kostnya “di bagian dalam dan gang-gang” daerah Salemba Tengah dan Salemba Bluntas. Dekat kali. Sesuai rumus awal syaratnya kan harus tengah kota. Dan wilayah ini tidak diragukan lagi lokasinya pas dipusat kota Jakarta. Cukup modal jalan kaki saja kita sudah bisa sampai kebanyak tempat penting. Bahkan dari tempat ini, kalau kita lari, ke Istana Presiden saja paling cuma 20 menit. Ke RSCM, RS Saint Carolus, Kampus UI Salemba, PB NU, PGI, UKI, YAI, dll semua dekat. 1 bulan uang kost ketika itu Rp.150 ribu. Tapi itu tadi, kamarnya ya cuma ukuran 2 X 1,5 Meter. Tanpa kipas angin. Jadi beli sendirilah kipas yang kecil-kecil mutar itu. Hehee.. Penting tujuan awal untuk menekan pengeluaran tercapai dulu.

Kalau soal tidur, jika masih pengangguran dimanapun tidur pasti bisalah. Jika ada pengangguran yang membaca tulisan ini masih banyak gaya, dan sok-sok punya selera lagi, saya pastikan masa depannya suram itu. Hehe.. Namanya merantau.. ya harus siap susah-susah dululah ditahap awal. Sebelum yang “enak-enak” itu tiba. Itupun kalau enaknya tiba. Malah banyak yang enak-enak itu belum tiba, sudah duluan “KO” dan terusir pulang dari Jakarta.

Disekitaran daerah Salemba ini saya tinggal 5 tahun dan 3 kali pindah kost. Sebelum kemudian saya pindah ke kost yang lebih layak (menurut saya ketika itu ya.. karena lokasinya sudah berada dipinggir jalan) di daerah Petojo, Tanah Abang 2. Nanti deskripsi lebih lengkap terkait hal ini akan saya ceritakan di tulisan berikutnya.

(Itu dulu tulisan serial pertama. Sesudah “tips” mencari kost, berikutnya saya akan masuk ke lika-liku siasat cari kerja dan proses naik turun menaklukkan Jakarta. BERSAMBUNG..)

Horasss
*) Jansen Sitindaon adalah Komunikator Politik DPP-PD dan Ketua Departemen Pemberantasan Korupsi dan Mafia Hukum DPP-PD

Tulisan ini sudah dipublikasikan di
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10213109899447702&id=1400494851&sfnsn=mo