Penduduk Miskin Indonesia Masih Sangat Tinggi

Wakil Ketua Komisi XI DPR Marwan Cik Asan (Foto: Akurat)

Jakarta: Wakil ketua Komisi XI DPR RI Marwan Cik Asan mengatakan, pernyataan Presiden RI ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terkait jumlah penduduk miskin pada beberapa waktu lalu, merujuk dari teori Bank Dunia.

Dalam teori itu, sambung dia, merujuk pada pengelompokan penduduk di setiap negara menjadi tiga berdasarkan pada pendapatannya.

“Yakni, kelompok berpendapatan rendah sebanyak 40%, penduduk berpendapatan menengah 40%, dan penduduk berpendapatan tinggi sebanyak 20%. Teori ini digunakan oleh Bank Dunia untuk mengukur tingkat kesenjangan dan ketimpangan ekonomi di suatu Negara,” kata Marwan.

Pernyataan ini dilontarkan Marwan untuk menanggapi respon Staf Khusus Presiden Jokowi Saudara Ahmad Erani Yustika yang mengatakan SBY salah dalam mengutip data tentang jumlah kemiskinan di tanah air, pada Kamis (26/7).

Sehingga, bila mengikuti teori tersebut dengan jumlah penduduk Indonesia sebanyak 263 juta jiwa maka 40 persen dari jumlah penduduk tersebut akan diperoleh angka sebanyak 105 juta jiwa yang dikategorikan berpendapatan rendah dan cenderung miskin.

“Maka dengan demikian data yang disampaikan oleh Bapak SBY adalah benar adanya atau sesuai dengan fakta,” tegas anggota Fraksi Demokrat DPR itu.

Sementara itu, terhadap tingkat kemiskinan yang dirilis oleh BPS meyatakan tingkat kemiskinan per Maret 2018 sebesar 9,82% atau sekitar 25,95 juta. Ia menilai pemerintah mengklaim jika tingkat kemiskinan menurun sebesar 633,2 ribu orang, dari yang sebelumnya tercatat sebesar 26,58 juta orang pada September 2017.

“Yang perlu dicermati dari rilis BPS tersebut adalah patokan garis kemiskinan yang ditetapkan adalah Rp 401.220 per kapita per bulan, atau sekitar Rp.13.374 per hari. Artinya jika masyarakat di Indonesia punya pendapatan di atas dari batas yang ada per Maret 2018, maka tidak tergolong sebagai orang miskin,” ujarnya.

“Sebaliknya, jika pendapatannya di bawah batas maka masuk ke dalam golongan orang miskin,” tambah dia.

Marwan mengatakan, bila kemudian menggunakan indikator Bank Dunia dalam menentukan batas kemiskinan, yaitu pendapatan sebesar USD2 per hari per orang atau dengan kurs USD1 sebesar Rp. 13.000 maka diperoleh angka Rp. 26.000 per hari atau Rp 780.000 per kapita perbulan.

“Maka penduduk miskin Indonesia masih sangat tinggi, yakni diperkirakan mencapai 47% atau 120 juta jiwa dari total populasi,” pungkasnya.

(Aktual/dik)