Sultan IX Pontianak: AHY adalah Perpanjangan Tangan Kita di Kota Pontianak

Komandan Kogasma Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bersama Sultan IX Pontianak Syarif Machmud Melvin Alkadrie saat berkunjung ke Istana Kadriah, Kota Pontianak, Kalimantan Barat,Senin (18/3)

Pontianak, Kalimantan Barat: “Mudah-mudahan dengan kehadiran AHY untuk silaturahim ini kepada warga Pontianak, apa yang diinginkan dalam segala urusan, perjuangan demi negara ini dimudahkan semua,” ujar Sultan IX Pontianak Syarif Machmud Melvin Alkadrie kepada Komandan Kogasma Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Senin (18/3) sore, AHY berkunjung ke Istana Kadriah, Kota Pontianak, Kalimantan Barat.

Sultan Melvin Alkadrie menitipkan pesan kepada AHY agar dalam perjuangannya menyapa dan mendengarkan aspirasi masyarakat di seluruh Indonesia, tidak melupakan apa yang telah diwariskan Kesultanan Pontianak. Salah satunya adalah lambang Garuda Pancasila yang dirancang oleh Sultan VII Pontianak, Sultan Hamid Alkadrie II.

“Mengingatkan bahwa lambang negara Indonesia sebelum NKRI merupakan sebuah warisan juga. Jangan lupa lambang negara kita dari sebelum NKRI ini, beliau sudah menciptakan membuat lambang negara ini,” jelas Sultan Melvin Alkadrie. “Mudah-mudahan hajat keluarga besar masyarakat dan keluarga Pontianak ini bisa terwujud demi perjuangan kita selama ini, supaya diakui oleh pemerintah itu sendiri. Bapak Agus adalah kepanjangan tangan kita dari Kota Pontianak ini,” lanjutnya.

Mengapresiasi doa tersebut, AHY secara pribadi mengucapkan terima kasih kepada kerabat dan keluarga besar Istana Kadriah karena telah menerimanya dengan hangat dan penuh kekeluargaan. AHY kemudian menyampaikan bahwa keduanya mempunyai visi yang sama, yakni membuat Indonesia menjadi lebih baik ke depan, yang menjunjung tinggi kemajemukan.

“Para founding fathers mengharapkan agar Indonesia dapat menjadi negara yang berkeadilan dan beradab, serta senantiasa bisa mengedepankan nilai-nilai Pancasila. Tidak terlepas dari peran besar Kesultanan untuk menciptakan lambang negara kita,” kata AHY

“Saya mudah-mudahan bisa terus menyuarakan itu, karena itu adalah simbol bangsa yang majemuk dari berbagai identitas, suku ras, dan agama, tapi kita dipersatukan dengan Pancasila. Walaupun zaman semakin maju, insya Allah kita tetap memegang jati diri kita yang memiliki kesantunan, termasuk budaya dan tradisi Kesultanan Pontianak,” lanjut AHY.

Usai memberi sambutannya, AHY diberikan peci dan kain Kesultanan berwarna emas sebagai simbol penerimaan AHY di Istana Kadriah. Keduanya kemudian berbincang hangat, sambil menikmati hidangan Juwadah, kue khas Kesultanan Pontianak, yang disajikan oleh kerabat dan keluarga besar. Ini adalah pertemuan dua pemimpin muda untuk bersama-sama menyejahterakan masyarakat, karena usia keduanya tak berbeda jauh.

Saat tiba di lingkungan Istana Kadriah, AHY berjalan menuju istana yang telah berdiri sejak 1773 ini diiringi tanjidor dan payung kuning. AHY disambut langsung Sultan Melvin Alkadrie menuju tempat silaturahmi.

Istana Kadriah mengambil gaya arsitektur bangunan kayu yang didominasi warna kuning. Bagian dalam istana dihiasi oleh penggalan foto-foto bersejarah dari silsilah Kesultanan Pontianak. Sedangkan di halaman istana, terlihat pula adanya peninggalan bersejarah berupa meriam asal Portugis dan Jepang. Sebelumnya, Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga pernah menerima gelar bangsawan Datuk Widya Negara dari Kesultanan Pontianak di tahun 2004.

Turut mendampingi AHY diantaranya, Ketua DPD Demokrat Kalbar Suryadman Gidot, Pimpinan Komisi 3 DPR RI Fraksi Partai Demokrat Erma Suryani Manik, Calon Anggota DPR RI Provinsi Kalimantan Barat Dapil 1 Herzaky M. Putra, dan Calon Anggota DPRD Kota Pontianak Dapil 1 Sri Cahyawati. (agusyudhoyono.com/wan)