SBY, AHY, dan TGB

Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Tuan Guru Bajang (TGB) (Foto: DPP-PD)

Oleh: M Zakiy Mubarok*)

Menyebut AHY dan TGB, bukan hanya soal renyah diucap, dan lentur di lidah. Bukan juga soal “muatan hoki” yang terkandung pada singkatan nama itu, seperti halnya kalau kita menyebut SBY. Tapi, menyebut AHY dan TGB hari ini sama halnya kita sedang bicara tentang masa depan bangsa. Masa depan Indonesia.

Yang satu mantan TNI. Satunya lagi ulama mumpuni. Keduanya punya karier cemerlang. Pintar, genius, cekatan dan tampan. Sama-sama dilahirkan dari rahim keluarga yang terbiasa hidup dengan kedisiplinan dan kepemimpinan. Satunya anak Jenderal yang pernah Presiden. Satunya lagi dididik dilingkungan pesantren.

Sosok AHY dan TGB–harus diakui–makin moncer di panggung nasional belakangan ini. Jika tak khilaf, kecuali SBY, dari keseluruhan kader Demokrat, hanya keduanya yang kerap mendapat undangan menjadi narasumber untuk mengisi berbagai kegiatan, baik di dalam maupun di luar negeri.

Pidato keduanya menggugah. Paparannya teks yang kontekstual dan konteks berbasis teks. Fasih mengidentifikasi masalah. Taktis pula solusinya. Uraiannya disampaikan dengan mengalir tanpa jeda. Tanpa terbata-bata. Ucapannya pesona. Kata-katanya berkharisma. Dengan kualitas magnetik yang dimiliki, keduanya menjadi sumber inspirasi banyak kaum muda.

AHY lahir 1978 di Bandung Jawa Barat. Selain menempuh jalur resmi pendidikan militer, AHY juga mengenyam pendidikan di luar negeri dengan banyak prestasi. Sudah jadi Danyonif Mekanis 203/Arya Kemuning pada 2015. TGB lahir 1972 di Pancor Lombok Timur. Usia 36 tahun sudah jadi Gubernur. Doktor (S3) lulusan Universitas Al Azhar Kairo Mesir. Al Hafidz. Dengan demikian, kapasitas intelektual maupum lapangan keduanya sudah sangat terukur.

Kehadiran keduanya selalu dinanti. Di setiap kegiatan, masyarakat yang menyaksikannya tak pernah sepi. Silakan simak saja dokumen-dokumen kegiatan–tertulis maupun visual–keduanya sebagai bukti pernyataan ini. Tidak berlebihan jika mengatakan keduanya bisa menjadi sosok alternatif kepemimpinan negeri. Itu kenapa di awal tulisan ini saya mengatakan, menyebut AHY atau TGB hari ini,  sama halnya kita sedang bicara tentang masa depan bangsa ini. Baik AHY maupun TGB dalam beberapa kesempatan mulai disebut-sebut sebagai Presiden atau Wakil Presiden mendatang.

Karena itu, Partai Demokrat patut bersyukur. Mengapa? Karena setelah memiliki generasi pertama kader terbaiknya yakni SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), kini ada generasi AHY (Agus Harimurti Yudhoyono) dan TGB (Tuan Guru Bajang) atau Dr. TGH. M. Zainul Majdi.

AHY adalah putra Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sebab itu, sangat sulit membayangkan AHY akan mengambil saluran politik di luar partai yang didirikan oleh orang tuanya. Sementara TGB sampai saat ini masih tercatat sebagai Anggota Majelis Tinggi. Mantan Ketua DPD Partai Demokrat NTB 2011-2016. Tak bisa dimungkiri, banyak harapan keduanya dapat menjadi wajah Partai Demokrat saat ini dan masa depan.

Secara pribadi saya sampai pada kesan–kalau tak boleh menyimpulkan–makin kemari, AHY dan TGB seolah menjadi simbol dari ide “nasionalis-religius” sebagaimana Partai Demokrat memegang dengan sangat teguh gagasan ini. Meskipun pernyataan tersebut tidak dimaksudkan untuk membatasi bahwa AHY merepresentasikan an sich “nasionalis” dan TGB representasi dari “religius”. Sebab AHY sangat religius dan TGB pun sangat nasionalis. Namun satu hal yang pasti, dengan kekuatan latarbelakang dan figuritas yang dimiliki masing-masing, “nasionalis-religius” seperti melekat pada kedua sosok ini. Pembaca boleh setuju, boleh juga tidak, dengan kesan pribadi saya itu.

Di atas itu semua, adalah berkat kepiawaian SBY-lah sehingga sosok AHY dan TGB menjadi hadir di tengah masyarakat. Dalam konteks ini, SBY mampu–mengutip bahasa Sahat Simamora: 2003–melakukan kaderisasi elite politik modern yang paham betul tentang apa sebenarnya yang diperlukan negara dan yang didambakan oleh warga.

Wallahu’alam Bishawab

*)Direktur Eksekutif DPD Partai Demokrat NTB 2011-2016

 

36 comments

  • dania

    TGB for RI 1!! Aamiin

  • Nugia hayyi

    Demokrat beruntung mennadi partai yg mapan. Punya kader muda yang potensial yaitu TGB dan AHY.. Kedua menjadi simbol emas kaderisasi internal, terutama TGB kader muda yang matang. Bliau membuktikan kualitas dirinya dengan menjadikan daerah yg dipimpinnya (NTB) sebagai daerah dg pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia. Kualitas pribadi dari TGB msnjadikan dirinya sebagai gubernur terbaik. Bliau adalah pemimpin yang komplit umara sekaligus ulama. Karenanya Demokrat layak mendorong bliau sebagai Capres 2019. Insyaalloh dg mualifaa kepemimlinan bliau yg teruji diharapaka dapat membawa Indonesia yang aman adil dan Makmur.

  • Joni Effendi

    Salam hormat
    TGB dan AHY bisa di sandingkan, siapa pun yg capres atau cawapres intinya ada keterwakilan ULAMA. Umat Islam skrg tdk kayak dulu lagi, para ustad dan kiyai sudah turun gunung menyuarakan kepemimpinan Indonesia. Dan suara itu sudah di dibisikkan yaitu TGB, Ingat !!!!! Umat Islam sudah merangkak bangkit setelah 212 disitu Umat Islam mendeklarasikan revolusi. Persatuan, perekonomian, dan Politik. Jaringan umat Islam sudah mengakar tinggal tunggu komando, jgn berfikir Umat Islam saat ini diam, tinggal tunggu komando…. TGB kita lihat bukan dari mana partainya, bisa saja dia pindah karna TGB milik umat Islam bukan milik Demokrat,,,,
    Salam dari Asmat Papua

  • Anonim

    AHY harus membuktikan diri dulu di periode 2019-2024, entah duduk dikabinet, atau coba peruntungan lagi di Pilgub, baru menjadi calon presiden. untuk saat ini demokrat sebaiknya mengusung TGB sebagai calon presiden. kok sekarang rasa2nya demokrat menjadi partai keluarga. sebagai simpatisan ini harus dihilangkan. kasih kesempatan pada kader yang berkualitas.

  • Tamim Fauzan

    Saya dan Keluarga Mantab ke Demokrat jika TGB diusung menjadi CAPRES 2019

  • Hasbullah

    Tgb for RI 1

  • Opini: “TGB Oase Kian Trendy”

    Penulis : Iwan Piliang

    TGB singkatan Tuan Guru Bajang, sapaan akrab Zainul Majdi, Gubernur Nusa Tenggara Barat. Ia doktor lulusan Al Azhar, Kairo, Mesir, hafiz Al Quran. Ulama sekaligus Umara.

    Pada Jumat pagi, 12 Mei pekan lalu ia mendarat di Jogja. Di media saya baca tajuk Safari Dakwah TGB di Jogja dan Jawa Tengah. Ia menjadi khatib Jumat, menjadi imam Shalat Subuh, melakukan Tabligh Akbar, pembicara di kampus, menguji para hafiz, di sela perjalanan acara di beberapa masjid meng-Islamkan warga. Ada tujuh orang mengucapkan Syahadat.

    Ia bertemu banyak orang, berebutan pula warga ingin bersalaman, ber-selfie. Ia pun bersilaturahim ke beberapa tokoh, datang ke kediaman Amien Rais, beranjangsana ke Keraton bertemu Hamengkubuwono X, tak terkecuali mampir dan mendoakan usaha makanan dan minuman seperti Lecker. TGB membubuhi tanda tangan pesan. Semua kegiatan itu disebar warga di Sosmed. Sayangnya sosok TGB yang di-sosmed-kan tidak aktif ber-Sosmed. Dulu ia punya akun. Kepada saya tahun lalu, ia bilang sudah lupa password-nya semua.

    Menyimak dari jauh, saya merasakan kerinduan akan pemimpin baru di negara ini kian tajam. Dua pekan lalu saya lihat sebuah rekaman video di mana TGB menjadi pembicara seminar ditanya kesiapannya menjadi Capres 2019? TGB menjawab dengan pakem sama, menjadi Gubernur sudah berlebih, waktu 2019 masih lama, fokus dengan pekerjaan saat ini, lagian katanya, saat ini Presiden bukanlah lagi segalanya. Kekuasaan Presiden mulai dibatasi, kita menganut sistem trias politika.

    Sendiri kala itu, saya seakan menjawab kalimat TGB. Pertama waktu 2019 tidak lama. Jika memang Capres 2019, berkelilimg Indonesia dalam dua tahun tidak cukup waktu. Kedua jabatan Presiden bukan lagi segalanya, benar, ada DPR, ada DPD, ada MPR, namun Presiden mandataris MPR, ia punya hak prerogatif. Di tangannya haluan bangsa dan negara cermin. Contoh dalam Pilkada DKI Jakarta Presiden Jokowi terindikasi tajam berpihak, maka kebijakannya ke bawah, tajam pula dirasakan. Presiden simbol penentu arah langkah bangsa dan negara termasuk rujukan kebenaran.

    Bicara arah kebenaran, ruh dasarnya hati nurani suci, maka kebenaran versi Presiden belumlah tentu kebenaran bagi warga kebanyakan. Dalam situasi demikian kehadiran TGB oase. Oase itu kini kian trendy.

    Di jadwal agenda di Jogja dan Jawa Tengah, petang ia meninggalkan Jogja. Saya mengirim pesan perjalanan Dakwah dahsyat dan Selamat kembali ke Mataram. Eh di komunitas #TGB2019 saya temui foto TGB berjas bersorban putih hadir di Milad Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur tadi malam. Di sampingnya tampak duduk KH Ma’ruf Amin. Tak lama kemudian saya mendapatkan video khutbah TGB di Sidogiri. Sebagian besar rombongan ya sudah duluan sampai ke Mataram. TGB ngacir dengan satu staf saja.

    Saya dengar akwah TGB dengan takzim. Vokal, orasi TGB kian jernih. Bila saya tak keliru, orasi TGB di Sidogiri inilah saya anggap terbaik dari perjalanan TGB Jumat hingga Minggu tengah malam. Hingga saya menuliskan ini mungkin TGB sudah mendarat di Mataram.

    Dari setahun lalu saya melihat figur TGB lebih cook jadi presiden RI 2019. Keyakinan saya kian tajam setelah bertemu kedua kali pada 22 April 2017 di acara Sabtu Subuh 1000 jamaah di BSD, Tangerang. Saya simak langsung bagaimana warga lebih antusias ke TGB dibanding kepada Bapak Jokowi awal 2009 saat saya tulis-tulis dan gadang-gadang juga.

    Malahan pagi ini secara sesumbar saya tulis bahwa partai pertama yang mencapreskan TGB menjadi partai beruntung. Mengapa? Ini memang ranah subjektif saya. Akan tetapi kendati subjektif berdasarkan pelihatan dan roso. Saya bisa salah, tapi tentu tak mau konyol. Faktor psikologi massa seakan telah membaiat warga bahwa TGB Presiden 2019. Bukan Wapres.

    Bagaimana dengan posisi Prabowo Soebianto ratingnya paling tinggi saat ini? Betul PS paling top of mind. Akan tetapi saya yakin TGB akan Presiden.

    Jabatan memang kuasa Illahi. Tapi tanda-tanda alam bisa di cium dan dirasakan. Karena itu bila boleh saran, jika PS ingin sukses pada 2019, ia cukup legowo menjadi Wapres TGB. Bila tidak maka akan ada tiga Capres, pertama PS, kedua Jokowi, ketiga TGB.

    Pilihan menjadi sulit Jika TGB berpasangan dengan Jokowi.

    Kemungkinan adalah hal paling mungkin di jagad ini.

    Jika Jokowi dan TGB, maka Presiden akan PS, karena 2,5 tahun ini sumber masalah membuat rakyat trauma adalah Jokowi dan jaringannya di istana. Dan waktu memulihkan trauma itu habis luka kian menganga di Pilkada DKI, plus Indikasi korup Pemda DKI, kita belum dapat kabar apakah Rp 191 miliar Dana negara hasil audit BPK di kasus Sumber Waras sudah dikembalikan ke negara? Sekadar satu Contoh.

    Apa layak saya bicara demikian? Sebagai warga negara bisa sok tahu, apalagi saya bukan pemilik partai. Kini dominan partai di Indonesia “dimiliki” cukong, media mainstream juga dominan milik cukong dan sistem politik seakan tercebur ke dalam oligarki fulus mulus. Mereka memang punya skenario dengan kekuatan kapitalnya di sini.

    Saya dalam 2,5 tahun ini pula mara ke mana-mana, mulai ke Gunung Rinjani, shalat Magrib ke kampung Thaprek, pegunungan di Himalaya, Nepal, hingga ke kawasan tertinggi di Islandia. Di Maroko saya bertemu seorang Syeikh. “Hai anak muda, bangga lah jadi Indonesia ribuan hafiz di negerimu…,” kalimat lanjutan Syeikh itu akan saya tulis bila TGB sudah Capres. Untuk hari ini mulai pagi ini ijinkan saya menyapa TGB Syeikh, sebagai mana jaringan Nahdatul Watan menyapanya.****

    https://www.facebook.com/SuaraNahdlatulWathan/photos/a.1604891976455575.1073741828.1593947504216689/1915363398741763/?type=3&permPage=1

  • Taufik tm

    TGB serasi berpasangan dgn AHY
    TGB FOR RI 1

  • Khairul Fahmi

    Tgb maju

  • HANDI

    TGB YES…..

  • Imtihan

    Tidak ada alsan untuk tidak mengusung TGB

  • Zainul Ihsan

    TGB representasi indonesia yang pancasilais menuju peradaban yang Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Gafur. Demokrat sangat beruntung memiliki beliau untuk indonesia. AHY sosok muda nasionalis yang masih fresh dan harus ditempa untuk pemimpin masa depan indonesia yang gemilang.

  • Aron

    TGB mantap

  • Suara Rakyat adalah suara Tuhan.
    TGB begitu masiv suara dari akar rakyat.
    TGB akan menjadi lumbung suara di legislatif 2019 .
    Banyak Partai lain melirik Tokoh TGB ..
    Ini alasan kenapa TGB harus cepat diusung For Presiden 2019.

  • Aron

    InsaAllah TGB banyak yang mendukung karna TGB punya masa yang ril dari kalangan ummat islam di seluruh pelosok tanah air. Sperti yang kita lihat di media saat ini sosok TGB sudah banyak di Deklarasikan.

  • Heri firmansyah

    TGB-AHY RI 1 RI 2

  • Didie Hidayat

    1 TGB
    2 AHY

  • Anonim

    Tgb for RI1

  • akbar al pansyauri

    TGB RI 1

  • almuna hakim

    saya yakin kan keluarga besar saya untuk mendukung tgb, sebab tgb pantas jadi presiden

  • Anonim

    #TGB4RI1
    Allahuakbar

  • aahasan

    Jangan ragu usung TGB Capres 2019.
    Apa dan kenapa?
    Karena

    TGB seorang guru, ulama sekaligus umara dengan kapasitas dan prestasi yg luarbiasa.

    Akan mampu meraup suara basis Nahdatul Ulama, Nahdatul Wathan, Persis, Muhammadiyah, kalangan santri santri Pesantren seluruh Indonesia.

    Juga diyakini akan meraup suara dari kader dan pemilih PKS, PAN, PBB dan GERINDRA. serta suara pemilih yg selama ini kontra dengan Jokowi dan juga kontra Prabowo.

    Tingkat elektabilitas dan kesukaan masyarakat terhadap TGB yg selalu meningkat naik menunjukan tren yg sangat positif apalagi jika nanti sudah ada parpol yg mengusung beliau, diyakini lonjakan elektabilitas TGB tak akan terbendung.

    Kalau tidak yakin, silahkan telusuri akar rumput pengusung beliau alias barisan Relawan TGB (BARET) yg smakin banyak diseluruh provinsi yg bergerak dg sukarela tanpa ada bayaran sebagaimana istilah buzzer jahat yg kemarin sempat diisukan dan akhirnya terbantah dg sendirinya.

  • Aji

    Bravo TGB for R1

  • Yandrizon

    Saya sangat mendukung TGB jadi Capres Demokrat dan akan saya coblos Demokrat apabila TGB yang dipilih Jadi Presiden.
    Dan saya sangat memohon sekali jangan berkoalisi dengan JW dari PDIP karena hanya akan menambah merusak reputasi partai Demokrat. Percayalah…!!!

  • Idham

    Assalamualaikum Pak SBY, saya salah satu pengagum Bapak, saya bangga bisa dipimpin oleh Bpk selama 2 periode. Indonesia bermartabat di bawah kepemimpinan Bapak.

    Tapi mohon maaf pak saya harus menyampaikan, klo anak Bpk, AHY, belum siap utk maju menjadi Cawapres apalagi Capres. Lebih baik AHY memulai karirnya dari bawah dulu, biar masyarakat bisa menilai dengan prestasi yg nnt beliau Buat

    Kami merekomendasikan TGB pak. Dengan segala prestasi baik di akademis maupun karir pemerintahannya.

    Tks pak

    Wassalam

  • Zahlan

    TGB – GATOT N Capres dan cawapres 2019

  • Zoel

    TGB yes

  • Sudarman

    TGB

  • Zam zam wajdi

    #TGBforRI1

  • Mufti

    1 atau 2,,TGB,TGB,TGB

  • Muhammad Amin

    Anda Harus mengusung TGB jadi Presiden sangat Rugi dan mubazir kalau nggak ngusung beliau saya janji kalau kalian mengusung beliau saya akan nyoblos caleg2 dari partai anda ini…wassalam

  • Taufik taman persada

    Hanya TGB & AHY YG BS MENUMBANGKAN JOKOWI.

  • Anonim

    Tgb yes

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.