SBY Buka Regional Conference on Democracy in Southeast Asia di Kuala Lumpur

Presiden ke-6 RI, yang juga Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono secara resmi membuka Regional Conference on Democracy in Southeast Asia, di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Sabtu siang, 2 September 2017. Sebelum membuka konferensi tersebut, SBY menyampaikan pidato kunci dalam bahasa Inggris yang berjudul “The State of Democracy in Southeast Asia: Achievements, Challenges, Prospects”. (facebook SBYudhoyono)

Kuala Lumpur: Presiden ke-6 RI, yang juga Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) secara resmi membuka Regional Conference on Democracy in Southeast Asia, di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Sabtu siang, tanggal 2 September 2017.

Konferensi ini diselenggarakan oleh Kofi Annan Foundation, sebuah yayasan yang didirikan oleh mantan Sekjen PBB Kofi Annan serta Komisi HAM Malaysia (SUHAKAM).

SBY bertindak sebagai perwakilan Kofi Annan Foundation. Sebelumnya, Kofi Annan secara khusus telah menelepon SBY dan meminta kesediaan SBY untuk berbagi pemikirannya dalam rangka perlindungan dan kemajuan demokrasi di Asia Tenggara dalam konferensi tersebut.

Sebagai seorang demokrat dan sahabat karib Kofi Annan, SBY pun menyatakan kesediaannya. Seusai merayakan Idul Adha 1438 H di Jakarta, SBY beserta rombongan pun bertolak ke Kuala Lumpur.

Forum regional ini diselenggarakan pada 2-3 September 2017. Pesertanya berjumlah 150 orang berasal dari berbagai kalangan, terutama: perwakilan pemerintah, partai politik, organisasi masyarakat sipil, akademisi dan jurnalis baik dari Asia, Amerika dan Eropa.

Acara dibuka malalui rangkaian Pidato yang disampaikan oleh Chairman SUHAKAM Malaysia, Tan Sri Razali Ismail; Menteri Malaysia, YB Senator Datuk Paul Low Seng Kuan dan Mantan Perdana Menteri Belgia, PM Yves Leterme.

Sebelum membuka konferensi tersebut, SBY menyampaikan pidato kunci dalam bahasa Inggris yang berjudul “The State of Democracy in Southeast Asia: Achievements, Challenges, Prospects”.

SBY memaparkan lima tantangan demokrasi di muka bumi saat ini. Pertama, ada upaya untuk kembali ke otoritarianisme atau gelombang set-back of democracy. Kedua, terbitnya berita palsu dalam politik yang kecepatan penyebarannya berlangsung dalam hitungan detik. Ketiga, bangkitnya populisme. Keempat, meluasnya nasionalisme dan xenofobia yang sempit. Kelima, tantangan untuk menemukan keseimbangan antara kekuasaan dan kebebasan.

Tak lupa SBY mendedah sejarah pembangunan demokrasi di Indonesia. SBY kemudian mengulas empat faktor kunci sukses transisi demokrasi di Indonesia. Pertama, partisipasi aktif kekuatan masyarakat sipil di Indonesia. Kedua, reformasi militer. Ketiga, pembangunan sistem kelembagaan demokrasi yang kuat, bertanggungjawab, dan efektif. Keempat, rakyat Indonesia senantiasa merawat keyakinan terhadap demokrasi.

“Hari ini, Indonesia adalah negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, setelah India dan Amerika Serikat,” ujar SBY yang disambut riuh-rendah tepuk tangan.

Sebagai penutup, SBY mengajak para peserta konferensi untuk terus bekerja sama secara konstruktif guna membangun tatanan dunia abad ke-21 yang adil, progresif dan sejahtera.

(facebook SBYudhoyono)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.