Suri Tauladan bukan Pencitraan

Ketua Umum Partai Demokrat SBY didampingi Ibu Ani Yudhoyono dan Ketua KPP-PD Edhie Baskoro Yudhoyono saat menemui Ibunda Sekjen Partai Demokrat Hinca Pandjaitan di Kediamannya, Selasa (22/1)

Catatan Kecil MRD dalam Perjalanan Mendampingi SBY Tour De Toba-Seulawah*)

Rakyat Indonesia membutuhkan pemimpin yang memiliki humanisme tinggi sebagai bentuk suri tauladan kepada rakyat yang bersifat alami dan bukan niat pencitraan”.

Sebuah pernyataan di atas saya dedikasikan kepada Pak SBY atas sebuah kejadian yang tak terduga tatkala perjalanan Tour de Toba-Seulawah memasuki kabupaten Asahan – Sumatera Utara.

Selasa, 22-1-2019

Pukul 08.30 WIB

Awalnya, Sekjend DPP Partai Demokrat Bung Hinca Pandjaitan membisikkan ketelingaku “Ayo, Fai, sebelum Pak SBY bergerak menuju lokasi kegiatan, kita bergerak duluan agar kau bisa jumpa mamakku (ibu).”

Maka bergegaslah kami menuju rumah Sekjend didampingi istri beliau dan beberapa sahabat-sahabat pengurus DPP-PD dengan menggunakan 3 kendaraan.

Pagi itu, perjalanan dari tempat kami menginap menuju rumah Mamak sekitar 10 menit, dan aparat kepolisian serta aparat lainnya sudah bersiap di sepanjang jalan untuk mengatur kelancaran perjalanan dari Presiden RI ke-6 Bapak SBY.

Pukul 08.40 WIB

Kami tiba di rumah Sekjen DPP PD, lalu berjumpa dengan Mamak yang sudah sepuh, yang sedang duduk di kursi beliau.

Seorang anak dengan posisi Sekjend bahkan pernah memimpin Ketua Umum PSSI dan posisi tinggi di negeri ini, namun  saat balik ke rumah dan bertemu Mamak (ibunya) tetap santun dan berbicara dengan bahasa yang lemah lembut penuh rasa kasih sayang.

“Aku sejak kecil dilarang merokok sama mamakku, dengan alasan akan menghabiskan uang dan datangkan penyakit,” Bang Hinca menjelaskan dan diamini oleh Mamak dengan senyuman manis dan melirik anaknya tersebut.

“Ibu-ibu sekalian, nanti Bapak SBY akan lewat jalan depan rumah kita ini menuju lokasi kegiatan. Pak SBY akan perlahan-lahan mobilnya dan kita semua berdiri di pinggiran saja yah, sambil melambaikan tangan saja,” ujar Sekjend kepada yang hadir (mayoritas ibu-ibu dan emak-emak).

Banyak kisah kehidupan Sekjend yang diceritakan kepada kami tentang masa kecilnya bersama kawan-kawannya yang hadir sebagai saksi dan sangat menarik dan mengharukan.

Tak lama kemudian tepat pukul 09.00 WIB.

Diinformasikan bahwa Pak SBY beserta Ibu Ani dan Mas Ibas sudah bergerak (Pak SBY sangat on time dalam segala kegiatan) dan akan melewati jalan, dimana kami sudah  berdiri menanti.

Namun apa yang terjadi?

Tepat kendaraan Pak SBY dan Ibu Ani tiba di depan rumah Mamak Sekjend, Pak SBY menghentikan kendaraannya dan langsung turun.

Sontak masyarakat histeris dan bergerak mengerumuni Pak SBY dan ibu Ani serta Mas Ibas.

Kejadian ini di luar agenda, karena Pak SBY berhenti dan turun.

Melihat kejadian ini tak sedikit ibu-ibu yang hadir meneteskan air mata antara kaget, senang, bahagia dan sebagainya bercampur menjadi satu.

Dengan sikap ta’zim Pak SBY dan ibu Ani bersalaman dan berpelukan dengan Mamak Sekjend (bahkan mata Sekjend pun berkaca-kaca karena tidak menduga kejadian ini). Masyarakat pun meminta salaman dan bersuka cita.

Sebuah sikap yang merupakan suri tauladan telah diberikan oleh Pak SBY dan Ibu Ani terhadap bangsa ini, di saat kita kehilangan sosok pemimpin yang selalu berikan contoh kehidupannya.

Sikap ta’zim Pak SBY inilah yang disebut suri tauladan yang harus dimulai dari para tokoh dan elite bangsa ini, semoga generasi muda dapat memetik hikmah dan mengambil pelajaran yang baik dari semua sikap yang SBY kerjakan.

Tidak sampai 7 menit, akhirnya rombongan bergerak menuju sebuah klinik untuk meresmikan program rehabilitasi bagi bahaya narkoba yang menjadi musuh kita generasi muda Indonesia saat ini.

Mari bangun Indonesia dan jangan rusak masa depan dengan mendekati apalagi mengkonsumsi narkoba.

Hormati dan hargai orang tuamu, karena tanpa doanya maka tidak ada masa depanmu.

*)MRD adalah sapaan akrab untuk Muhammad Rifai Darus, Wakil Sekjen Partai Demokrat

(wan/dik)