Tentang AHY yang Berbagi Optimisme

Gaya santai tapi sangat menguasai materi ditunjukkan Agus Harimurti Yudhoyono saat memberi kuliah umum di Universitas Maritim Raja Ali Haji, Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Sabtu (22/4). (MCPD/Didik LP)

Gemuruh tepuk tangan kerap terdengar di gedung Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH). Gemuruh itu berasal dari ratusan mahasiswa yang memadati Ruang Seminar Perguruan Tinggi Negeri (PTN)  di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau tersebut, Sabtu (22/4).

Gemuruh keplokan para mahasiwa disebabkan kehadiran seorang pemimpin nasional mendatang di  PTN yang baru menerima mahasiswa lewat jalur SNMPTN pada tahun 2012. Seseorang itu adalah Agus Harimurti Yudhoyono yang akrab disapa AHY. Sosok yang datang hanya untuk menyebarkan optimisme pada mereka.

Penyebaran optimisme tak berjalan mulus. Baru saja acara dibuka lampu padam karena cuaca buruk. DI situlah militansi para mahasiswa UMRAH terlihat.  Tak satu pun dari mereka yang meninggalkan ruangan. Tak satu pun! Padahal tak ada kepastian kapan listrik menyala lagi.

Masa menanti listrik menyala, dimanfaatkan para mahasiswa dengan foto bersama AHY. Dan tentu mantan perwira TNI AD yang terkenal ramah itu, melayani dengan senang hati.

Di tengah “pesta” foto bareng nan meriah itu, listrik menyala kembali. Lalu AHY pun bersiap menyebarkan optimismenya lewat kuliah umum “Menuju Indonesia Emas 2045”.

Dan, AHY menunjukkan mengapa ia bisa menyandang  tiga gelar master. Satu diantaranya Master Administrasi Publik dari Universitas Harvard, universitas terbaik di dunia.

AHY dalam kuliah umum itu (AHY sendiri lebih suka menyebutnya “berbagi motivasi untuk optimisme”) mengawali dengan menunjukkan fakta media sosial telah mengubah banyak hal. Baik dan tidak baik. Dalam konteks yang tidak baik atau buruk, media sosial menjadi wadah memfitnah.

AHY tentu pas bicara soal media sosial. Ia mengalami sendiri bagaimana hujan fitnah menderanya saat maju sebagai calon gubernur di Jakarta. Atas pengalaman itu, AHY berharap, para mahasiswa menjadi generasi cerdas yang tak termakan fitnah. Mahasiswa  harus menjadi kaum intelektual yang bisa bedakan mana fitnah dan mana fakta. Mahasiswa harus cerdas hingga tidak termakan isu yang dikarang tetapi disebarkan secara panjang dan berulang.

Lantas pembahasan memasuki soal serius. AHY dengan gaya santai tetapi sangat matang, mengingatkan para mahasiswa bahwa menuju Indonesia  bukan hal mudah. Masa depan menghadapi tantangan kelangkaan pangan dan air. Hal itu menyebabkan 7 miliar penduduk dunia akan saling berkompetisi. Kehidupan pun rawan dengan konflik dan perang.

Tentu tak hanya itu. Tantangan geopolitik dan keamanan abad ke-21 perlu diwaspadai. Perebutan sumber daya alam, sengketa perbatasan, kejahatan transnasional, konflik etnis dan agama, bencana alam, hingga terorisme.

Indonesia hanya mampu mencapai Indonesia Emas 2045 jika keseluruh tantangan geopolitik dan keamanan mampu diredam.

Penguasaan materi AHY yang demikian dalamlah yang menyebabkan mahasiswa kerap bertepuk tangan. Mereka bagai melihat seorang kakak yang penuh pengetahuan. Kakak yang penuh kasih sayang pada mereka. Kakak yang peduli pada masa depan mereka.

Apalagi AHY mengingatkan, Indonesia Emas 2045 bukanlah miliknya. Ketika masa itu tiba, AHY tidak dalam usia yang fit untuk berbuat maksimal bagi bangsa ini. Ia hanya bertugas membangun jembatan. Masa itu adalah masanya para mahasiswa. Kepedulian AHY adalah kepedulian pada generasi penerus. Kepedulian yang dimilikinya karena cintanya pada generasi mendatang.  Karena ia pun merasakan cinta dari generasi sebelumnya.

Kematangan jugalah yang membuat AHY mengajak para mahasiswa berjiwa patriot . Para mahasiswa harus mencintai dan siap membela negara. Membela negara adalah kewajiban semua anak bangsa, apa pun profesinya. Para mahasiswa harus berorientasi demi negara dan bangsa. Kewajiban bela negara bukan cuma milik TNI.

Bagi AHY, saat ini adalah saat kita harus bersatu untuk kepentingan bersama. Kepentingan bangsa.  Kini bukan saatnya kita bersatu memerangi musuh bersama, sebab penjajah sudah tidak ada.

Para mahasiswa juga diminta untuk memiliki mimpi besar. Termasuk mimpi besar menjadi pemimpin di tanah air.  Tetapi mimpi besar tentu menuntut perjuangan besar.

Agar mimpi besar itu biasa diraih, para mahasiswa harus cerdas; bermoral baik; dan terus meningkatkan pemahaman terhadap manajemen kepemimpinan.

Tentu pula punya kecerdasan, ketinggian moral, dan jiwa kepemimpinan bukanlah jaminan kita pasti memenangkan pertempuran. Yang pasti, jika kita memilikinya, kita pasti segera bangkit saat menghadapi kekalahan.

Mungkin karena itu AHY memiliki semboyan besar “Dream Big, Work Hard and Never Give Up”.

(didik l pambudi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.