Calon Gubernur DKI Agus Harimurti Yudhoyono menghadiri acara istigasah bersama 48 ormas Islam se-DKI dan ribuan warga di Lapangan Blok S, Kebayoran Baru, Jaksel, Kamis (9/2/2017). (twitter/AHYcenter)

Jakarta: Calon Gubernur DKI nomor urut 1 Agus Harimurti Yudhoyono buka suara soal penyebaran brosur propaganda oleh oknum di Jakarta Utara yang isinya menjelek-jelekkan (black campaign) pasangan nomor 1 (Agus-Sylvi). Agus sangat menyayangkan kejadian yang mencoreng Pilgub DKI tersebut.

“Itulah yang kita sayangkan sebetulnya. Tidak perlulah sampai seperti itu. Saya tahu pemilihan Gubernur DKI kali ini menjadi sangat panas, menjadi sangat dinamis, karena kompleksitasnya dengan hal-hal atau isu-isu lain yang dikait-kaitkan,” ujar Agus di Lapangan Blok S, Jakarta Selatan, Kamis (9/2/2017).

Upaya propaganda itu, kata Agus, di luar akal sehatnya. Dia tak mengerti kenapa harus melakukan tindakan seperti itu sampai-sampai menyebarkan brosur bernada negatif.

Meski menyayangkan hal tersebut, Agus tak hanya tinggal diam. Dia punya tim yang akan memproses tindakan tersebut.

“Tentu saya menyayangkan, tetapi secara serius kami melaporkan perihal tersebut. Tim tentunya yang mengelola itu agar tidak hanya stakeholder atau pemangku kebijakan yang memahami situasi yang terjadi di lapangan, tentunya juga pemangku kebijakan terkait, penyelenggara pemilu atau pilgub DKI Jakarta ini,” cetusnya.

“Tetapi semoga masyarakat juga semakin aware ataupun memahami bahwa realitas saat ini demikian dan bisa terjadi bentuk-bentuk kampanye hitam lainnya yang sekali lagi bisa memecah belah keyakinan anak bangsa,” sambungnya.

Sebelumnya diberitakan, dua pria berinisial SA (22) dan JT (27) diamankan karena menyebarkan brosur bernada negatif tentang paslon Agus-Sylvi. Keduanya kedapatan tengah menyebarkan brosur tersebut pada Rabu (8/2) di Kompleks Wali Kota, Jalan Gading Raya, Kelapa Gading, Jakut.

Dari tangan terlapor, didapatkan brosur sebanyak 600 lembar berisi propaganda untuk tidak memilih pasangan calon Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni. Keduanya lalu dibawa ke kantor Panwaslu Jakut untuk dimintai keterangan. Panwaslu pun sempat menginapkan kedua pria tersebut atas dasar alasan keamanan.

“Mereka lalu dibawa ke kantor untuk dimintai klarifikasi oleh Gakkumdu. Karena alasan keamanan, akhirnya mereka diinapkan di kantor,” ujar Ketua Panwaslu Jakut Ahmad Halim di kantornya, Jalan Deli, Koja, Jakarta Utara, Kamis (9/2).

Petugas Gakkumdu Jakarta Utara tengah mendalami kasus ini. Mereka menargetkan penyelidikan kasus selesai dalam waktu 5 hari.

(detik/dik)