Agus Harimurti Yudhoyono (twitter @SeputarAHY)

Oleh: Benny Minarsono*)

Muda. Ketika kita bicara kata itu ada berbagai tanggapan tentang muda tersebut. Ada yang positif dan negatif. Ada yang bilang usia muda masih belum banyak pengalaman dan ada yang berkata usia produtif dan energik. Bahkan kadang patokan usia muda pun menjadi rancu. Kadang saya pun bingung patokan yang dibilang usia muda tersebut.

Sekadar gambaran di dunia profesional perusahaan multinational, jabatan direktur bahkan banyak yang sudah dicapai ketika usia di pertengahan 30an tahun. Beberapa pula dicapai sebelum genap berusia 30 tahun. Kadang pemuda pemudi pun berlomba lomba menunjukkan prestasi di perusahan-perusahaan tersebut untuk secepatnya meraih level jabatan prestisius.

Di sebuah organisasi pengusaha terkenal di Indonesia, keanggotaan dibatasi sampai umur 40 tahun. Banyak prestasi telah mereka torehkan yang sekarang banyak diantaranya menjadi tokoh-tokoh di Indonesia. Terlalu banyak untuk disebutkan satu per satu di artikel pendek ini, siapa saja mereka.

Seharusnya tidak berbeda di kancah perpolitikan. Usia muda belum tentu tidak mampu dan kalah. Bisa jadi mereka lebih menguasai ilmu di era globalisasi ini, yang semuanya bergerak dengan cepat. Tentu semuanya atas pembelajaran dan juga bimbingan dari para senior. Banyak di antara senior itu pun berjiwa tetap muda. Sama halnya dengan di dunia profesional.  Hidup dengan budaya timur, tentu yang muda harus menghormati yang lebih tua. Tidak hanya secara simbolis, tetapi bimbingan atas pengalaman yang lebih senior tetap harus diterima.

Suatu contoh sikap ksatria muda di zaman modern ini pun ditunjukkan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) ketika dengan lapang dada menerima kekalahan di Pilkada DKI tanpa mencari kambing hitam. Sikap ksatria juga ditunjukkan ketika ia  beserta istri datang bersilaturahmi di open house Lebaran di istana. Suatu contoh nyata menghormati yang lebih senior, sikap religius dan menjunjung tinggi budaya timur. Terahir, AHY pun sowan ke Presiden Jokowi meminta restu dalam rangka launching The Yudhoyono Institute.

Give and take. Saling memberi dan menerima antara yang muda dan yang senior. Paduan yang sangat tepat. Beri kesempatan ke yang muda untuk berpanggung. Bukan karena kami tidak bisa mencari panggung sendiri, tetapi kami menghormati senior sebagai wujud budaya timur dengan sikap penuh kesantunan.

Pemimpin-pemimpin di berbagai negara, beberapa diantaranya di bawah usia 40 tahun. Bahkan dari zaman perjuangan kemerdekaan ataupun perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, banyak yang belum genap berusia 30 tahun telah memimpin pasukan besar. Pahlawan Jenderal Besar Soedirman salah satu contohnya.

Terlalu sering diucapkan saatnya yang muda yang memimpin, tetapi hanya sebuah kalimat abstrak. Sudah saatnya secara konkret yang muda seperti AHY  diberikan kesempatan untuk memimpin. Lawan politik yang terus berucap pentingnya pengalaman dan umur muda belum matang merupakan opini-opini dan sikap ketakutan akan hadirnya sosok muda cemerlang seperti AHY. Apakah yang terus mencibir negatif telah bisa menyamakan prestasi AHY atau bahkan melampaui torehan prestasinya?

Di era modern ini kita menghadapi perang ekonomi. Perang pembangunan. Berkompetisi dengan negara lain. Tentu tidak melupakan pentingnya menjaga kedaulatan dan martabat bangsa. Kita bangga punya AHY, sosok pemuda cemerlang berlatar belakang militer dan level kecerdasan memahami perekonomian yang tinggi sehingga pantas memimpin negeri di masa depan. Torehan berbagai catatan prestasi militer dan akademis dari berbagai universitas ternama tidak dapat terbantahkan. Kombinasi talenta yang super.

Jangan berkoar kita bangsa yang besar jika tidak berhati besar menerima kenyataan dan perubahan bahwa saatnya yang muda yang memimpin. Sejarah mencatat, bangsa ini merdeka karena semangat dan militansi dari pemuda pemudi. Sejarah mencatat pula pergantian rezim dimotori gerakan gerakan dari kaum muda yang nasionalis dan patriotik.

Seperti Bung Karno berkata: “Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”

Marilah bersatu dan maju untuk membangun dan siap menerima perubahan. Saatnya yang muda menerima tongkat estafet amanah untuk memimpin.

Jika bangsa lain bisa mengapa kita tidak berani?

Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 72. Saatnya berpikir merdeka. Think outside the box.

#GiveChangeAChance. We are ready!

*)Pengurus Divisi Hubungan Luar Negeri DPP Partai Demokrat